by

Dwi Indah Lestari, S.TP*: Otak-Atik Definisi Kematian Covid-19, Buat Apa?

-Opini-31 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Otak-atik gathuk”. Begitulah istilah Jawa menggambarkan upaya untuk mecoba-coba sesuatu supaya sesuai dengan apa yang diinginkan. Hal ini berhubungan dengan wacana yang dikeluarkan pemerintah untuk melakukan perubahan definisi kematian akibat covid-19. Meski kemudian pemerintah menjelaskan bahwa bukan definisinya yang dirubah namun menambahkan detail pada definisi kasus kematian akibat covid-19.

Meski begitu, hal ini tetap tidak mengubah kenyataan bahwa kondisi pandemi covid-19 di Indonesia belumlah mereda. Bahkan hingga saat ini penambahan kasus positif covid menunjukkan peningkatan jumlah yang tinggi. Per tanggal 30 September 2020, jumlah positif covid bertambah 4284 kasus, sehingga total menjadi 287.008 kasus. Sementara angka kematian mencapai 10.740 orang, dan kesembuhan 214.947 orang (kompas.com, 30 September 2020)

Upaya Setengah Hati

Kondisi pandemi yang belum juga menunjukkan akan berakhir, menuai berbagai kritik terhadap upaya penanggulangan wabah yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Langkah yang diambil pemerintah dinilai belum memberikan hasil nyata. Hal ini membuat banyak orang mempertanyakan keseriusan pemerintah untuk mengakhiri badai pandemi.

Pemerintah sendiri seolah ingin membela diri, bahwa selama ini telah melakukan usaha yang maksimal. Bahkan menunjukkan data-data menggembirakan seputar perkembangan covid di Indonesia. Misalnya saja, Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa jumlah kasus aktif covid di Indonesia lebih rendah daripada dunia, yaitu 22,9 persen, sementara dunia mencapai 23,16 persen (okezone.com, 24 September 2020). Sementara itu Presiden Joko Widodo nampak menonjolkan angka kesembuhan pasien covid-19 yang mencapai 73,25 persen per tanggal 25 September lalu (okezone.com, 26 September 2020).

Meskipun dengan paparan data tersebut seakan-akan kondisi Indonesia baik-baik saja, tetapi sebenarnya hanya mengaburkan fakta sebenarnya yang terjadi di dalam negeri. Tren penyebaran virus corona di Indonesia terus menanjak naik. Angka penambahan kasus akhir-akhir ini selalu mencapai 4000 kasus lebih. Angka kematianpun terus bertambah.

Ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya sedang menuju krisis kesehatan yang parah. Berbagai langkah yang ditempuh selama ini belum mampu membuat penyebaran virus melambat. Penanganan yang setengah hati dan tidak tegas alias plin-plan, inilah sebenarnya yang menyebabkan pandemi seakan enggan beranjak dari tanah air.

Sejak awal kasus corona merebak di dunia, para pejabat negara banyak yang justru melontarkan ungkapan meremehkan, bahkan termasuk pernyataan yang dikeluarkan oleh Menkes.

Sehingga berakibat pengabaian langkah antisipasi agar virus tidak masuk ke Indonesia. Sementara negara lain mulai menutup perbatasannya, Indonesia justru membuka dan membiarkan masuk WNA asal China.

Begitu juga saat kasus pertama covid terdeteksi, pemerintah malah tidak segera mengambil tindakan lockdown. Alasan ekonomi menjadi pertimbangan. Namun dampaknya menjadi luar biasa parah. Virus akhirnya menyebar ke wilayah lain. Bahkan kini semakin sulit untuk dikendalikan. Dan ekonomi juga mendapatkan imbasnya, terpuruk.

Kebijakan PSBB yang akhirnya kemudian diambilpun tiba-tiba dimentahkan dengan diluncurkannya New Normal Life. Padahal PSBB baru berjalan dan curva covid belum menampakkan akan landau. Hasilnya Indonesia kembali panen kasus covid dan hingga kini jumlahnya terus meroket.

Gelaran operasi yustisi yang kini marak dilakukan seakan tidak cukup manjur untuk menekan jumlah kasus yang terus bermunculan beriringan dengan lahirnya berbagai klaster penyumbang positif covid.

Memang bisa jadi kesadaran rakyatpun kurang dalam mematuhi protokol kesehatan, namun peran pemerintah yang kurang dalam mengedukasi dan memperhatikan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat turut berkontribusi.

Dan kini, pemerintah seperti berjuang dengan segala cara untuk bisa membuat angka kematian akibat covid-19 menurun. Namun alih-alih mengevaluasi strategi penanganan wabah yang telah dilakukan, pemerintah justru hanya bergerak dalam tataran pragmatis.

Hal ini semakin menunjukkan negara tidak berhasil menuntaskan wabah. Sejak awal hingga kini pertimbangan ekonomilah yang selalu menjadi ukuran bagi pemerintah. Padahal dalam krisis kesehatan saat ini, seharusnya keselamatan jiwa rakyatlah yang menjadi prioritas, bukan untung rugi.

Islam Menuntaskan Wabah, Menyelamatkan Jiwa

Sesungguhnya, rakyat tidak membutuhkan definisi ulang dari kematian akibat covid. Baik kematian akibat murni karena covid atau karena adanya kormobid dan sebab pengiring yang lain, tidak bisa menutupi kenyataan bahwa pandemi ini berbahaya dan telah merenggut banyak nyawa rakyat. Pemerintah semestinya fokus menekan penyebaran dan pertambahan kasus positif.

Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Islam dalam penanganan pandemi. Islam menjadikan keselamatan jiwa rakyat sebagai hal utama yang harus diurus. Negara akan mengambil langkah-langkah nyata, cepat dan terarah, berdasarkan syariat untuk segera menuntaskannya.

Strategi yang diambil dalam Islam adalah sebagai berikut; pertama, mengambil kebijakan karantina wilayah, yang membatasi keluar masuknya orang dari dan ke wilayah yang terdampak wabah. Kebijakan ini kemudian dilanjutkan dengan membatasi interaksi antar manusia atau yang kini dikenal dengan physical distancing.

Kedua, negara juga melakukan upaya memisahkan orang yang sakit dari yang sehat dengan melakukan tes dan menyisir siapa saja yang kemungkinan tertular.

Mereka yang terindikasi positif sakit, dirawat di tempat-tempat isolasi yang letaknya jauh dari pemukiman dengan pelayanan kesehatan terbaik dan dijamin oleh negara hingga sembuh. Sementara itu mereka yang sehat diperbolehkan beraktivitas seperti biasa.

Ketiga, negara memberikan jaminan pemenuhan seluruh kebutuhan pokok rakyatnya. Negara memasok bahan-bahan makanan dan membolehkan setiap orang yang membutuhkan untuk mengambilnya.

Bahkan yang tidak bisa datang akan diantarkan ke rumah masing-masing. Dengan begitu rakyat tidak akan khawatir akan keperluannya sehari-hari dan bisa fokus mengarahkan energinya untuk bersinergi dengan negara menuntaskan wabah.

Keempat, negara perlu mengedukasi dan terus mengingatkan rakyat agar hidup bersih supaya kesehatan mereka dapat terjaga. Selain itu juga mengajak rakyat untuk menjadikan kondisi pandemi sebagai momen untuk bertobat dan semakin mendekatkan diri pada Allah Swt.

Informasi seputar wabah, seperti jumlah orang yang sakit dan yang meninggal akan didokumentasikan dan disampaikan secara jujur dan terbuka. Tujuannya agar perkembangan wabah terus terpantau, sekaligus menjadi data yang diperlukan negara untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja dalam penanganan wabah.

Dengan langkah cepat dan serius tersebut, wabah akan bisa dituntaskan. Rakyat kembali dapat beraktivitas seperti semula. Perekonomian yang sempat menurun akibat pandemi dapat pulih kembali.

Begitulah ketika syari’at Islam diterapkan. Ia akan mampu menyelesaikan persoalan manusia dengan solusi tuntas dan manusiawi. Karena dalam Islam, kemaslahatan umat adalah hal yang harus diutamakan. Wallahu’alam bisshowab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × two =

Rekomendasi Berita