by

Dwi Rahayuningsih: Ketika Demokrasi Tak Lagi Jadi Solusi

Dwi Rahayuningsih, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Demokrasi harga mati! Demokrasi sistem yang sudah final!” Seringkali ungkapan seperti ini terdengar kala diskusi menengnai permasalahan umat yang kian hari kian memprihatinkan. Pengangguran meningkat, kemiskinan meroket tajam, kriminalitas menjamur, generasi pecandu dan penikmat pornografi juga makin tak terkendali. 
Akankah demokrasi yang dianggap sistem paling sempurna dan sudah final itu mampu menyelesaikan segala permasalahan tersebut? 
Demokrasi Untuk Siapa?
Hampir delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Harusnya perubahan lebih baik sudah dirasakan oleh bangsa ini. Namun faktanya berbagai masalah muncul dan tidak terselesaikan oleh demokrasi. Demokrasi yang memiliki jargon “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”, nyatanya tidak mampu memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang muncul.
Ketika BBM naik yang diikuti naiknya harga kebutuhan pokok, demokrasi tidak memberikan solusi apapun agar kenaikan BBM tidak berimbas pada kehidupan rakyat. Ketika angka pengangguran makin meningkat, demokrasi tidak pula memberikan lapangan kerja terhadap rakyat untuk mengurangi angka pengangguran tersebut. Sebaliknya, lapangan pekerjaan diberikan kepada “rakyat asing” seluas-luasnya tanpa memandang rakyat sendiri.
Rakyat dibiarkan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu untuk siapakah demokrasi sebenarnya? Jika tidak ada perubahan yang nyata, untuk apa masih berharap pada demokrasi yang jelas-jelas sudah menceburkan rakyat ke jurang paling dalam berupa penderitaan dan kemiskinan.
Demokrasi hanya akan menyuburkan para pejabat dan pengusaha korup. Serta memberikan ruang yang lebar bagi para pelaku maksiat dan penikmat aliran sesat. Bukan memberi solusi, malah menambah masalah. Begitu banyak permasalahan yang dihadapi negeri ini. Namun demokrasi yang diajanjikan sebagai sistem terbaik untuk negeri ini, nyatanya hanya isapan jempol semata.
Demokrasi hanya dinikmati oleh segelintir orang. Berharap pada demokrasi, ibarat menanti hujan dimusim kemarau. Karena demokrasi sengaja di design untuk kelompok tertentu. Dia lahir dari Rahim kapitalis-sekuler yang bertentangan dengan fitrah manusia. Mengagungkan kebebasan yang jelas bertentangan dengan aturan yang berasal dari Sang Maha Pengatur. 
Islam Solusi Sempurna
Islam sebagai agama yang sempurna, yang berasal dari Allah Sang pencipta manusia dan alam semesta. Memberikan solusi terhadap segala permasalahan manusia. Mulai dari urusan individu, masyarakat maupun Negara. 
Urusan individu, mengatur masalah aqidah, ibadah, dan akhlak. Urusan masyarakat mengatur masalah muamalah. Sedangkan urusan Negara mengatur masalah ekonomi, politik, hukum, dan sanksi. Tak ada sedikitpun permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan Islam. Karena Allah telah memberikan separangkat aturan yang jelas. Memberikan pedoman hidup yang akan membawa kepada ketenteraman dan keselamatan hidup, di dunia dan di akherat.
Pesan Rasulullah pada saat Haji Wada’ adalah:
“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Yaitu Alquran dan Sunnah.” (HR. Malik)
Bukti nyata bahwa Islam mampu memberikan solusi atas segala problematika umat adalah, pada saat diterapkannya sistem Islam dalam kurun waktu 13 abad lamanya. Mulai dari penerapan Islam di Madinah oleh Rasulullah, digantikan oleh para Khulafa’ Ar-rasyiddin, dilanjutkan oleh khalifah-khalifah berikutnya hingga berakhir pada kekhilafahan Turki Ustmani.
Pada masa itu Islam mengalami kejayaan. Hidup berkecukupan. Tingkat kriminalitas menurun drastis. Kemiskinan hampir tidak ada. Bahkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat. Dunia Pendidikan juga maju. Terbukti pada masa itu, Islam telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan cerdas sekaligus ulama yang ilmunya masih bisa kita manfaatkan hingga kini. 
Bukti lain bisa dilihat dari peninggalan-peninggalan Islam di berbagai Negara. Untuk itu, saatnya kembali kepada Islam. Menerapkan hukum syariat sesuai dengan manhaj Rasulullah. Demokrasi terbukti telah gagal menyejahterakan rakyat. Gagal menyatukan umat. Gagal dalam segala bidang. Kegagalan demokrasi tidak perlu dilanjutkan agar penderitaan rakyat tidak berkepanjangan. Saatnya kembali kepada fitrah Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Dwi Rahayuningsih adalah Praktisi Pendidikan dan Anggota Revowriter
                 

  

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + four =

Rekomendasi Berita