by

Eno Fadli*: Pendidikan Kapitalis Membuat Hati Miris

-Opini-81 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia pendidikan kembali berduka. Seorang siswi kelas tiga SMA di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten di kabarkan meninggal dunia karena depresi dan kondisi kesehatannya yang drop, diduga akibat terlalu banyak tugas daring selama pandemi Covid-19.

Dilansir, Bantennews.co.id (Jaringan suara.Com), bahwa dari informasi, korban sebelum meninggal pada kamis (12/11), sempat dirawat di rumah sakit jiwa (RSJ) Grogol Jakarta Barat selama beberapa hari, dan dinyatakan secara medis terganggu psikologisnya.

Semenjak pandemi proses belajar mengajar dilakukan dengan cara daring, dikarenakan kekhawatiran akan penyebaran virus Covid-19. Siswa diberikan materi pembelajaran secara online dan seringkali materi yang diberikan terlalu banyak, dan terjadi penumpukan tugas dikarenakan guru bidang studi memberikan tugas yang membutuhkan waktu lebih dari 1 jam untuk mengerjakannya.

Tidak hanya itu, pemerintah baru-baru ini berencana akan menerapkan asesmen nasional. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, program ini diberlakukan untuk peningkatan sistem evaluasi pendidikan dengan melakukan pemetaan sistem pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah, yang terdiri dari tiga bagian, yaitu asesmen kompetensi minimum (AKM), survey karakter, dan survey lingkungan.

Tuntutan pencapaian secara akademis dan tidak adanya pembimbingan langsung inilah yang dinilai membuat siswa mengalami depresi, karena disebabkan adanya beban mental tersendiri. Tekanan pencapaian nilai secara akademis membuat pelajar seringkali mengalami kelelahan, stres dan berujung depresi sampai-sampai kadang menghantarkan pada kematian.

Masalah-masalah yang kerap terjadi di dunia pendidikan bagaikan kemelut yang tidak pernah usai. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kurikulum yang diberlakukan, yang selalu berorientasi pada nilai pencapaian akademis bahkan menitik beratkan pada materi ajar yang menyebabkan siswa nantinya bisa memberikan manfaat secara materil.

Tujuan pendidikan yang mendasar, untuk menciptakan anak didik yang berkarakter, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa tidak lagi tersentuh, karena prakteknya melenceng dari tujuan tersebut.

Sistem kapitalis yang dipegang erat negeri ini menjadikan pendidikan pun mengarah pada kapitalis sekuler. Dimana kapitalis selalu bertumpu pada asas manfaat secara materi.

Berbeda dengan pendidikan dalam Islam. Pendidikan dalam Islam membentuk kepribadian Islam pada anak didiknya, dengan membentuk pola dan tingkah lakunya berdasarkan akidah Islam, sehingga menghasilkan anak didik yang berkarakter, beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia.

Pembentukan kepribadian Islam ini dilakukan pada semua jenjang pendidikan sesuai dengan tingkat usianya melalui berbagai pendekatan. Penguasaan ilmu kehidupan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan untuk mengarungi kehidupan agar mereka nantinya dapat berinteraksi dengan lingkungan, dan dapat mengembangkan pengetahuan dengan menggunakan alat-alat dan dapat berinovasi.

Pendidikan dalam sistem Islam juga menyiapkan anak didik memasuki jenjang pendidikan berikutnya, dengan memastikan mereka mampu menguasai pelajaran yang diberikan. Pada jenjang perguruan tinggi, ilmu yang didapat bisa dikembangkan sampai tingkatan pakar dalam berbagai bidang keahlian.

Mekanisme seperti inilah yang dibutuhkan anak didik. Mekanisme pendidikan yang membentuk karakter anak sehingga mereka mempunyai kesiapan mental yang kuat, berakhlak dan berperilaku mulia yang disandarkan pada ketakwaan pada Allah SWT, serta menyiapkan mereka untuk bisa mengarungi kehidupan dengan bekal pendidikan mereka dapat, sehingga tidak akan lagi didapati siswa yang depresi bahkan terkadang berujung pada kematian.Wallahu ‘alam bishshwab.[]

 

*Pengamat kebijakan publik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − ten =

Rekomendasi Berita