by

Esensi Qurban, Menepis Ilah Membangun Kepedulian 

-Opini-47 views

 

Oleh: Furqon Bunyamin Husein, Pemred Radar Indonesia News

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hari ini, bertepatan dengan 10 Juli 2022, kita merayakan Iedul Adha setelah sebelumnya Iedul Fithri 1443H. Alhamdu lillah bahwa kita masih diberi kesempatan untuk merayakan di tahun ini.

Sungguh, apa yang telah Nabi Ibrahim AS lakukan terhadap putranya, Ismail AS itu menjadi contoh yang luar biasa dan agung. Sebuah pergumulan antara yang haq dan bathil, antara perintah Allah dan bisikan syetan.

Sebuah kebesaran jiwa yang penuh keimanan semata kepada Allah, telah dibuktikan Ibrahim dengan melaksanakan perintah Allah SWT dengan menyembelih anak yang sangat disayang dan diharapkan saat usianya yang telah apkir. Tidak akan ada manusia yang sanggup menjalani perintah ini kecuali Ibrahim AS.

Doa panjang Ibrahim dilakukan untuk mendapatkan anak namun saat lahir anak yang diharapkan tersebut, Allah memerintahkan Ibrahim menyembelihnya. Betapa pilihan yang sangat berat bagi Ibrahim.

Ibrahim pun mendiskusikan perintah Allah tersebut kepada anak yang dicintainya, Ismail AS. Di luar dugaan Ibrahim, anaknya justru menyetujui perintah Allah tersebut. Hal ini tentu menambah gundah perasaan seorang ayah bila dilihat dari sisi kemanusiaan. Pergumulan antara yang haq (perintah Allah) dan bathil (bisikan nafsu) semakin berkecamuk dalam diri Ibrahim AS.

Namun karena ketaqwaan yang bulat, Ibrahim berhasil menepis pergumulan yang berkecamuk dibarengi rasa gundah berasal dari bisikan syetan terkutuk tersebut. Ibrahim AS pun tanpa ragu membawa putra yang dicintainya ke pelataran untuk disembelih. Apapun alasannya, Ibrahim tidak mau menolak perintah Allah meskipun harus menyembelih putranya itu.

Perintah ini merupakan ujian keimanan Ibrahim AS, apakah kecintaannya kepada manusia atau materi melebihi cintanya kepada Allah.

Perasaan ini berkecamuk di dalam hati Ibrahim. Mana yang lebih dituruti, perintah Allah atau bisikan syetan sebagaimana yang terjadi terhadap Adam AS saat berada di Syurga.

Ibrahim dengan keyakinannya, mampu menepis bisikan syetan dan lebih mendahulukan perintah Allah sebagai perwujudan bahwa tidak ada ilah kecuali Allah. Ilah adalah sesuatu yang diagungi, dicintai, dihormati, ditakuti dan diibadahi selain Allah.

Ibrahim berhasil menepikan nilai nilai ilah terhadap materialisme dan mendahulukan keimanannya kepada Allah semata. Bagi Ibrahim AS, putranya, Ismail AS bisa menjadi ilah tandingan selain Allah.

Dengan kebesaran dan kekuatan iman, Ibrahim AS pun ikhlas menyembelih putranya tanpa alasan dan pertimbangan lain. Prinsip dan keimanan Ibrahim, Laa ilaah illaa Allah tidak tergoyahkan.

Dalam konteks kemanusiaan, perintah ini tentu bisa ditafsirkan sebagai perintah yang tidak masuk akal dan seakan bertentangan dengan nilai nilai Islam apalagi dari sisi kemanusiaan.

Sungguh Allah Mahapengasih dan penyayang. Tidaklah mungkin Allah memerintahkan Ibrahim memotong atau menyembelih anak yang dirindukan kehadirannya saat usianya yang telah menua itu. Allah hanya ingin mengukur ketaatan dan keimanan belaka.

Oleh Karena itulah, saat Ibrahim yang sami’na wa atho’na terhadap perintahNya dan meletakan pisau di leher putranya, sekejap Allah gantikan dengan seekor kambing. Allah hanya ingin menguji keimanan Ibrahim AS dan bukan untuk menyembelih putranya, Ismail dalam arti sesungguhnya.

Lalu apa sesungguhnya esensi yang dapat kita ambil sebagai ibrah dari peristiwa ini?

Kata qurban berasal dari kata qaraba, yaqrobu, qurbaanan yang berarti mendekat kepada Allah SWT dan menepis ilaah lain selain Allah.

Mendekat di sini memiliki makna khusus yakni mentaati perintah Allah tanpa reserve dan pertimbangan rasional kita yang terbatas apalagi menjadikan sesuatu menjadi ilaah selain Allah.

Peristiwa Qurban menjadi sebuah tonggak dan perwujudan kemenangan Ibrahim AS melawan bisikan nafsu dan kecintaan terhadap manusia. Ibrahim AS keluar sebagai pemenang dengan panji keimanannya kepada Allah.

Ketahuilah bahwa selain anak, jabatan, harta dan wanita juga bisa menjadi ilaah tanpa kita sadari.

Ibadah Qurban Mengajarkan nilai kepedulian

Hakikat Qurban yang telah dicontohkan Ibrahim AS ini memiliki dampak positif bagi masyarakat. Dari daging Qurban yang dibagikan kepada masyarakat itu terjadi sebuah hubungan harmonis antara si kaya dan si miskin di dalam sebuah tempat atau wilayah.

Hal ini tentu dapat menjadi wasilah membangun silaturahim baik secara ruhiyah maupun lahiriyah dan memberi dampak ikatan dan ketenangan sosial yang sangat baik di dalam sebuah komunitas.

Ibadah Qurban mengajarkan umat Islam tentang sebuah kepedulian terhadap manusia. Peduli dengan kesulitan dan musibah yang dialami manusia tanpa melihat latar belakang suku, ras, agama, partai dan kebangsaan. Islam harus tampil dan memerankan fungsi sosialnya sebagai rahmatan lil alamin.

Oleh karena itulah, bagi Umat Islam yang belum memiliki kesempatan berqurban dengan seekor unta, kambing, kerbau ataupun sapi, jangan berkecil hati. Kepedulian karena Allah dengan membantu masyarakat yang kesulitan atau terkena musibah niscaya Allah catat sebagai bagian dari Qurban dalam konteks pendekatan dan taqwa kepadaNya.

Dengan momentum Qurban inilah umat islam dituntut meniadakan ilah selain Allah dan mampu mewujidkan kepedulian kepada sesama manusia. Allahu a’lam bisshowab.[]

Comment