Flotilla Memanggil, Dunia Tetap Tak Bergeming

Opini1498 Views

Penulis: Zahrotun Nurul, S.Pd. | Praktisi Pendidikan

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perjalanan Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza kembali menghadapi penghadangan. Di perairan internasional dekat Laut Kreta, Yunani, pasukan Israel menghadang kapal-kapal GSF pada akhir April 2026. Sejumlah aktivis dari berbagai negara dilaporkan ditahan dalam operasi tersebut.

Sebagaimana ditulis Totalpolitik.com (6/5/2026), dua aktivis yakni Saif Abu Kishk asal Spanyol/Palestina dan Thiago Avila dari Brasil masih berada dalam tahanan hingga 9 Mei 2026. Mereka dikabarkan mengalami tekanan fisik maupun psikologis selama penahanan.

Berbagai unggahan di media sosial juga memperlihatkan kondisi memprihatinkan yang dialami para aktivis tersebut. Bahkan, ibu dari keduanya disebut meninggal dunia ketika mereka masih berada dalam tahanan. GSF pun mengecam keras tindakan Israel tersebut.

Ironisnya, dunia internasional kembali terlihat bungkam. Padahal para aktivis GSF berasal dari sedikitnya 12 negara merdeka yang datang membawa misi kemanusiaan, bukan agenda militer. Mereka adalah orang-orang yang memilih bertindak ketika genosida di Gaza terus berlangsung di depan mata dunia.

Namun hingga kini, Israel tetap menunjukkan sikap seolah kebal hukum internasional. Pembajakan kapal, penahanan aktivis, hingga dugaan penyiksaan terus terjadi tanpa langkah tegas dari komunitas global. Israel bertindak layaknya pihak yang merasa tak tersentuh hukum, meski berbagai kecaman terus disuarakan.

Tidak hanya di Gaza, tekanan juga terus terjadi di Tepi Barat. Israel dituduh membatasi aktivitas pendidikan anak-anak Palestina, merampas rumah warga, serta memperluas cengkeraman militernya di wilayah tersebut. Dunia menyaksikan semua itu melalui layar media, tetapi respons nyata yang mampu menghentikan agresi belum juga terlihat.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keberpihakan dunia terhadap nilai hak asasi manusia. Ketika berbagai pelanggaran dipertontonkan secara terbuka, respons internasional justru lebih banyak berhenti pada kecaman diplomatik dan bantuan kemanusiaan yang terbatas.

Di sisi lain, lebih dari dua miliar umat Islam di dunia juga dinilai belum mampu menghadirkan kekuatan politik yang benar-benar efektif untuk menghentikan penjajahan di Palestina. Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan logistik dan simpati moral, tetapi juga perlindungan nyata yang mampu menghentikan agresi dan mengembalikan hak rakyatnya atas tanah sendiri.

Bagi sebagian umat Islam, sosok seperti Salahuddin Al-Ayyubi menjadi simbol kepemimpinan yang dirindukan. Kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan kaum muslimin dan membebaskan Al-Quds dari penjajahan.

Dalam pandangan Islam, persatuan umat di bawah kepemimpinan yang kuat dipandang sebagai benteng perlindungan bagi kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, sebagian kalangan meyakini bahwa penjajahan Israel tidak akan mampu dihentikan selama negeri-negeri muslim masih terpecah dan berjalan sendiri-sendiri. Persatuan politik, ekonomi, serta kekuatan militer umat dianggap menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadirkan posisi tawar yang kuat di hadapan dunia.

Sejarah juga mencatat, Palestina mulai lepas dari kekuasaan Islam setelah melemahnya Khilafah Utsmaniyah dan runtuhnya kekhalifahan pada 1924. Sebagaimana diketahui, Deklarasi Balfour menjadi salah satu titik penting yang membuka jalan bagi pendudukan Yahudi di Palestina.

Ketika umat Islam terpecah dalam batas-batas negara bangsa (nation state), solidaritas politik umat dinilai semakin melemah. Negeri-negeri muslim lebih sibuk mengurus stabilitas domestik masing-masing sehingga tidak memiliki kekuatan kolektif untuk melindungi Palestina secara nyata.

Karena itu, persatuan umat Islam kembali dipandang sebagai jalan untuk meraih kemuliaan dan membela tanah suci Palestina. Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab, “Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Ketika kita mencari kemuliaan bukan dengan Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”

Bagi banyak kaum muslimin, kemuliaan itu diyakini akan kembali hadir ketika umat berpegang teguh pada ajaran Islam, menerapkannya secara menyeluruh dalam kehidupan, serta bersatu dalam satu kepemimpinan yang kuat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya. WaAllahu’alam.[]

Comment