by

Furqon Bunyamin Husein: Karangan Bunga Itu Tidak Berbau Harum Tapi Berbau Politis

Furqon Bunyamin Husein
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Saat muncul ribuan  karangan bunga di Balai Kota DKI Jakarta di mana Ahok berkantor, saya berpositif thinking saja dengan semerbak bau bunga yang dibalut ucapan dari para pendukung yang tetap bersimpati atas kekalahan jagoan mereka di pilkada DKI 2017. Karangan bunga itu hanya sebatas dukungan agar jagoan yang kalah bertarung tetap berbesar hati dengan kekalahan yang dihadapi.
Namun saat karangan bunga itu membanjiri Mabes Polri dan Istana Negara sejak Rabu (3/5), ada yang menggelitik untuk diketahui motif pengiriman karangan bunga tersebut. Tidak tanggung-tanggung dan lucu tentunya, ada satu perusahaan yang mengirim 110 karangan bunga. Untuk apa? Masih tidak terima kekalahan? Sementara masih banyak warga yang sulit membiayai hidup mereka.
Kalah menang dalam sebuah pertandingan dan lomba adalah hal wajar. Tidak perlu disikapi dengan berlebihan. Mereka yang kalah tidak perlu berkecil hati dan yang menang tidak perlu berbangga diri dengan pesta – pesta mubazir. Karena menang yang sesungguhnya adalah saat kita berguna bagi orang banyak baik dalam sempit maupun lapang dengan berbagi dan berempati kepada mereka secara bermoral.
Kekalahan yang wajar harus diterima dengan lapang dada sambil memeriksa kembali kekeliruan langkah dan strategi yang menjadi faktor penyebab kekalahan itu. Ini jauh lebih baik daripada menebar Karanagan Bunga dengan tulisan yang tidak menyejukkan.
Di antara karangan bunga yang dikirim ke Mabes Polri itu bertuliskan pesan: “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.” dan ada juga yang berbunyi, “Dukung TNI dan Polri Melawan Radikalisme, Menegakkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.” Terdapat juga karangan bunga yang bertuliskan, “Mohon Hakim Membebaskan Pak Ahok. Pak Ahok Tidak Bersalah. Pak Ahok Tidak Menista Agama.” dll.
Mengalirnya karangan bunga dari Balai Kota ke Mabes Polri dan Istana negara menjadi sebuah pertanda bagi publik bahwa karangan bunga tersebut memiliki arah dan tujuan politis setelah kekalahan kubu Ahok di Pilkada putaran ke dua.
Pesan -pesan tertulis di karangan bunga itu memperjelas ketidak puasan Ahokers terhadap kemenangan Anies Sandi menjadi orang nomer satu di DKI Jakarta yang didukung oleh banyak kalangan. Meski mayoritas para pemilih Anies Sandi adalah muslim namun tidak sedikit kalangan non muslim yang memihak dan mendukung karena kesantunan cagub dan cawagub tersebut. Kalangan Tionghoa seperti Mr. Kan, Lieus Sungkarisma dll bahkan cukup besar pengaruhnya dalam kemenangan Anies Sandi.
Kalaulah demikian, ke manakah arah pesan yang ditulis dalam salah satu karangan bunga yang berbunyi,” Dukung TNI dan Polri Melawan Radikalisme, Menegakkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.” itu?
Sangat naif sekali bila kemenagnan Anies Sandi dikaitkan dengan dukungan mereka yang radikal, anti pancasila dan tidak memahami makna Bhinneka Tunggal Ika. Kekalahan Ahok bukan karena pertempuran dua agama tetapi karena perilaku dan sikap arogansi Ahok yang menggusur tempat tinggal warga DKI dengan sewenang-wenang dan pelanggaran hukum kkhususnya KUHP Pasal 156a dan 156. 
Ahok telah memberi warna gelap bagi kedamaian hubungan antar agama yang telah lama terbangun di negeri ini. Masyarakat hanya ingin keluar dari kegelapan akibat kebijakan Ahok dan perilakunya yang tidak mengedepankan nilai dan budaya bangsa Indonesia. Gubernur sebelumnya juga melakukan hal yang sama tetapi masih bisa diterima karena menempuh dan menghargai peraturan dan moral.
TNI dan Polri secara lembaga harus cermat membaca situasi dan tidak terprovokasi dengan pesan dan dukungan melalui karangan bunga tersebut. TNI dan Polri secara institusi dan tidak personal tentunya, masih dapat melihat secara jernih mana yang wajar dan mana yang tidak wajar. TNI/Polri harus memahami bahwa dalam konteks politik ada istilah, “Lempar Batu Sembunyi Tangan”. Polri harus waspada dengan kepentingan pribadi yang akan merusak lembaga ini.
Jaga kebhinnekaan ini dengan kesadaran tinggi bahwa kesatuan antara rakyat dan TNI/Polri menjadi dasar kuatnya NKRI. Oleh karena itu waspadalah dengan Karangan Bunga yang tidak harum itu dan justeru berbau politis.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + four =

Rekomendasi Berita