Gema Al-Qur’an Mengiringi Wisuda Harvard, Bachtiar Nasir: Simbol Islam dan Ilmu Pengetahuan Berjalan Seiring

Nasional44 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dalam rangkaian seremoni kelulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat, menarik perhatian umat Islam di berbagai belahan dunia. Momen tersebut dinilai menjadi simbol semakin diterimanya identitas Islam di ruang-ruang akademik global.

Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), KH Bachtiar Nasir, mengatakan pembacaan Al-Qur’an di salah satu kampus paling prestisius di dunia itu bukan sekadar bagian dari seremoni, melainkan mencerminkan perubahan sosial yang sedang berlangsung di negara-negara Barat.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan dan kecemerlangan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan,” kata Bachtiar Nasir dalam artikelnya yang diterbitkan Selasa, 3 Juni 2026.

Menurut dia, Harvard selama ini dikenal sebagai representasi kemajuan pendidikan Barat yang dibangun di atas tradisi rasionalitas, kebebasan berpikir, dan sistem yang relatif sekuler. Karena itu, kehadiran bacaan Al-Qur’an dalam forum resmi kampus tersebut memiliki makna yang kuat bagi banyak kalangan Muslim.

Bachtiar menilai perkembangan itu tidak terjadi secara instan. Selama beberapa dekade terakhir, komunitas Muslim di Barat dinilai berhasil membangun citra positif melalui pendidikan, pengabdian sosial, dan dialog lintas budaya.

“Mereka hadir bukan hanya membawa identitas keagamaan, tetapi juga menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi dunia modern yang dihadapkan pada berbagai persoalan sosial dan psikologis, mulai dari meningkatnya masalah kesehatan mental, kesepian, kecemasan, hingga krisis makna hidup, terutama di kalangan generasi muda.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, kata Bachtiar, banyak orang mulai menyadari pentingnya fondasi spiritual sebagai penyeimbang kehidupan. Menurut dia, agama kembali menemukan relevansinya karena manusia tidak hanya membutuhkan kemajuan material, tetapi juga ketenangan batin dan tujuan hidup yang jelas.

“Islam menawarkan keseimbangan antara akal dan wahyu, antara ilmu dan moralitas, serta antara kehidupan dunia dan akhirat,” katanya.

Bachtiar menjelaskan, ketertarikan terhadap Islam di kalangan mahasiswa dan akademisi dunia juga didorong oleh kekayaan tradisi intelektual Islam serta kontribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ia mengingatkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat kemajuan sains dan riset dunia melalui kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, dan Cordoba.

Karena itu, ia menilai gema Al-Qur’an di lingkungan akademik seperti Harvard dapat menjadi pengingat akan hubungan erat antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Terlebih, ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah “Iqra” atau “Bacalah”.

Meski demikian, Bachtiar mengingatkan agar peristiwa tersebut tidak dipandang sebagai simbol kemenangan suatu peradaban atas peradaban lain.

“Yang lebih penting adalah mengambil hikmah bahwa nilai-nilai Islam dapat diterima secara universal ketika disampaikan melalui keteladanan, kecerdasan, dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebanggaan atas pembacaan Al-Qur’an di kampus ternama dunia seharusnya menjadi motivasi bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat riset, dan membangun institusi akademik yang mampu bersaing di tingkat global.

“Tantangan terbesar bukan bagaimana Islam diterima di kampus-kampus Barat, melainkan bagaimana umat Islam mampu membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang maju di negeri-negeri mereka sendiri,” kata Bachtiar.

Menurut dia, kebangkitan peradaban tidak lahir dari simbol semata, melainkan dari kerja keras, inovasi, integritas, serta komitmen terhadap pendidikan yang berkualitas.

Ia berharap peristiwa tersebut dapat menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernitas, manusia tetap membutuhkan petunjuk ilahi sebagai penuntun kehidupan.

“Selama umat Islam mampu menghadirkan akhlak yang mulia, ilmu yang bermanfaat, serta kontribusi nyata bagi kemanusiaan, cahaya Al-Qur’an akan terus menemukan jalannya menuju hati manusia di seluruh penjuru dunia,” ujar Bachtiar.[]

 

Sumber: Artikel KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum DPP JATTI, 3 Juni 2026

Comment