Generasi Emas Antara Cita-Cita dan Ilusi

Opini29 Views

Penulis: Mia Puspitasari, S.T. | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Peringatan Hari Anak Nasional yang baru saja berlalu kembali mengingatkan bangsa ini tentang pentingnya menyiapkan generasi masa depan.

Di tengah berbagai narasi tentang cita-cita Indonesia Emas 2045, muncul pertanyaan mendasar: apakah bangsa ini benar-benar telah menyiapkan fondasi yang kuat untuk melahirkan generasi unggul, ataukah cita-cita tersebut masih sebatas ilusi?

Masih teringat janji kampanye Presiden dan Wakil Presiden, sebagaimana dilansir Kompas pada 20 Oktober 2024, yang menegaskan bahwa salah satu fokus visi, misi, dan program pemerintah adalah mewujudkan Generasi Emas 2045 melalui visi “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”.

Visi tersebut kemudian dijabarkan dalam delapan misi yang menjadi pedoman pembangunan nasional.

Jika target Generasi Emas itu diwujudkan pada 2045, maka kelompok usia produktif saat itu sebagian besar akan berasal dari Generasi Z (lahir 1997–2012) dan Generasi Alpha (lahir 2013–2024). Mereka adalah generasi yang kelak akan menjadi penggerak utama berbagai sektor kehidupan bangsa.

Namun, tantangan yang dihadapi generasi ini tidaklah ringan. Generasi Z saat ini mulai memasuki fase produktif, dengan rentang usia yang berada dalam kelompok usia kerja.

Mereka dikenal memiliki kreativitas, kemandirian, serta keberanian mencoba berbagai peluang baru, termasuk membangun bisnis rintisan (startup) maupun berinvestasi sejak usia muda.

Di sisi lain, generasi ini juga menghadapi persoalan serius, terutama terkait kesehatan mental dan perubahan pola kehidupan akibat perkembangan teknologi digital. Mereka tumbuh dalam era pandemi yang membuat aktivitas pendidikan dan sosial sangat bergantung pada perangkat digital.

Kondisi tersebut membuka ruang munculnya berbagai persoalan, seperti kecanduan gawai, paparan judi daring, penyalahgunaan narkoba, hingga tekanan psikologis akibat budaya perbandingan di media sosial.

Tidak mengherankan jika Generasi Z kerap disebut sebagai generasi strawberry—generasi yang tampak menarik dari luar, tetapi dianggap memiliki kerentanan ketika menghadapi tekanan.

Kondisi ini menjadi tantangan besar karena dapat berpengaruh terhadap daya juang, ketahanan mental, serta kemampuan menghadapi kompleksitas kehidupan.

Selain persoalan mental, isu keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bernegara juga menjadi perhatian. Sikap apatis politik di kalangan sebagian Generasi Z muncul akibat berbagai faktor, mulai dari kekecewaan terhadap praktik politik, rendahnya kepercayaan terhadap institusi publik, hingga anggapan bahwa generasi muda hanya dibutuhkan ketika momentum politik berlangsung.

Namun, sikap tersebut tidak selalu berarti mereka tidak peduli terhadap persoalan bangsa. Sebagian Generasi Z justru memilih jalur partisipasi yang berbeda, melalui gerakan sosial berbasis digital.

Mereka terlibat dalam penggalangan bantuan kemanusiaan, kampanye lingkungan, hingga menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik melalui media sosial.

Persoalan lainnya muncul dari sistem kehidupan yang semakin menempatkan materi sebagai ukuran keberhasilan. Dalam budaya kapitalis-sekuler, nilai seseorang sering kali dikaitkan dengan pencapaian ekonomi, status sosial, dan gaya hidup.

Media sosial yang menjadi ruang utama interaksi Generasi Z turut memperkuat fenomena tersebut. Berbagai konten yang menampilkan kemewahan, pencapaian instan, serta standar hidup tinggi sering kali menciptakan tekanan tersendiri.

Akibatnya, sebagian anak muda mengalami kecemasan berlebihan karena merasa harus mengejar standar kehidupan yang dibangun oleh dunia maya.

Di tengah kondisi tersebut, negara seharusnya hadir sebagai benteng yang mampu melindungi dan menyiapkan generasi.

Namun, berbagai persoalan nasional masih menjadi tantangan besar, mulai dari tekanan ekonomi, persoalan lapangan kerja, kemiskinan, hingga krisis kepercayaan terhadap institusi publik.

Kebijakan pembangunan juga menjadi sorotan ketika masyarakat mempertanyakan apakah program-program yang dijalankan benar-benar menyentuh akar persoalan pembentukan generasi berkualitas.

Dalam konteks pendidikan, perhatian tidak cukup hanya diberikan melalui angka anggaran, tetapi juga harus menyentuh aspek pembentukan karakter, moral, dan kualitas sumber daya manusia.

Lantas, apakah sistem yang berjalan saat ini mampu melahirkan Generasi Emas 2045?

Dalam perspektif Islam, generasi muda memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun peradaban. Sejarah awal Islam menunjukkan bahwa banyak tokoh besar lahir dari kalangan pemuda yang mendapatkan pembinaan keimanan dan ilmu.

Pada masa Rasulullah SAW, sejumlah pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Al-Awwam, dan Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi bagian dari generasi awal yang memperjuangkan Islam.

Mereka tumbuh dengan fondasi keimanan yang kuat sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

Islam tidak menjadikan ukuran materi dan penampilan sebagai standar utama kemuliaan manusia. Ukuran seseorang dalam Islam adalah ketakwaannya kepada Allah SWT.

Dengan nilai tersebut, seorang muslim tidak hidup semata-mata untuk mendapatkan pengakuan manusia, tetapi berorientasi pada keridhaan Allah.

Ketika nilai ketakwaan menjadi dasar kehidupan, maka pemimpin maupun masyarakat akan memiliki tanggung jawab moral dalam menjalankan amanah.

Negara memiliki kewajiban mengurus rakyat, memenuhi kebutuhan dasar, serta membangun generasi yang memiliki ilmu, karakter, dan kepedulian terhadap bangsa.

Sejarah mencatat banyak pemuda Muslim yang mampu memberikan kontribusi besar bagi peradaban, di antaranya:

Usamah bin Zaid, yang dipercaya memimpin pasukan ke Syam dalam usia muda, bahkan memimpin para sahabat senior.

Zaid bin Tsabit, seorang pemuda cerdas yang berperan sebagai penulis wahyu Al-Qur’an dan dikenal memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa.

Muhammad bin Qasim, pemuda yang memimpin ekspedisi ke wilayah Sind pada usia belia dan dikenal dengan kepemimpinannya.

Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, yang berhasil mewujudkan cita-cita besar pada usia muda.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pemuda yang dibangun dengan iman, ilmu, dan visi besar mampu menjadi penggerak perubahan.

Generasi emas tidak hanya lahir dari program pembangunan fisik, tetapi juga dari pembangunan manusia secara utuh. Jika bangsa ini ingin mewujudkan generasi unggul pada 2045, maka fondasi nilai, pendidikan, dan pembinaan karakter harus menjadi perhatian utama.

Sebab, masa depan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi yang dipersiapkan hari ini.[]

Comment