Penulis: Alfira Khairunnisa | Aktivis IDARI-Ikatan Daiyah Riau
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tiap 2 Mei upacara Hardiknas, pakai baju adat, pidato “Merdeka Belajar”. Tapi begitu masuk kelas, realitanya guru takut menegur, siswa tawuran, kampus jadi sarang predator seksual, UTBK dijoki, skripsi dibeli. Hardiknas bukan perayaan. Ia vonis untuk sistem pendidikan kita yang sakit kronis.
Hardiknas dirayakan, mutu pendidikan justru terjun bebas. PISA 2022 literasi Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. Numerasi dan sains jeblok. Tapi yang viral bukan skor, melainkan video guru dipolisikan karena jewer murid, atau dosen digerebek karena cabuli mahasiswi. Perayaan tiap tahun, tapi output pendidikan buram secara akademik, memprihatinkan secara moral.
Sekolah dan kampus tidak lagi jadi ruang aman. Komnas Perempuan 2023: 457 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kemendikbudristek 2022-2024 ada 127 kasus kekerasan seksual di kampus. FSGI 2023 terjadi 16 kasus perundungan berujung kematian.
Pelakunya? Teman sekelas, senior, bahkan guru/dosen. Korban bungkam karena relasi kuasa. Sekolah yang harusnya safe space berubah jadi crime scene.
Budaya curang sudah sistemik: dari SD sampai S3. Joki UTBK 2024: 20+ orang ditangkap, tarif 50-300 juta. Skripsi-Tesis-Disertasi bisa dibeli di Shopee. Turnitin diakali dengan paraphrase AI. UN dihapus karena bocor massal, ganti ANBK tetap diakali. Pesan yang ditangkap anak: “Yang penting lulus, bukan jujur”. Integritas akademik mati.
Disamping itu, Narkoba masuk seragam sekolah. BNN 2024: 2,2 juta pelajar dan mahasiswa pernah pakai narkoba. Usia pertama coba: 12-15 tahun. Modus baru: liquid vape isi sabu, permen ganja. Pengedarnya? Kakak kelas, alumni, bahkan guru honorer terlilit pinjol. Sekolah yang harusnya steril, malah jadi pasar.
Tidak hanya itu, banyak yang Guru dikriminalisasi, adab ke pendidik hilang. Guru cubit murid dipenjara UU Perlindungan Anak. Guru tegur rambut gondrong dilaporkan ke KPAI. Hasilnya: guru apatis, “ngapain capek-capek didik, nanti saya yang masuk bui”.
Siswa jadi raja kecil: hina guru di TikTok, tantang berkelahi, laporkan ke polisi. UU yang harusnya lindungi anak, dipakai jadi tameng untuk hilang adab.
Kenapa Sekolah Gagal Cetak Generasi Terbaik?
Hardiknas harusnya jadi alarm, bukan seremonial. 5 akar masalahnya:
Pertama, Hardiknas harusnya menjadi alarm kerusakan sistemik, bukan panggung gembira upacara tiap tahun tapi kurikulum gonta-ganti, guru honorer gaji 300rb, bangunan roboh, kekerasan naik.
Artinya: masalah bukan di teknis, tapi di blueprint. Peta jalan pendidikan kita gagal karena tidak punya arah hidup yang jelas. Mau cetak manusia seperti apa?
Kedua, Sekulerisme cabut ruh pendidikan: lahir generasi liberal-pragmatis
Sistem sekuler pisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya belajar mengajar dalam pendidikan Sekuler: Belajar Biologi tapi takjub ke Darwin, bukan ke Allah. Belajar Ekonomi tapi halal-haram nggak diajar. Agama cuma 2 jam/minggu, itu pun hafalan.
Kemudian kalau kaum Liberal: “Tubuhku otoritasku” seks bebas, LGBT dianggap HAM. “Kritis” dimaknai melawan guru dan syariat.
Ditambah lagi yang Pragmatis: Kuliah biar cepat kerja, cepat kaya. IPK 4.0 dengan nyontek sama dengan pinter. Hasilnya: Sarjana banyak, cendekiawan beradab hampir punah. Krisis kepribadian: otaknya pinter, hatinya kosong.
Ketiga, kapitalisme ajarkan sukses sama dengan uang, proses nggak penting.
Kurikulum link and match industri. UKT mahal, mahasiswa ngutang pinjol. Kampus buka prodi karena “laku di pasar”, bukan karena butuh peradaban.
Doktrinnya: time is money. Maka lahirlah: joki UTBK, calo CPNS, influencer jual skripsi, mahasiswa endorse judi online. Semua halal demi cuan. Kapitalisme nggak butuh manusia jujur. Butuh mesin pencetak uang.
Keempat, Hukum lembek ke anak: kejahatan dibungkus “kenakalan” UU SPPA dan KUHP: anak di bawah 18 tahun penjara maksimal setengah dari dewasa. Diversi wajib. Hasilnya: Begal umur 15 tahun bebas, besok begal lagi.
Mahasiswa cabul dosennya cuma “dibina”. Negara takut HAM, tapi lupa hak korban. Pesan ke pelajar: “Kejahatan di bawah 18 tahun aman”. Maka kriminalitas naik.
Kelima, agama dipenjara di mapel 2 jam: moral punah. Sekolah sekuler ajarkan “toleransi” tapi tidak ajarkan takut Allah. PAI diajar tapi Riba di ekonomi nggak dilarang, pacaran dianggap normal, aurat adalah pilihan.
Akibatnya anak kenal teori, tapi tidak takut dosa. Ruang bebas tanpa iman sama dengan liar. Pacaran kemudian hamil, lalu aborsi dan berakhir bunuh diri. Lalu Narkoba candu, lalu nyuri kemudian begal. Akarnya satu: kosong ruh.
Mengembalikan Ruh Islam dalam Pendidikan
Islam tidak anti sains dan teknologi. Islam kasih ruh ke pendidikan. Solusinya bukan “ganti menteri”, tapi ganti sistem. Pendidikan adalah hak rakyat, kewajiban negara, berbasis akidah.
Rasulullah bebaskan tawanan Badar dengan syarat ajari 10 anak Muslim baca-tulis. Khalifah Umar gaji guru dari Baitul Mal. Dalam Khilafah, biaya SD-S3 gratis. Kurikulumnya: semua mapel dalam rangka taat Allah.
Belajar Fisika untuk lihat tanda kekuasaan Allah, bukan untuk ateis. Belajar Ekonomi syariah agar takut riba. Hasilnya: insan kamil, otak Jerman, hati Mekah. Nggak akan nyontek karena tahu Allah Maha Melihat. Nggak akan korupsi karena takut hisab.
Fokus utama: Syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) bukan IPK. Pendidikan Islam wajib menyatukan ‘aqliyah nafsiyah. Yakni, Pola pikir Islam: Standar benar-salah, halal-haram, bukan HAM Barat.
Kemudian Pola sikap Islam: Nafsu ditundukkan ke syariat, bukan dilepas. Hasilnya: Pelajar malu nyontek, malu pacaran, malu hina guru. Karena identitasnya: “Saya hamba Allah”, bukan “Saya Gen Z bebas”. Ibnu Sina umur 16 tahun sudah hafal Qur’an dan kuasai kedokteran. Itu role model kita.
Disamping itu Sanksi Islam tegas, berefek jera, bukan “pembinaan” . Pelajar mencuri potong tangan jika baligh dan syarat terpenuhi. Zina cambuk 100 kali atau rajam. Narkoba takzir sampai hukuman mati bagi pengedar.
Buat anak belum baligh? Ta’dib oleh negara: dipukul mendidik, bukan dipenjara, tapi juga bukan dibiarkan. “Didik anakmu dengan pukulan jika ia tinggalkan sholat umur 10 tahun” HR. Abu Dawud.
Hukum Islam tidak pandang umur jika sudah mumayyiz. Tujuannya: cegah orang lain, bukan balas dendam. Sekarang? Pencuri motor di bawah umur cuma “dikembalikan ke ortu”. Besok nyolong lagi.
Maka, Negara harus bisa menjadi junnah pencetak suasana takwa. Dalam Islam, negara wajib menutup semua pintu maksiat: miras, pornografi, pergaulan bebas, judi online. Negara adakan halaqah umum, subsidi kajian, TV isinya dakwah dan sains. Lingkungan kotor maksiat harus dibersihkan. Jadi anak mau nakal pun susah.
Bandingkan sekarang: aplikasi kencan bebas, konten porno satu kali klik langsung muncul, miras di minimarket. Negara justru fasilitasi maksiat lewat pajak.
Maka dari itu, umat butuh Sinergi 3 pilar: Keluarga, Masyarakat, Negara, semua di atas Islam
Pertama, Keluarga: Ayah wajib ajarkan anak sholat, akidah. “Kuw anfusakum wa ahlikum nara” QS. At-Tahrim:6. Kedua, Masyarakat: Amar ma’ruf nahi munkar. Lihat anak pacaran, ditegur. Bukan “bodo amat”.
Negara: Terapkan kurikulum, sanksi dan lingkungan Islam. Tiga pilar ini sekarang rusak: Ayah sibuk kerja, masyarakat individualis, negara sekuler. Hasilnya? Anak didik TV dan TikTok.
Setop Tambal Sulam, Kembali ke Khilafah
Ganti Kurikulum Merdeka, pasang CCTV, bikin Satgas PPKS semua painkiller. Selagi asasnya sekuler-kapitalistik, Hardiknas tiap tahun hanya akan jadi peringatan kematian moral berikutnya.
Maka solusi total: Cabut sistem sekuler-kapitalistik dari dunia pendidikan. Terapkan sistem Islam kaffah. Hanya itu yang bisa jamin guru mulia, murid beradab, ilmu berkah, peradaban maju.
Karena tujuan pendidikan bukan cetak pekerja. Tapi cetak khalifah fil ardh yang siap memakmurkan bumi dengan syariat Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.[]











Comment