by

Hawilawati, S.Pd*: Buku Pada Masa Kejayaan Islam

Hawilawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apa yang ada di benak anda jika masuk ke ruang yang luas, tinggi dan diperkaya dengan koleksi buku seperti di Perpustakaan Nasional RI ini? Tentu bagi pencintai buku, di sinilah surganya ilmu, sebagai salah satu wadah sumber literasi.
Sebagaimana dikutip di detik.com  bahwa perpustakaan Nasional RI ini merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia, wow. Bangunan Perpustakaan Nasional yang telah direnovasi kini memiliki 24 lantai plus basement. Gedung ini memiliki tinggi 126,3 meter, Di sana ada fasilitas untuk lansia dan penyandang disabilitas. Sedangkan perpustakaan di Shanghai, China, yang selama ini disebut tertinggi memiliki tinggi 106 meter.
Bukan masalah tinggi, luas dan banyaknya koleksi buku yang dimilikinya, namun bagaimana kontribusi buku yang kaya akan ilmu tersebut mampu mencerdaskan generasi, bagaimana kebijakan penguasa terhadap hasil karya para ilmuwan menjadi ilmu yang bermanfaat, menyelamatkan peradaban bangsa, tak hanya sekedar disusun rapi menghiasi rak-rak buku klasik hingga berdebu dan usang ditelan masa, hancur tak bernilai begitu saja.
Ketika pemimpin negeri mencintai ilmu, maka ia akan  mendorong masyarakatnya untuk gemar belajar dan  membaca, tak ada istilah “buta huruf dan enggan mencintai majelis ilmu apa lagi anti majelis ilmu.
Sebagaimana pusat peradaban Islam di Andalusia, di saat dunia Barat dan Eropa belum mengenal baca tulis, justru Islam telah menggalakkan program baca tulis bagi setiap warga negaranya. Karenanya tak heran saat itu banyak berdiri Madrasah-madrasah, universitas dan perpustakaan terbesar  dengan koleksi buku terlengkap dan mumpuni, membuat para ilmuwan  barat dan Eropa berbondong-bondong belajar kepada Islam di Andalusia~ Spanyol.
Penguasa yang mencintai ilmu akan memberikan sarana belajar yang terbaik bagi setiap warganya, tak akan dibiarkan warganya buta huruf, tanpa terkecuali, tak pandang bulu apakah ia kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa, semua memiliki hak yang sama untuk mendapat pendidikan yang layak, karena sejatinya pendidikan adalah kebutuhan primer setiap individu. 
Di dalam Islam, para ulama dan  kaum intelek dari berbagai disiplin ilmu didorong untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu serta  melahirkan karya (tulisan) untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam peradaban manusia dengan ketentuan tulisan yang dihasilkannya tidak mengandung unsur-unsur yang merusak akidah, menyerang Islam, kaum Muslim,  kehormatan orang tertentu,  menulis dengan fitnah penuh kedengkian, atau menyebarkan ideologi rusak liberalisme-sekulerisme-kapitalisme-komunisme hingga syariat Allah dicampakkan.
Dukungan penguasa terhadap ilmu dan literasi terlihat dari seriusnya penguasa menyiapkan berbagai program terkait dunia literasi. Penguasa akan memberikan apresiasi luar biasa bagi penulis dengan ilmu yang dimilikinya.
Pada masa kholifah Harun Ar-Rasyid tahun 785 mengeluaran dana tidak kurang dari 5 juta dinar untuk memperoleh buku-buku ilmu pengetahuan yang pernah terbit di pusat-pusat peradaban dunia.
Masa Abbasiyah telah mampu membangun pabrik kertas dan tinta di Bagdad untuk meperlancar program penulisan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, di saat dunia barat belum mengenal tulis menulis.
Oleh karena itu, hasil karya para penulis yang berkualifikasi akan diapresiasi Khalifah dengan dinar sebesar berat buku yang ditulisnya. Pada abad ke-9 terdapat satu kelompok penerjemah terkenal yang dikepalai oleh Hunayn ibn Ishaq. Ia diangkat oleh  Khalifah al-Ma’mun sebagai penerjemah resmi di bait al-Hikmah. Ia  diserahi tugas dan tanggung jawab untuk menerjemahkan karya- karya ilmiah yang merupakan buku-buku berbahasa Yunani yang telah dibawa masuk dari Asia kecil dan dari Konstitatinopel. Atas  jasanya, mereka diberi imbalan 500 dinar tiap bulannya atau setara  dengan dua kilogram emas. Khalifah al-Ma’mun bahkan membayar Hunayn ibn Ishaq dengan emas yang sangat besar, seberat buku-buku berbahasa asing yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Penulisan dan penerbitan buku secara besar-besaran telah membuat kota-kota Muslim menjadi pusat peradaban. Masyarakat Muslim pun begitu gemar membaca buku. Hal itu menyebabkan permintaan buku menjadi sangat tinggi, bahkan di Kota Timbuktu, Mali, dan Afrika Barat sekalipun.
Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya. Pada abad ke-12, misalnya, buku menjadi tiga komunitas unggulan, setelah garam dan emas.
Proses penulisan dan penerbitan buku pada era kekhalifahan boleh dibilang sangat unik. Pada era itu, sarjana dan ulama menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyusun buku. Sebelum sebuah buku diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik di masjid. 
Sayangnya, perkembangan penerbitan buku di dunia Islam dimatikan secara sistematis oleh penjajah dari Eropa. Ketika teknologi cetak berkembang, ada semacam penolakan di dunia Islam. Hal itu menyebabkan perkembangan percetakan Islam tertinggal jauh dibandingkan dunia Barat yang telah memulainya sejak abad ke-17 M.
Kini memasuki era Revolusi industri 4.0 yang mengandalkan kecanggihan cyber, hingga menulis dengan kertas dan pensil ataupun tinta sedikit tersingkirkan, namun  khasnya ilmu yang disusun rapi dalam sebuah buku tetap tak bisa tergantikan. Semua tergantung bagaimana manusia menyikapi sebuah ilmu baik yang terdapat dalam buku maupun digital, apakah hanya sebagai maklumat saja atau dijaga melahirkan maslahat yang dirasa  dalam kehidupan nyata.[]

*Praktisi pendidikan STP-SD Khairu Ummah, Ciledug,Tangerang

Comment

Rekomendasi Berita