Penulis: Ammylia Rostikasari, S.S | Muslimah Peduli Umat
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti diberitakan berbagai media, pengesahan undang-undang oleh Israel yang melegalkan hukuman mati bagi warga Palestina bukan sekadar kebijakan hukum biasa. Ia merupakan manifestasi nyata dari kezaliman sistematis yang sejak lama menindas rakyat Palestina.
Dengan dalih “pemberantasan terorisme”, rezim Zionis justru memperluas instrumen kekerasan negara untuk melegitimasi pembunuhan terhadap rakyat yang berjuang mempertahankan tanah dan kehormatannya.
Kebijakan ini memantik kritik dari berbagai pihak. Pemerintah Indonesia, misalnya, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar bertindak tegas. Namun pertanyaan mendasarnya tetap menggantung: sampai kapan dunia internasional hanya berhenti pada kecaman tanpa tindakan nyata?
Fakta selama ini menunjukkan, lembaga internasional seperti PBB kerap gagal memberikan perlindungan riil bagi rakyat Palestina. Resolusi demi resolusi lahir, namun tak lebih dari dokumen tanpa daya paksa.
Di sisi lain, rezim Zionis terus melangkah agresif—menindas, membunuh, dan merampas hak-hak dasar rakyat Palestina. Kondisi ini memperlihatkan dengan terang adanya standar ganda dalam sistem hukum internasional: tajam terhadap pihak lemah, tetapi tumpul terhadap pihak yang disokong kekuatan besar.
Dalam perspektif Islam, kezaliman semacam ini bukan sekadar pelanggaran kemanusiaan, melainkan kejahatan besar yang akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42).
Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman tidak akan pernah luput dari balasan. Meski hari ini pelaku kejahatan tampak bebas bertindak, sejatinya mereka hanya sedang menunggu waktu untuk diadili dengan seadil-adilnya.
Lebih jauh, Rasulullah ﷺ mengingatkan umat Islam agar tidak bersikap pasif dalam menghadapi kemungkaran:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim).
Hadits ini menjadi peringatan tegas bahwa sekadar mengecam tidaklah cukup. Umat Islam dituntut memiliki kekuatan nyata—baik secara politik, ekonomi, maupun militer—untuk menghentikan kezaliman.
Namun realitas hari ini justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Negeri-negeri Muslim tercerai-berai, lemah, dan dalam banyak hal bergantung pada kekuatan global yang justru menopang eksistensi Zionis.
Akibatnya, setiap tragedi kemanusiaan di Palestina hanya dibalas dengan retorika kecaman tanpa langkah konkret yang mampu mengubah keadaan.
Pengesahan undang-undang hukuman mati ini sekaligus menjadi penegas bahwa rezim Zionis tidak gentar terhadap tekanan internasional.
Mereka bertindak dengan rasa aman, seolah memiliki legitimasi dan perlindungan dari kekuatan besar dunia. Dalam situasi seperti ini, menggantungkan harapan pada sistem internasional yang ada ibarat bersandar pada bangunan rapuh yang sewaktu-waktu runtuh.
Karena itu, persoalan Palestina sejatinya bukan sekadar konflik wilayah, melainkan problem sistemik yang berakar pada absennya kekuatan politik umat Islam yang independen dan berdaulat. Selama umat tidak memiliki kepemimpinan yang kokoh dan berlandaskan syariat, selama itu pula kezaliman akan terus berulang tanpa henti.
Sejarah Islam telah memberikan pelajaran berharga: ketika umat memiliki kepemimpinan yang kuat, kehormatan dan keamanan mereka terjaga. Sebaliknya, ketika kepemimpinan itu melemah atau hilang, umat menjadi sasaran empuk berbagai bentuk penindasan.
Sudah saatnya umat Islam tidak lagi terjebak pada solusi parsial dan reaktif. Diperlukan perubahan mendasar melalui kebangkitan kesadaran politik Islam yang ideologis, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam membangun kekuatan yang mampu menegakkan keadilan dan melindungi kaum tertindas.
Pada akhirnya, tragedi yang terus menimpa Palestina bukan hanya ujian bagi mereka, tetapi juga cermin bagi umat Islam di seluruh dunia: akan terus menjadi penonton yang tak berdaya, atau bangkit menjadi kekuatan yang mampu menghentikan kezaliman.[]














Comment