by

Ibrah Sebuah Bencana dan Belajar Merendah Diri Di Hadapan Sang Khaliq

ilustrasi tsunami.[ist]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ada yang mengatakan bahwa persoalan Surga dan Neraka adalah hasil imaginasi para peramal yang dirinya sendiri belum mengalaminya. Sebuah statement yang sangat angkuh kalau tidak mau dikatakan bodoh. Pernyataan degil dari seorang manusia yang tidak tahu malu tentang kebesaran yang Mahapencipta.

Ancaman dan persekusi terhadap kebenaran begitu seronok terjadi dan pembiaran tanpa ada hukum yang diberikan. Keberpiakan terhadap kezhaliman begitu kental melanda negeri ini. Baunya semakin tidak sedap denga korupsi di sana sini.

Jabatan dan kekuasaan yang diemban seakan abadi, bertindak bengis dan lupa diri seakan semua yang dimiliki abadi. Mereka tak pernah ambil peduli terhadap ayat-ayat suci bahkan mereka hendak megkebiri.

Para ulama dilecehkan dengan tuduhan hina dan memalukan, ditelanjangi harkat dan martabat di tengah publik, begitu menjijikan. Dibebaskan tuduhan kemudian dituduhkan kembali. Hukum seakan sebuah permainan bagi penguasa terhadap siapapun yang lantang melawan.

Tipu daya dijalankan, korupsi merajalela, prostitusi subur di sudut kota, pesta minuman dan gaya hidup samen wonen dan gay begitu terang di bawah atap langit pertiwi. Didukung kekuasaan rapuh, mereka tumbuh subur bak ilalang.

Suara merdu para muadzin dari surau, mushola dan masjid ingin diredam agar tak lagi terdengar sebuah panggilan pengabdian kepada Penguasa alam dan langit yang sebenarnya.

Intimidasi dan kekacauan mulai menebar, kehidupan semakin penuh dengan saling mengancam. Tata krama kehidupan telah hilang. Muda tak bermoral tua tak tahu berakhlaq. Hidup bagai di negeri Pompeii yang sirna dihujani debu akibat perzinahan bebas di muka umum.

Suara kebaikan bukan tidak ada, lenyap oleh hingar bingar dan kebisingan politik tanpa arah. Politik sampah yang tidak bermoral. Berjuang hanya untuk kepentingan diri dan kelompok semata.

Ulama ditinggalkan, ulama dileccehkan, ulama dinina-bobokan dengan angan-angan kekuasaan. Ada di antara mereka yang tertarik dan ada pula yang tetap komit menjaga martabat dan nilai. Terjadi sekat yang membingungkan umat. Sementara kemaksiatan begitu nyaring terdengar dari rimbunnya rumput politik dan ilalang liar di tepi sawah. Lahirlah mahluk debat yang melelahkan dan berujung perpecahan. Dan kemaksiatan tetap ranum untuk kemudian masak dan menjadi santapan.

Suara kebenaran tak lagi didengar bahkan dihujat habis-habisan oleh barisan dalam dan barisan luar yang tidak beda dengan dajjal.

Tak sanggup melawan tapi terus berjuang. Para pembawa misi kebenaran mengeluarkan senjata ampuh mereka berupa doa yang tidak terkalahkan. Maka datanglah bala bantuan berupa teguran alam dengan bencana di sana sini.

Kalau mereka tidak berhenti dari kekufuran dan kezhaliman oleh teriakan pendakwah kebenaran maka ketahuilah bahwa doa mereka begitu dekat dengan kenyataan. Waspadalah bahwa doa orang -orang tertindas itu tidak berjarak dengan Tuhannya.  

Jangan sampai Allah memaksa lidahmu untuk bertakbir dengan didatangkannya peristiwa di luar nalarmu. Jangan sampai Allah menghantam kekuasaan dan jabatanmu dengan bongkahan batu gunung yang melayang. Jangan sampai Allah menerbangkan hotel, rumah mewah, gedung dan istana yang kau banggakan.

Makarmu tidak berarti sedikitpun dengan peristiwa alam yang mencekam seperti puting beliung, tsunami dan gempa bumi. Masihkah kau bertipu daya dengan kebenaran? Maka belajarlah wahai manusia untuk merendah diri di hadapan Sang Khaliq agar terjauhkan diri dari bencana dan tsunami.

Air laut tak tinggal diam dengan makarmu, dia bisa berubah menerjangmu kapan saja dia mau. Angin tak diam dan selamanya dingin, dia bisa megahncurkan rumah dan tempat tinggalmu yang kokoh sekalipun. Mari koreksi diri dan kembali kepadaNya.[]



Comment

Rekomendasi Berita