Ibu, Engkau Tak Bersalah atas Rusaknya Generasi

Opini38 Views

Penulis: Diah Pipit | Penulis Buku Jerat-Jerat Feminisme

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ibu, dalam diam yang sering tak terdengar, engkau memikul beban yang tak ringan. Engkau mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui dengan penuh kasih, mengasuh tanpa mengenal waktu, mendidik dengan kesabaran yang panjang, dan mendoakan anak-anakmu dalam sujud-sujud panjang di sepertiga malam.

Semua itu engkau lakukan dengan tubuh yang sama, hati yang sama, dan cinta yang sama.

Namun hari ini, ketika generasi mulai kehilangan arah, ketika kenakalan remaja meningkat, ketika akhlak anak-anak semakin mengkhawatirkan, justru engkau yang sering menjadi pihak pertama yang dituding.

“Ibu kurang perhatian.”

“Ibu terlalu sibuk.”

“Ibu tidak memahami psikologi anak.”

“Mindset ibu harus diubah agar anak menjadi saleh dan sukses.”

Betapa menyakitkan. Sering kali aku melihat para ibu duduk di kelas-kelas parenting dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka mencatat setiap nasihat dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh kerusakan yang terjadi pada anak-anak adalah kesalahan mereka seorang diri. Mereka pulang membawa beban baru.

“Aku harus lebih sabar.”

“Aku harus lebih baik.”

“Aku harus lebih sempurna.”

Hingga tanpa sadar mereka lupa bahwa dirinya juga manusia. Manusia yang bisa lelah. Manusia yang bisa terluka. Manusia yang juga membutuhkan tempat bersandar.

Ibu, engkau bukan kambing hitam. Rusaknya generasi hari ini bukan semata-mata karena dirimu. Bukan karena engkau bekerja atau tidak bekerja. Bukan karena engkau terlalu tegas atau terlalu lembut. Persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar pola asuh seorang ibu.

“Akar masalahnya adalah sistem yang perlahan-lahan menggerus fondasi keluarga.”

Kita hidup di zaman ketika rumah tangga tidak lagi dipandang sebagai pilar peradaban, melainkan sekadar urusan pribadi. Peran ayah semakin terpinggirkan.

Menurut data KPAI dan BPS, sekitar 15,9 juta anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah yang utuh dalam kehidupan mereka. Bahkan hanya sebagian kecil anak usia dini yang mendapatkan pengasuhan penuh dari kedua orang tua secara bersama-sama.

“Padahal ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah pemimpin, pelindung, pendidik, dan teladan.”

Ketika peran itu menghilang, siapa yang paling pertama merasakan dampaknya?

Ibu.

Ketika ayah sibuk bekerja tanpa batas waktu, tenggelam dalam layar gawai, atau bahkan meninggalkan tanggung jawabnya, ibu dipaksa memikul dua bahkan tiga peran sekaligus.

Di saat yang sama, layar-layar digital perlahan mengambil alih fungsi keluarga. Anak-anak lebih banyak belajar dari media sosial dibandingkan dari orang tuanya. Mereka lebih mengenal tokoh-tokoh dunia maya daripada ulama, guru, atau bahkan anggota keluarganya sendiri.

Survei menunjukkan semakin banyak remaja yang mengalami kecanduan gawai, dengan dampak yang nyata terhadap kesehatan mental, kestabilan emosi, dan perilaku sosial mereka.

Sementara itu, nilai-nilai agama yang dahulu menjadi pondasi kehidupan perlahan digeser oleh budaya individualisme, kebebasan tanpa batas, dan gaya hidup hedonis yang dikemas atas nama kemajuan.

Ketika ekonomi semakin sulit, ibu didorong keluar rumah demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Lalu muncullah berbagai solusi instan.

Day care untuk mengasuh anak.

Seminar parenting untuk memperbaiki pola asuh.

Kelas-kelas pengembangan diri untuk mengatasi masalah keluarga.

Psikolog dan psikiater untuk menangani luka batin yang terus bertambah.

Sebagian memang membantu. Namun pertanyaannya, apakah itu menyelesaikan akar persoalan? Ataukah hanya menjadi penyangga sementara bagi sistem yang terus melahirkan masalah baru?

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Ini bukan semata-mata persoalan seorang ibu yang kurang sabar atau kurang terampil mendidik anak. Ini adalah persoalan peradaban yang sedang sakit.

Sistem kehidupan yang ada hari ini cenderung memisahkan peran ayah dan ibu, melemahkan ikatan keluarga, serta menjadikan pendidikan akhlak kalah oleh arus hiburan dan budaya konsumtif.

Akibatnya terlihat jelas di hadapan kita –  meningkatnya fenomena fatherless, kenakalan remaja, krisis identitas, gangguan kesehatan mental, hingga lahirnya generasi yang kehilangan arah hidup.

Islam menawarkan jalan yang berbeda. Islam tidak pernah menjadikan ibu sebagai satu-satunya penanggung jawab masa depan generasi. Islam membangun keluarga sebagai sebuah tim yang saling menguatkan.

Ayah sebagai qawwam, pemimpin dan pelindung keluarga. Ibu sebagai madrasah pertama yang mendidik dengan kasih sayang. Masyarakat sebagai lingkungan yang ikut menjaga.

Negara sebagai pelindung yang menghadirkan sistem ekonomi, pendidikan, dan media yang mendukung tumbuhnya generasi beriman dan berakhlak.

Dalam Islam, anak-anak tidak hanya diajarkan menjadi pintar. Mereka diajarkan mencintai Allah lebih dari apa pun di dunia ini. Sebab hati yang terikat kepada Rabb-nya akan memiliki benteng yang jauh lebih kuat daripada sekadar pengawasan manusia.

Kita mungkin mampu membuat anak-anak terlihat baik ketika masih kecil. Mereka rajin salat, sopan kepada orang tua, dan berprestasi di sekolah.

Namun pertanyaan terbesarnya adalah apakah mereka akan tetap kuat ketika dewasa dan menghadapi godaan zaman yang semakin dahsyat? Apakah mereka mampu menjadi orang tua yang baik bagi generasi setelahnya? Karena itulah, persoalan ini tidak boleh dibebankan kepada ibu seorang diri.

Ibu, engkau tak bersalah atas rusaknya generasi. Engkau adalah korban dari sistem yang tidak adil. Namun pada saat yang sama, engkau juga pahlawan yang masih bertahan meski pundakmu nyaris patah menanggung beban yang begitu berat.

Sudah saatnya kita berhenti menunjuk ibu sebagai penyebab segala persoalan. Sudah saatnya peran ayah dikembalikan. Sudah saatnya keluarga kembali menjadi pusat peradaban. Sudah saatnya umat ini bersama-sama memperbaiki sistem kehidupan agar selaras dengan petunjuk Allah SWT.

Sebab generasi yang kuat tidak lahir dari perjuangan seorang ibu yang dibiarkan berjuang sendirian. Generasi yang kuat lahir ketika ayah hadir, ibu dimuliakan, masyarakat peduli, dan nilai-nilai Islam menjadi fondasi kehidupan.

Ibu, Jika hari ini engkau merasa gagal, merasa lelah, atau merasa semua orang menyalahkanmu, ketahuilah bahwa Allah melihat setiap air mata yang engkau sembunyikan.

Allah mengetahui setiap doa yang engkau panjatkan dalam sunyi. Allah tidak pernah menyia-nyiakan pengorbanan seorang ibu.

Engkau tidak sendirian. Engkau tidak bersalah. Engkau hanya membutuhkan lebih banyak tangan untuk menggenggam tanganmu, bukan lebih banyak jari yang menunjuk ke arahmu.

Semoga Allah mengampuni kita semua, memperbaiki keluarga-keluarga kita, dan menjadikan anak-cucu kita generasi yang membawa rahmat bagi semesta alam.[]

Comment