by

Iga Latif, S.Pd*: Perempuan Antara Kesetaraan Dan Kesejahteraan

Iga Latif, S.Pd.[Dok/pribadi]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perempuan kembali mengukir sejarah, menorehkan namanya di halaman buku sejarah dunia. Pasalnya perjuangan kaum perempuan untuk mendapat kesetaraan hak dengan laki-laki dalam hal berpolitik dan berpendapat pada tahun 1908 berujung pada diperingatinya setiap tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional.

Kebebasan, kesejahteraan dan kesetataan menjadi gagasan utama dalam peringatan bertarap internasional ini. Tak aneh jika dalam pidatonya pada saat penyerahan bantuan sosial di Gor Tri Dharma Gresik Jawa Timur pada kamis (8/3/2018) seperti yang dilansir media nasional kompas.com, Presiden Joko Widodo turut mengucapkan selamat Hari Perempuan Internasional. 

Dalam kesempatan tersebut orang nomor satu di Indonesia tersebut menyampaikan bahwa sudah saatnya perempuan di Indonesia semakin aktif berkarya dan bisa mendapatkan hak-haknya untuk kehidupan yang lebih tenteram, makmur dan berkeadilan.

Namun pada kenyataannya, kondisi perempuan di Indonesia jauh dari kata sejahtera. Perempuan justru menjadi komoditas untuk dieksploitasi sebebas-bebasnya di negara yang dipandang dunia sebagai negara yang paling berhasil melangsungkan demokratisasi di antara negara-negara muslim yang lain.

Hidup di sistem yang serba mahal ini memaksa perempuan Indonesia harus menelan kenyataan pahit untuk ikut berperan sebagai penopang kelangsungan hidup keluarga. Perempuan dipaksa memenuhi standar kehidupan yang semakin lama semakin melambung tinggi.

Belenggu kemiskinan yang membelit perempuan Indonesia menjadi faktor pendorong terkuat yang membuat perempuan rela berada jauh ribuan kilometer dari keluarga tercinta. Mengadu nasib ke negeri orang tanpa adanya perlindungan yang berarti dari negara – yang akhirnya menggiring makhluk berhati mulia itu ke jurang permasalahan yang tak kalah pelik, mulai dari penganiayaan imigran hingga harus meregang nyawa di negeri orang.

Senada dengan hal ini Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Imigrant Care menyatakan bahwa tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap TKW meningkat setiap tahunnya. Tercatat pada data di tahun 2009 saja angka TKW yang menjadi korban kekerasan telah menembus angka 5.314 orang. Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) pun tidak maksimal dalam menyelesaikan berbagai persoalan tenaga kerja perempuan Indonesia di negara lain.
Fenomena ini menunjukkan kegagalan sistem di Indonesia untuk menciptakan perisai yang mampu menjamin kesejahteraan perempuan Indonesia dan melindungi hak-haknya. Jika kesejahteraan perempuan yang digadang-gadang akan diwujudkan melalui peringatan Hari Perempuan Internasional ini, maka kesejahteraan seperti apa yang tengah dibicarakan?

*Penulis adalah Pengajar di Airlangga Education Centre dan pemerhati remaja

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + fourteen =

Rekomendasi Berita