by

Iga latif,S.Pd: Anak Generasi Dalam Dekapan Ironi

Iga latif,S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dunia pendidikan di indonesia kembali tercoreng. Pasalnya setelah beredar unggahan video yang berisi adegan tak pantas beberapa siswa yang tampal mengeroyok guru di sebuah kelas,berbagai macam reaksi ditunjukkan oleh banyak netizen. Mulai dari memaklumi, menyayangkan, hingga mengutuk keras perbuatan para siswa di dalam video tersebut.

Video berdurasi 25 detik ini jelas terlihat bagaimana para siswa begitu menikmati apa yang mereka lakukan pada guru kelas saat itu. Peristiwa itu terjadi pada (8/11), kegiatan belajar mengajar seperti biasa dilakukan joko susilo di kelas 10 teknik kendaraan ringan, namun ditengah pelajaran siswa tiba-tiba gaduh dan ketika Joko Susilo menanyakan apa yang menyebabkan kegaduhan, justru para siswa melempar-lempar kertas hingga salah satu lemparannya mengenai Joko Susilo. 
Lantas guru paruh baya itu meminta siswa yang melempar kertas maju ke depan. Tidak hanya maju ke depan kelas siswa tersebut juga mempermainkan Joko Susilo dengan mendorong-dorongnya bersama 5 orang teman lainnya. (Tribunjateng.news)
Membenarkan hal tersebut Kepala Sekolah SMKN 03 Kaliwungu yakni Muhaidin menyatakan bahwa hal tersebut memang benar-benar terjadi. Namun yang semakin menunjukkan krisis moral yang kian akut dalam pendidikan di indonesia adalah pernyataan Muhaidin bahwa hal itu sudah biasa terjadi dan hanya sekedar guyonan untuk melepas lelah antara guru dan siswa didik.
Menyikapi hal ini, kepala daerah kendal yakni Bupati Mirna Annisa langsung mendatangi sekolah tersebut setelah akun media sosialnya penuh sesak laporan terkait kasus ini pada Senin pagi (12/11) guna memperoleh klarifikasi seputar peristiwa yang sedang ramai menjadi perbincangan itu. Kepada salah satu koresponden tribun jateng Mirna menegaskan bahwa,sikap para siswa itu telah melecehkan guru. Hal itu sangat tidak pantas. Mirna bahkan menambahkan,” jelas tu ngawur, kalau itu anak saya jelas tidak saya sekolahkan lagi,” tuturnya. 
Adanya kejadian ini merupakan tamparan keras bagi Asro’ie Tohir selaku Ketua Yayasan SMKN 03 Kaliwungu. Menurutnya pihaknya telah mengingatkan berulang kali baik pada guru maupun siswa. Para guru harus bisa memberi contoh yang baik kepada para siswa yang menjadi anak didiknya.
Ia mengaku kecolongan dengan adanya peristiwa ini, karena siswa memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarkan video tersebut. Karenanya ia memandang pentingnya pendidikan karakter untuk digalakkan di kalangan siswa disamping pendidikan formal.
Sistem pendidikan yang tidak mumpuni
Krisis moral yang telah menjelma menjadi krisis multidimensi di kalangan pelajar di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sistem pendidikan yang saat ini diterapkan. Pendidikan karakter yang digadang-gadang akan mampu mensterilkan anak didik dari cacat moral ternyata tidak terbukti. 
Kurikulum yang begitu ketat justru mempersulit kedua belah pihak dalam proses belajar mengajar yakni guru dan siswa. 
Alih-alih memperhatikan perkembangan siswa, guru justru dibebani dengan beban administrasi yang begitu rumit, perhatian guru tersita dengan adanya kebijakan demi kebijakan baru yang justru semakin menciptakan ruang hampa antara guru dan siswa.
Arah pendidikan yang semakin kehilangan objektivitasnya ketika beban kurikulum pun menjadikan siswa justru semakin sulit untuk berinteraksi dalam lingkungannya. Dalam proses pembelajaran siswa dibebankan dengan begitu banyak tugas, tanpa adanya kesempatan untuk mengembangkan aspek moral. selama tugas terpenuhi tepat pada waktunya, siswa dinyatakan telas lolos dari seleksi sistem pembelajaran. Siswa terkungkung dengan aktivitas individu yang minim moral. 
Jika sudah demikian siswa hanya akan peduli pada tugas-tugasnya. Siswa hanya termotivasi mendapatkan nilai sebaik-baiknya bagaimanapun caranya.
Hal ini diperburuk dengan minimnya durasi mata pelajaran agama. Siswa hanya dituntut untuk sekedar mengatahui dan menghafal ilmu agama, sementara nol dalam praktek keseharian. Hal ini mendorong siswa menjadikan agama hanya sebatas ritual tanpa nilai dalam aktivitas sehari-hari. 
Ditambah lagi siswa sulit menemukan contoh yang baik di lingkungannya bersosialisasi. Jika telah sedemikian parah, sampai kapan krisis moral di dunia pendidikan dibiarkan bergulir? Sampai kapan moral generasi penerus akan terus tergerus?
Islam Memuliakan Guru
Allah berfirman dalam QS An Nahl:43,  “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.
Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan, “tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak orang yang berilmu agar diutamakan pandangannya”.(HR.Ahmad)
Hak orang berilmu adalah diutamakan dan dihormati. Sebab dengan ilmu seseorang akan mampu merubah kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Itulah mengapa Islam begitu memuliakan orang-orang yang berilmu. Islam juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu,dan menghormati guru sebagai pemilik ilmu.
Sebab bila kita membicarakan ilmu dan pendidikan, sudah seharusnya guru diletakkan sebagai golongan yang amat penting sebagai agen pendidik generasi yang secara otomatis menentukan keberhasilan dan keberlangsungan bangsa ini. Negeri dengan generasi cacat moral akut mustahil akan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang mumpuni dan mampu merubah kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. 
Karena generasi penerus peradaban hanya akan terbebas dari dekapan ironi krisis moral dengan pemahaman islam yang mumpuni. Wallahu alam biashawab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − four =

Rekomendasi Berita