by

ILUNI UI: Pernyataan Rocky Gerung adalah Otokritik untuk Almamater Pendidikan

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hidayat Matnur, Sekjen ILUNI UI Badan Hukum memberikan pembelaan terhadap Rocky Gerung, Minggu (22/4).
Menurut Hidayat, Rocky Gerung ialah salah satu alumnus UI berani, senantiasa menggunakan kecerdasan bertutur kata dan tidak pernah takut dalam menyuarakan kebenaran. 
“Alumni UI bersyukur memiliki sosok aktivis bernama Rocky Gerung.” ungkapnya.
Hidayat menilai filosofi Rocky Gerung (RG) soal pendidikan sangat menarik. Ketika RG mengatakan “UI Dungu” sebenarnya RG sedang mengkritik dunia pendidikan secara umum. 
Penyebutan RG terkait “dungu” dilatarbelakangi kondisi jurusan filsafat UI yang, menurutnya, sekarang dipimpin oleh yang tidak memiliki latarbelakang ilmu filsafat. “Gimana orang enggak ngerti filsafat bikin kurikulum filsafat? Ya, gitu. Itu kritik saya,” kata Rocky. 
“Kalimat tersebut adalah otokritik kepada dunia pendidikan yang sering abai dengan kompentensi keilmuan dalam menentukan suatu jabatan tertinggi dalam lingkungan kampus”. 
Kritis itu ada benarnya. Jika pemilihan jabatan pendidikan dikaitkan “like dan dislike”, bukan berdasarkan keilmuan, maka kacau nanti dunia pendidikan kita. 
Apalagi jika dunia pendidikan hilang sikap kritisnya dan kemudian menjadi tukang stempelnya pemerintah. 
Kampus harusnya jauh-jauh dari kekuasaan sehingga kritik civitas akademika menjadi bahan bacaan rakyat dalam menyeimbangkan kekuasaan. 
“Bukan dengan mengundang penguasa untuk seremonial seperti Dies Natalies, penguasa diundang di kampus seharusnya untuk didebat soal kebijakannya bukan disanjung-sanjung tapi BBM subsidi langka dilapangan. Tambah hidayat. 
ILUNI UI berpesan kepada Rocky Gerung untuk tetap kritis dan mengajar sehingga civitas akademika UI yang takut dalam mengkritik penguasa menjadi berani. 
“Mas RG, tetaplah kritis, yakinlah kebenaran tidak dapat dibungkam oleh kekuasaan, setelah RG, saya yakin ada banyak lagi alumni dan civitas akademika lain yang mengikuti jejaknya”
Hidayat berharap pimpinan Universitas Indonesia dalam melihat RG dan dosen kritik lainnya sebagai keanekaragaman intelektual yang dimiliki UI. 
“Mereka adalah aset, kenapa aset dibuang dan diabaikan.” Hidayat menambahkan “Rektor yang berfikir besar seharusnya mendukung dan menumbuhkan sikap kritis di dunia pendidikan” 
Reformasi 1998, tidak akan terjadi, jika rektor UI saat itu berfikir sempit karena tidak ada mahasiswa yang berani kritik kekuasaan karena dosen2nya sudah takut membela kebenaran.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =

Rekomendasi Berita