by

Inflasi Harga Dampak Kapitalisme 

-Opini-26 views

 

 

Oleh : Desi Nurjanah, S.Si*

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA — Petani harus dilibatkan dalam perencanaan pertanian baik dari pengadaan bibit, proyeksi-proyeksi tanam atau kalender tani sampai perkiraan harga.

Terkait kebijakan harga produk tani, pemerintah jangan hanya melihat dari sisi harga di pasar saja akan tetapi harus melihat harga dari kebunnya.

Para petani mengalami ketidakpastian harga, ketidakpastian pupuk dan ketidakpastian bibit (dara.co.id, 16/1/2021).

Bagaikan oase di gurun pasir jika para petani mampu dilibatkan dalam perencanaan pertanian. Karena, pada sistem kapitalis seperti saat ini yang akan dilibatkan dalam perencanaan pertanian baik secara pengadaan bibit, proyeksi tanam hingga penentuan harga di pasar adalah para pengusaha dan pemilik modal yang sudah dipastikan tidak akan mendengar dan pro terhadap petani karena kebijakannya akan disesuaikan dengan kepentingan para kapitalis pemilik modal.

Begitupun dengan pemerintah yang hanya melihat dari segi harga pasar saja dan tidak meninjau harga dari kebun secara langsung.

Padahal harga dari kebun dengan harga yang ada di pasar sangat jauh perbedaannya, bahkan hingga mampu membuat inflasi karena harga di pasar diserahkan sepenuhnya kepada para pengusaha yang mengikuti mekanisme pasar.

Negara dalam hal ini penguasa bertindak hanya sebagai regulator saja, tidak memperhatikan mulai dari produsen yaitu para petani, kemudian distribusi hasil pertanian hingga daya beli konsmen terhadap hasil pertanian.

Selain itu, para petani mengalami ketidakpastian harga, pupuk dan bibit yang berimbas pada kesejahteraan petani. Karena saat ini harga masih dikendalikan oleh para pengusaha.

Sedangkan pupuk bersubsidi keberadaanya masih sangat terbatas bahkan banyak para petani yang menggunakan pupuk non subsidi sehingga lebih banyak mengeluarkan modal, akan tetapi tidak sebanding saat hasil pertanian di jual. Hal ini yang membuat para petani tidak merasakan kesejahteraan.

Berbeda halnya dengan Islam yang mampu memberi kesejahteraan terhadap para petani, karena Islam sangat memperhatikan nasib para petani.

Contohnya seperti penguasa tidak diperbolehkan untuk menetapkan harga di pasar karena hal ini menyangkut jual beli yang diperbolehkan mengambil keuntungan.

Akan tetapi, bukan berarti negara berlepas tangan tidak mengontrol aktivitas jual beli apalagi sampai masyarakat kehilangan daya beli.

Negara akan memastikan jika modal para petani yang dikeluarkan lebih kecil dari keuntungan yang didapat. Selain itu, negara mengawasi mulai dari proses produksi, distribusi hingga sampai kepada konsumen dan konsumen mampu membeli barang-barang kebutuhannya. Sehingga tidak akan terjadi inflasi dan kecurangan di tengah-tengah masyarakat.

Sistem pengelolaan semacam ini pernah diterapkan oleh Islam selama lebih dari 13 abad di masa kejayaan Islam.[]

*Mahasiswi S2 Gazi University Ankara Turki

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 3 =

Rekomendasi Berita