by

Keluarga Muslim Cinta Syariah

-Opini-43 views

 

 

 

Ina Agustiani, S.Pd*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kisah sedih untuk para orang tua yang anandanya gemar dengan tontonan mendidik, Nussa dan Rara. Bagaimana tidak, awal tahun ini, tayangan Nussa the series sudah tidak lagi tayang. Episode Ka’bah adalah episode yang terakhir. Tentu banyak pihak bertanya, mengapa bisa berhenti?

Ustad Felix Siauw memberi komentar, bahwa sejak pandemi 70% karyawan telah dirumahkan. Tak kalah lebih menyesakkan adalah adanya laporan Nussa adalah konten radikal, entah darimana pikiran itu.

Berkaitan dengan radikal, fakta terbaru penyusupan teroris menjadi issue hangat saat ini. Sebaran ajaran radikal pada anak menyusup ke jaringan lapisan masyarakat. Mengikutsertakan anak dalam long march/ pawai/ 212, belajar memakai pakaian takwa sejak dini, menerapkan perbedaan mahrom dan non mahrom, diajarkan nyanyian bertema tauhid ; semua adalah jastifikasi masuknya faham radikal pada anak. Itulah yang diusung oleh orang-orang penganut faham kebebasan.

“Home Sweet Home” atau “Rumahku Surgaku” adalah istilah familiar, di mana didalamnya adanya kehangatan ayah, ibu, kakak, adik dan anggota keluarga lain, semua memerankankan fungsi dan tanggung jawabnya. Jika semua berjalan lancar, rumah akan hangat dengan kasih sayang, tapi jika tak bisa menjalankannya, pola komunikasi sudah tidak ada, maka rumah akan seperti neraka.

Keluarga Rasulullah Saw adalah contoh teladan bagi semua muslim dalam mewujudkan makna sakinah (damai), mawaddah (memiliki harapan), wa rahmah (kasih sayang).

Suri teladan untuk umat muslim, Rasul bergaul dengan anak dan istri-istrinya dalam suasana penuh kelembutan, keakraban, persahabatan dan tanggung jawab.

Ibnu Majah meriwayatkan Nabi Saw. pernah bersabda, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada istri-istrinya.”
Kecintaan terhadap keluarga juga harus memiliki pemahaman yang benar, diikat dengan aturan syara dan konsekuensi keimanan.

Tugas ayah sebagai kepala (qawwam) dan istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait). Suami atau ayah ibarat pemimpin nakhoda di lautan membawa perahu besar, melindungi agar perahu tak berbelok arah, diterjang angin badai masih sanggup melaju, agar sampai tujuan dengan selamat (surga).

Menyelamatkan perahu itu dimulai sedari kecil dengan penanaman akidah, contohnya kewajiban muslimah yang menutup aurat seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan, laki-laki auratnya dari pusar sampai lutut. Juga kewajiban dakwah yang diemban oleh setiap individu muslim. Keluarga muslim harus terlibat dalam perbaikan masyarakat, untuk menegakkan syariat Islam Kaffah. Itulah idealnya kehidupan keluarga muslim.

Tuduhan demi tuduhan pun kerap dialami, disebut keluarga pangkal radikalisme karena mengajarkan Islam kaffah, tidak toleran dan sebagainya. Standar keluarga ideal arahannya adalah keluarga moderat, boleh rumah diurus dengan syariat, tapi diluar rumah aturan masyarakat jangan diurusi/ bebas.

Muncul berbagai masalah, generasi muslim terancam dengan perilaku meyimpang, LGBT, sex bebas, narkoba di depan mata, sulit untuk mencapai ketaatan berjamaah dalam keluarga.

Kondisi lapangan pekerjaan semakin sulit untuk ayah apalagi di masa pandemi, ibu yang mau tak mau harus rela membantu ekonomi keluarga. Peran negara untuk mencapai kesejahteraan sulit didapat, dengan korupsi merajalela dimana-mana, pada akhirnya rakyat jadi korban.

Mengarahkan persoalan kepada keluarga hanya mengalihkan permasalahan negara untuk issue lain. Padahal kehidupan yang jauh dari syariat Islam itulah yang menjadi pangkal kerusakan saat ini. Banyaknya keluarga yang ingin mencontoh bagaimana Rasulullah membangun keluarga tapi terkendala dengan keadaan juga disebabkan sistem kapitalis liberal.

Harapan kita bersama, keluarga yang cinta Nabi Saw., taat kepada syariat, kehidupan sejalan dengan keberkahan, kebutuhan terpenuhi, peduli kepada persoalan umat. Cita-cita keluarga muslim yang tak hanya berfokus pada perbaikan individu tetapi kepada masyarakat dengan Islam Kaffah. Aamiin.[]

Sumber dan referensi:

1.muslimahnews.com
2.cnnindonesia.com
3.muslimahnews.com

*Praktisi pendidikan

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − eleven =

Rekomendasi Berita