Ironi Moral di Dunia Pendidikan

Opini1476 Views

Penulis: Risma Febrianti | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pendidikan sejatinya menjadi sarana utama dalam memajukan dan mengharumkan suatu bangsa. Melalui pendidikan, diharapkan lahir generasi berkarakter, berkepribadian luhur, serta mampu menata kehidupan manusia dengan nilai-nilai kebaikan.

Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Namun, di tengah era sekuler saat ini, cita-cita luhur tersebut tampak tidak mudah diwujudkan. Pendidikan yang semestinya menjadi tonggak peradaban justru kerap dihadapkan pada realitas menurunnya kualitas moral dan karakter.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan muncul sebagai gejala dari sistem kehidupan yang lebih luas.

Sebagaimana diberitakan, pada Minggu (12/04), jagat maya dihebohkan oleh dugaan perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Indonesia.

Dalam sebuah grup percakapan media sosial, mereka diduga melontarkan ujaran bernuansa pelecehan terhadap teman perempuan hingga dosen. Kasus serupa juga mencuat dari lingkungan kampus lain.

Seperti dilaporkan, mahasiswa Teknik Mesin dan Biosistem diduga terlibat percakapan yang merendahkan bagian tubuh perempuan dalam grup chat mereka, sebagaimana ramai diunggah di media sosial X dan dilihat oleh detikcom pada Rabu (15/4).

Dua peristiwa tersebut menjadi potret ironi yang pahit bagi dunia pendidikan Indonesia. Apa yang tampak di permukaan bisa jadi hanyalah fenomena gunung es dari persoalan yang lebih dalam.

Maraknya perilaku tercela, seperti obrolan bernuansa pelecehan seksual, tidak lepas dari akumulasi berbagai faktor dalam kehidupan sosial.

Kemudahan akses terhadap tontonan vulgar tanpa filter yang memadai, lemahnya kontrol keluarga terhadap perilaku anggota rumah tangga, hingga minimnya kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor yang saling berkaitan.

Pengabaian terhadap nilai-nilai ketuhanan membuat sebagian individu kehilangan kompas moral, sehingga bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual.

Dalam konteks ini, persoalan moral di dunia pendidikan tidak cukup diselesaikan secara parsial. Diperlukan sinergi dari berbagai pihak untuk menghadirkan perubahan yang nyata.

Kesadaran individu terhadap norma dan nilai agama harus diperkuat, keluarga perlu lebih waspada dan proaktif dalam mengawasi perkembangan perilaku anggotanya, serta negara wajib hadir secara optimal sebagai pelindung masyarakat.

Peran negara tidak hanya sebatas regulasi, tetapi juga memastikan ekosistem sosial yang sehat.

Pengawasan terhadap konten yang merusak moral, penegakan aturan terkait pergaulan bebas, serta penyediaan ruang-ruang pembinaan spiritual menjadi langkah yang tidak bisa diabaikan.

Dengan demikian, masyarakat dapat kembali terhubung dengan nilai-nilai ketuhanan dan memahami hakikat kehidupan, bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.

Jika upaya ini dilakukan secara menyeluruh, maka harapan untuk mengembalikan marwah pendidikan sebagai pilar peradaban bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sebaliknya, jika diabaikan, ironi moral ini akan terus berulang dan berpotensi merusak masa depan generasi serta arah bangsa.[]

Comment