Islam dan Perlindungan Terhadap Perempuan

 

 

Penulis: Hildayanti, S.E | Staf Dinas Kearsipan

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, 16 Days of Activism Against Gender Violence merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Sebagai institusi nasional hak asasi manusia di Indonesia, Komnas Perempuan menjadi inisiator kegiatan ini di Indonesia.

Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Paradoks

Meski demikian, pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menilai bahwa kampanye ini menunjukkan adanya paradoks.

Menurutnya, seperti ditulis MNews, Senin (27-11-2023), pada kampanye yang sudah dilakukan selama 32 kali, tampak nyata paradoks keinginan dunia untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. [Ini karena] secara signifikan, justru terjadi peningkatan kekerasan keji terhadap perempuan di Gaza selama lebih dari 40 hari.

Arum melanjutkan, banyak perempuan menjadi korban perang dalam berbagai bentuk, mulai dari hancurnya rumah, harus mengungsi, kehilangan suami dan anak, bahkan banyak yang kehilangan nyawa.

Lebih tragis lagi, lanjutnya, masih di laman yang sama, banyak perempuan Gaza terpaksa melahirkan bayi lebih cepat dari waktu seharusnya (baca: prematur) karena ketegangan perang, bahkan banyak yang harus menjalani operasi tanpa anestesi! Ini adalah kekerasan yang sangat parah.

Perempuan Gaza, lanjut Arum bahkan juga terpaksa minum pil kontrasepsi untuk mencegah menstruasi yang merupakan siklus alamiah seorang perempuan.

Hal itu, kata Arum lagi, terpaksa dilakukan karena kurangnya ketersediaan air dan produk sanitasi seperti pembalut, serta ketiadaan privasi, padahal penggunaan pil tanpa indikasi yang benar akan berisiko munculnya efek samping yang bisa membahayakan.

Arum menyayangkan, kampanye 16 HAKtP selalu menyerukan menghormati hak reproduksi perempuan, tetapi pada faktanya, dunia tidak membela perempuan Gaza yang membutuhkan layanan bagi keberlangsungan reproduksi yang sehat dan menyejahterakan.

Seharusnya, harap Arum, dunia memberikan layanan persalinan yang aman dan memenuhi standar layanan kesehatan.

Dari banyaknya hari peringatan antikekerasan terhadap perempuan, sejatinya menunjukkan bahwa sistem sekuler kapitalisme telah gagal melindungi dan mencegah perempuan dari kekerasan. Apa alasannya?

Pertama, dibentuknya peringatan 16 hari dengan berbagai momen telah mengindikasikan bahwa kapitalisme tidak memiliki format baku dalam melakukan tindakan promotif, preventif, dan kuratif dalam upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan. Banyaknya peringatan hari secara simbolis menandakan bahwa banyak masalah yang tidak tuntas dengan penerapan sistem kapitalisme sekuler.

Kedua, sejak 32 tahun lalu kampanye ini diaruskan, kekerasan pada perempuan cenderung meningkat. Berdasarkan data pada sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), sepanjang 2023 terdapat 11.116 kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia dengan 4.277 kasus terhadap perempuan usia dewasa dan 6.745 kasus terhadap anak.

Pada 2022, angka kekerasan jauh lebih tinggi daripada 2021, yakni mencapi 27.593 kasus dari 25.210 kasus kekerasan. Di sisi lain, berdasarkan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), tercatat kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 457.895 kasus pada 2022. (Goodstats, 19-6-2023).

Artinya, gerakan solidaritas atau kampanye semisal tidak akan bisa menuntaskan persoalan kekerasan terhadap perempuan sebab masalah kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dilihat kasus per kasus. Ada faktor utama yang memicu penyebab kekerasan pada perempuan selalu muncul dengan beragam kasus.

Semua bermula dari diterapkannya sistem sekuler kapitalisme yang memandang perempuan sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan.

Biang Masalah Kekerasan

Menurut beberapa ahli, ada banyak faktor yang memicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Di antaranya kemiskinan, budaya patriarki yang katanya mendiskriminasi perempuan, perselingkuhan, nikah dini, dan rendahnya kesadaran hukum.

Jika kita membahas faktor pemicunya adalah kemiskinan, hal ini tidak bisa terlepas dari aspek-aspek pendorong kemiskinan itu sendiri. Misalnya, sulitnya para suami mencari nafkah dalam sistem saat ini. Sebaliknya, perempuan lebih banyak menjadi tulang punggung karena pekerjaan untuk perempuan lebih banyak tersedia ketimbang laki-laki.

Walhasil, jika laki-laki dan perempuan saling bertukar posisi dan peran yang tidak sesuai fitrahnya, keharmonisan rumah tangga pun akan terganggu. Hal ini akan memicu KDRT, perselingkuhan, hingga perceraian. Ini baru satu aspek, tetapi efek dominonya sudah ke mana-mana.

Belum lagi jika bicara tentang pemicu lainnya, seperti pernikahan dini. Nikah dini lebih banyak terjadi pada remaja yang hamil di luar nikah. Akhirnya, mereka menjadi orang tua muda yang labil, tidak cukup cakap dalam ilmu rumah tangga, finansial terganggu, dan ujungnya terjadilah kekerasan pada pasutri muda hingga pembunuhan.

Faktor gaya hidup liberal sekuler turut berperan merusak generasi muda. Kasus pelecehan seksual, perzinaan, dan aborsi adalah di antara kasus yang marak terjadi di kalangan anak muda.

Sistem kehidupan sekuler kapitalisme sangat tampak pada gaya hidup sekuler liberal. Kebebasan berperilaku atau berekspresi membuat kaum perempuan menjadi objek kekerasan, baik verbal maupun seksual. Dalam pandangan Barat, bentuk eksploitasi hanya berlaku pada kasus eksploitasi seksual secara ilegal, seperti pemerkosaan, pedofilia, atau sejenisnya. Namun, pada kasus perzinaan yang lebih didasari suka sama suka malah tidak disebut sebagai eksploitasi dan kemaksiatan, padahal keduanya sama-sama wajib ditentang dan dilarang.

Memang tiada asap tanpa api. Tidak akan ada kekerasan tanpa ada penyebabnya. Kekerasan fisik ataupun kekerasan seksual yang menimpa perempuan bukan semata salah laki-laki yang tidak mampu menjaga nafsu ataupun salah perempuan yang tidak pandai jaga diri, melainkan lebih kepada sistem kehidupan sekuler kapitalisme yang menjadikan keduanya hidup tanpa aturan jelas. Serba bebas dan bablas.

Bahkan, perempuan menjadi komoditas sensual yang hanya dilihat dari bentuk dan rupa fisiknya. Perempuan juga kerap menjadi bumper ekonomi kapitalisme sehingga perannya sebagai ibu pendidik generasi sangat berkurang. Alhasil, anak-anak pun tumbuh tanpa bimbingan dan didikan optimal dari kedua orang tuanya.

Selain itu, hilangnya kontrol masyarakat mencegah kekerasan, perilaku individualistis masyarakat, lemahnya sistem pendidikan dan penegakan hukum yang tidak memberi efek jera. Semua itu terjadi sebagai konsekuensi logis diterapkannya sistem sekuler kapitalisme.

Begitu pun dengan budaya patriarki, sebenarnya juga bukan menjadi faktor pemicu kekerasan pada perempuan. Kacamata Islam dan kapitalisme sangat berbeda secara diametral dalam memandang perempuan.

Kekerasan terhadap Pekerja Perempuan

Ide kesetaraan gender memaksa perempuan untuk keluar rumah agar bisa disebut “pahlawan keluarga”. Bersama-sama laki-laki, mereka bekerja dan berkiprah di ranah publik agar derajatnya sama, yakni sama-sama bebas menentukan nasibnya sendiri. Oleh karenanya, untuk menghilangkan diskriminasi yang marak terjadi, perempuan didorong untuk berdaya dan memimpin.

Sayangnya, ide kesetaraan yang mereka perjuangkan malah membawa perempuan pada kemalangan yang makin nyata. Lihat saja nasib para pekerja perempuan yang dianggap sebagai pahlawan keluarga, sudahlah memikul beban ganda (menjadi pengasuh dan pengatur rumah, serta pencari nafkah), mereka harus berhadapan pada realitas kekerasan di dunia kerja. Sungguh malang perempuan kini, semua tempat seolah tidak aman lagi. Dalam rumah dianiaya, begitu pun di tempat kerja.

Organisasi Perempuan Mahardika yang melakukan aksi nasional memperingati 16 HAKTP seperti ditulis laman Tempo, (27-11-2022) memaparkan betapa maraknya kekerasan terhadap pekerja perempuan, terutama di sektor tekstil, makanan, ataupun minuman yang mayoritas pekerjanya adalah perempuan. Sudahlah rentan kekerasan, buruh perempuan ternyata juga menjadi kelompok pertama yang akan di-PHK.

Kekerasan terhadap Anak

Persoalan ide kesetaraan tidak terhenti pada diri perempuan yang tidak aman di semua tempat, melainkan juga berlanjut pada nasib anak-anaknya. Maraknya kekerasan terhadap anak, terutama anak perempuan, makin memprihatinkan saja. Kasus pemerkosaan dan sodomi anak, perundungan, dan sebagainya, salah satunya diakibatkan oleh abainya orang tua dalam proses pengasuhan.

Ayah dan ibu sibuk bekerja. Sang ibu yang seharusnya hadir mencurahkan kasih sayangnya, malah sibuk dengan urusannya sendiri, di sisi lain rentan terkena KDRT dan kekerasan di tempat kerja. Pada akhirnya, keluarga menjadi tempat yang tidak nyaman dan tidak aman.

Seperti halnya perempuan dewasa, anak perempuan pun rentan mengalami kekerasan di luar maupun dalam rumah. Di sekolah yang seharusnya menjadi tempat terbaik dalam menimba ilmu, hari ini malah menjadi tempat terenggutnya nyawa akibat kasus perundungan. Begitu pun laki-laki, mereka tidak luput dari penganiayaan manusia-manusia biadab. Lihatlah kasus anak membunuh ayahnya, ibu mencabuli anaknya, anak dibunuh temannya, dan sebagainya. Astagfirullah.

Oleh karenanya, ide kesetaraan gender telah nyata makin menyebabkan perempuan teraniaya. Begitu pun konsep HAM, menjadikan semua orang merasa bebas bertindak atas nama hak asasi. Bukankah ini justru mendorong seseorang berbuat jahat pada yang lainnya?

Ide kesetaraan gender dan HAM sendiri sejatinya lahir dari pandangan hidup Barat yang serba liberal. Liberalisasi yang lahir dari paham sekulerlah akar persoalan maraknya kekerasan terhadap perempuan. Oleh sebab itu, memperjuangkan UU TP-KS yang dianggap mampu menghukum pelaku kekerasan adalah perbuatan sia-sia ketika sistem demokrasi yang menjamin liberalisasi di negeri ini masih diterapkan.

Islam Memuliakan Perempuan

Dalam pandangan Islam, perempuan adalah sosok yang wajib terlindungi dan mulia. Untuk itulah Allah Taala memberikan segenap aturan terperinci terkait kedudukan, hak, dan kewajiban laki-laki dan perempuan secara proporsional dan berkeadilan.

Pertama, perempuan wajib terjaga dan terjamin. Adapun larangan-larangan yang berlaku semata-mata untuk menjaga perempuan dari kehinaan. Bagi Islam, perempuan itu bagai permata; berharga dan mulia. Penghargaan dan kemuliaan itu terwujud dalam pengaturan hak dan kewajiban bagi perempuan.

Di hadapan Allah, laki-laki dan perempuan sama, yaitu mereka adalah hamba Allah yang wajib taat kepada-Nya. Sebagai manusia dan hamba, ketakwaanlah yang menjadi barometer ketinggian derajat seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Alhasil, seorang laki-laki tidak dibenarkan mengeklaim dirinya memiliki derajat lebih tinggi dibanding perempuan, terkecuali ia mengunggulinya dalam segi ketakwaan.

Jadi, tidak ada siapa pun yang mengungguli siapa pun, kecuali atas dasar ketakwaannya di sisi Allah Swt., sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS An-Nisa [4]: 124).

Jika ada perbedaan peran dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, hal ini bukan karena budaya patriarki, diskriminasi, ataupun pengekangan. Namun, ini adalah wujud harmonisasi dan sinergi antara laki-laki dan perempuan dalam memainkan peran masing-masing sesuai fitrah yang Allah tetapkan.

Kedua, Islam memiliki sistem sosial masyarakat yang khas, yakni pergaulan Islam yang meliputi berbagai kewajiban bagi perempuan agar senantiasa terjaga dan terlindungi. Di antaranya adalah kewajiban menutup aurat dan pakaian yang syar’i (jilbab dan kerudung); kewajiban menjaga kemaluan bagi laki-laki dan perempuan; larangan khalwat, tabaruj, dan ikhtilat; kebolehan interaksi laki-laki dan perempuan hanya dalam perkara muamalah yang dibenarkan syariat Islam; larangan berzina, dll.

Ketiga, peran negara dalam mencegah serta menangani rusaknya pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Negara akan menutup rapat pintu-pintu yang memicu naluri jinsiyah seperti konten-konten porno, atau tayangan yang membangkitkan naluri seksual.

Jika masih ada pelanggaran, negara akan melakukan penindakan secara adil dengan menegakkan sistem sanksi tegas kepada pelaku kejahatan seksual atau tindak kekerasan kriminal lainnya. Seperti hukuman bagi pezina dengan dicambuk 100 kali bagi pezina ghairu muhsan. Jika sudah menikah, dirajam sampai mati, hukuman mati bagi pelaku homo, dan sebagainya. Dengan penerapan Islam secara kafah, laki-laki maupun perempuan akan terjaga dan terlindungi.

Islam memiliki sudut pandang khas terhadap perempuan, yaitu perempuan adalah makhluk yang harus dilindungi. Kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sejajar dalam ketakwaannya, tetapi Allah Taala memberikan syariat yang berbeda kepada keduanya. Hal demikian ditujukan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga dan juga masyarakat.

Ketika Allah menetapkan kewajiban nafkah pada para laki-laki dan kewajiban ummun warabbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga) bagi perempuan, sungguh hal itu bukanlah untuk mengerdilkan yang satu dan meninggikan yang lain. Semua itu diatur semata karena Sang Pencipta manusia lebih mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Itulah sudut pandang Islam terhadap perempuan. Perempuan adalah mitra laki-laki, baik dalam kehidupan domestik maupun publik. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR Abu Daud). Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, perempuan itu mirip dan semisal dengan laki-laki.” (An-Nihayah, 2: 492).

Selain itu, Islam juga memiliki konsep bahwa negaralah yang menjamin terlindunginya perempuan dari segala macam bahaya, termasuk kekerasan. Kalau sistem demokrasi menjamin kebebasan perempuan, sedangkan Islam menjamin perlindungan bagi perempuan.

Inilah konsep Islam dalam melindungi perempuan yang tidak akan pernah bisa didapatkan dalam sistem kehidupan sekuler liberal hari ini. Hanya saja, konsep Islam tidak mungkin bisa diterapkan sempurna jika sistemnya masih batil, yaitu demokrasi kapitalisme. Waalahu ‘alam bisshawaab.[]

Comment