Potret Infrastruktur Pendidikan Kapitalisme dan Islam, Sebuah Komparasi

 

 

Penulis: Revista Rizky | Mahasiswi Pascasarjana Universitas Negeri Malang

 

RADARI DONESIANEWS.COM, JAKARTA- Pendidikan merupakan suatu sistem untuk melakukan pengembangan potensi dan mencerdaskan manusia agar siap menghadapi kehidupan yang akan datang.

Pendidikan dalam sebuah negara sangat penting untuk diperhatikan dan ditingkatkan. Setiap negara akan berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem pendidikan pada negaranya masing-masing, baik dari segi kualitas tenaga pengajarnya, penggunaan metode yang digunakan pada peserta didiknya, fasilitas yang dibutuhkan, dan lain-lain.

Dari sekian banyak negara, Indonesia masih tergolong rendah terkait sistem pendidikan dikarenakan beberapa hal yaitu, kurangnya sarana dan prasarana yang menjadi penunjang pembelajaran.

Seperti dilansir dari CNN Indonesia (5/12/2023), Presiden Joko Widodo menegur Menteri Pendidikan yaitu Nadiem Makarim tentang ketimpangan infrastruktur pendidikan. Ia mengatakan bahwa guru menghadapi tantangan berat di masa ini. Salah satunya terkait perkembangan teknologi. Pasalnya, tidak semua guru di Indonesia bisa mengakses teknologi terkini. Jokowi mengakui bahwa infrastruktur pendidikan belum merata.

Persoalan pemerataan infrastruktur pendidikan di Indonesia merupakan persoalan yang tidak pernah usai. Meski pergantian menteri pendidikan terus dilakukan namun sampai hari ini persoalan pendidikan di Indonesia semakin menggunung. Pasalnya, persoalan pemerataan perubahan kurikulum yang terjadi pun belum tertuntaskan dan merata hingga saat ini, bahkan membuat para guru harus beralih pengalaman dengan membiasakan diri dengan kurikulum terbaru.

Selain itu, masih ada keterbatasan guru mengakses referensi yang belum merata.  Adanya manajemen waktu yang harus disesuaikan kembali justru semakin membuat persoalan pendidikan hari ini khususnya terhadap para guru bekerja di bawah tekanan tuntutan kurikulum.

Terlebih lagi kurangnya infrastruktur yang tersedia di setiap sekolah menjadi sebuah tantangan besar bagi para guru untuk memberikan pendidikan terbaik kepada peserta didik, sebab kebutuhan infrastrutur di setiap daerah masih sangat banyak yang belum tercukupi hingga saat ini.

Tidak sampai di situ saja, masalah kesejahteraan bagi guru pun sebenarnya belum juga tuntas. Masih banyak guru yang tidak bakal menjadi ASN karena berbagai kendala.

Di sisi lain pernyataan Presiden terkait insfrastruktur pendidikan yang tidak merata menyiratkan ketidakberdayaan sebuah negara dalam upaya menjamin terselenggaranya pendidikan.

Era digital merupakan masa yang tidak bisa kita hindari saat ini. Hal itu juga diakui oleh Jokowi terjadi dalam bidang pendidikan. Infrastrutur pada sistem pendidikan mungkin memang bukan segalanya.

Meski banyak peserta didik yang lahir dari sekolah atau kampus dengan keterbatasan fasilitas tetap punya prestasi dan daya juang yang tinggi, namun bukan berarti keberadaan infrastruktur pendidikan bisa diabaikan. Karena jika terabaikan akan berdampak semakin menggunung perosalan hingga berpengaruh terhadap kualitas peserta didik.

Lantas mengapa ketidak- merataan infrastrutur pendidikan hari ini baru disadari? Bukankah ini persoalan klasik? Apa sebenarnya yang menjadi fokus bagi arah pandang sistem pendidikan ke depan? Bukankah penguasa selama ini berfokus pada gencarnya upaya menyuarakan moderasi beragama di sektor pendidikan sementara di satu sisi tak acuh terhadap solusi permasalahan infrastruktur pendidikan?

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dan strategis untuk kemajuan suatu bangsa. Pendidikan bahkan disebut sebagai tonggak tegaknya peradaban. Oleh karena itu, sejatinya pendidikan mendapat perhatian utama penguasa dalam semua aspeknya.

Ketimpangan infrastrutur pendidikan yang tidak semestinya menjadi fenomena gunung es –  seolah tampak kecil tetapi memendam jauh lebih banyak permasalahan yang tidak disangka-sangka.

Maka orientasi pendidikan menjadi komoditas ekonomi sebagaimana dalam sistem kapitalisme saat ini menjadi sangat berbahaya. Pendidikan dalam konteks ini menjadi barang yang sangat mewah. Tidak pelak makin lengkap infrastruktur pendidikan yang menyertai, makin mahal pula biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat.

Swastanisasi pendidikan juga semakin marak, tidak terkecuali pergantian status sejumlah perguruan tinggi negeri menjadi PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum). Reputasi dan akreditasi internasional pada sekolah-sekolah dan perguruan tinggi pun tidak ubahnya menjadi stempel untuk melegalkan harga mahal pendidikan hari ini.

Lantas bagaimana nasib generasi di daerah-daerah? Apakah mereka hanya layak berharap kosong ketika korban ketimpangan infrastruktur itu ternyata adalah diri mereka sendiri?

Infrastruktur Pendidikan pada masa kejayaan Islam

Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah dari Anas ra.).

Hadits ini mengisyaratkan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban setiap muslim. Maka menjadi sangat urgen mengembalikan hakikat sistem pendidikan sebagai kebutuhan pokok publik yang haram untuk dikapitalisasi. Pemerintah harus fokus dan serius menjalankan fungsi dan kewajiban mengelola pendidikan atas dasar dan kebijakan berbasis kepentingan rakyat.

Infrastrutur pendidikan adalah bagian dari urusan masyarakat yang harus diselenggarakan oleh pemerintah dengan kualitas dan kuantitas yang memadai dan bebas biaya. Penguasa tidak boleh menganggap sepele dalam pengelolaan pendidikan sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung-jawaban atas yang dipimpinnya”. (HR.Bukhari dan Musli).

Pada masa kejayaan peradaban islam terdapat kota-kota tertentu yang menjadi pusat pendidikan, seperti Madinah, Baghdad, Damaskus, dan Al-Quds. Masyarakat baik dari dalam dan luar negeri Islam berbondong-bondong melangkahkan kaki menuju kota-kota tersebut demi mereguk aliran ilmu langsung di pusat mata airnya.

Namun kota-kota tertentu yang berkembang menjadi pusat pendidikan itu bukanlah alasan untuk membuat akses pendidikan menjadi tidak merata. Untuk itu, infrastrutur berupa sarana dan prasarana pendidikan tidak perlu lagi dipertanyakan.

Lahirnya para ulama mahzab, seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi adalah buktinya. Juga para perawi hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ditambah lagi lahirnya para ilmuwan di bidang sains dan teknologi seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Idrisi, Al-Jazari, Ibnu Haytsami, dan juga Al-Birruni. Riset para ilmuwan muslim ini berbasis ilmiah dan hasilnya bisa dinikmati masyarakat dunia hingga saat ini.

Demikian pula dengan berdirinya perguruan tinggi tertua di dunia seperti Universitas Al-Qarawiyyah di Maroko, Universitas Al-Azhar di Masir serta Universitas Cordoba di Andalusia, menunjukan betapa maju sistem pendidikan di masa kejayaan peradaban Islam. Wallahu’alam bisshawab.[]

Comment