Isnawati: Dibalik Gelar Negara Paling Santai

Berita1403 Views
 Isnawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia adalah negara yang paling santai di dunia, mengalahkan Australia, Islandia dan 12 negara lain di dunia. Ada sejumlah fakta yang dianalisis para peneliti melalui studi terbaru lastminute penyedia jasa perjalanan Eropa.
Penemuan garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer serta mempunyai ruang hijau lebih dari 186 dengan suhu rata-rata 25 derajat celcius dilengkapi dengan 66 spa dan retret kesehatan menjadikan Indonesia sebagai tempat tinggal yang nyaman dengan menawarkan pengalaman bersantai terbaik.
Tak dapat dipungkiri keindahan bumi pertiwi sudah amat sangat terkenal diseluruh penjuru dunia. Wisatawan mancanegara rela mengeluarkan ribuan bahkan puluhan ribu dollar demi menikmati keindahan alam yang ditawarkan Indonesia. Menelusuri hutan tropis, mendaki gagahnya gunung yang menjulang tinggi atau bahkan sekedar ingin menikmati sinar mentari dibibir pantai.
Kebersihan, kelengkapan informasi wisata, kemudahan transportasi , ketersediaan penginapan hingga keramahan penduduknya menjadi poin tujuan wisatawan mancanegara.
Releksasi yang santai untuk memanjakan momen liburan dihari libur tentunya diperbolehkan selama bertujuan meningkatkan iman dan ketakwaan pada Sang Pencipta, sayangnya fakta yang ada berkata lain bahwa tempat wisata adalah sarang kemaksiatan.
Pemberian gelar Indonesia sebagai negara paling santai menimbulkan banyak pertanyaan dihati umat. Indonesia adalah negeri muslim terbesar yang potensial menjadi benih awal kebangkitan dari segala sendi kehidupan.
Skenario global untuk memandulkan potensi kebangkitan pada umat sangat nampak dengan mempropagandakan Indonesia sebagai negara destinasi pariwisata terbaik terbukti dari masifnya proses liberalisasi dan sekulerisme melalui pariwisata.
Memang pariwisata mendapat legitimasi dari berbagai perspektif namun di negeri sekulerisme dunia pariwisata sebagai industri kemaksiatan tingkat tinggi, pembawa bencana erosi, degradasi dan abrasi moral. Dimana praktik prostitusi, tindakan kejahatan semakin merajalela, generasi muda jauh melenceng terkontaminasi dengan budaya luar yang bertentangan dengan norma dan agama.
Keadaan ini diperparah lagi dengan kesadaran idiologi umat yang sangat rendah karena belum tertunjuki bahwa ada upaya penjajahan negara barat lewat sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan pariwisata.
Kesadaran bahwa fenomena ini adalah ciri khas dalam sistem kapitalisme neoliberalisme yang akan menghancurkan tatanan kehidupan dalam berbangsa harus segera dilakukan menuju perubahan yang hakiki yaitu Islam kaffah.
Menikmati keindahan adalah hal yang mubah atau diperbolehkan dengan tujuan agar keimanan dan ketakwaan semakin meningkat. Dalam Islam pariwisata bukanlah penghasil devisa yang tidak akan dieksploitasi sebagai keuntungan bisnis apalagi sebagai tulang punggung pendapatan negara sebab kas negara didapat dari sumber-sumber yang lain.
Visi pariwisata dalam Islam sangatlah jelas yaitu menerapkan hukum Islam, melaksanakan amar makruf nahi mungkar yang tentunya akan menolak segala kemungkaran yang ada serta menjaga kemurnian idiologi dan peradapan Islam sebagai agama yang mempunyai peradapan yang tinggi. Gelar Indonesia sebagai negara paling santai perlu diwaspadai agar terwujud negeri yang baldatun toyyibatun warobbun qhofur.
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang yang yakin. ( QS. Almaidah 50 ) Wallahu a`lam bis shawab.[]

Comment