Penulis: Doel Samson | Aktivis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seorang Komisaris Besar Polisi yang telah pensiun baru saja meninggalkan kediaman resminya dan pindah ke rumah miliknya sendiri di sebuah kompleks yang tenang. Ia masih sangat bangga dengan prestasi, pangkat, dan status yang pernah disandangnya.
Setiap malam, ia berjalan-jalan di taman lingkungan. Namun, ia hampir tidak pernah menyapa atau berbicara dengan penghuni lainnya.
Dalam pikirannya, orang-orang di lingkungan baru itu tidak sederajat dengannya dan tidak sebanding dengan kedudukan yang pernah dimilikinya.
Suatu hari, ketika sedang duduk di bangku taman, seorang pria tua datang dan duduk di sampingnya. Pria itu membuka percakapan dengan ramah. Namun, sang Komisaris Besar Polisi tampaknya tidak terlalu tertarik mendengarkan.
Ia justru lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri—tentang pangkat, kewenangan, jabatan, dan berbagai prestasi yang pernah diraihnya. Ia bahkan beberapa kali menegaskan bahwa dirinya tinggal di kompleks tersebut bukan karena terpaksa, melainkan karena memiliki rumah sendiri di sana.
Kebiasaan itu berlangsung selama beberapa hari. Setiap kali bertemu, pria tua tersebut tetap mendengarkan dengan tenang tanpa menyela. Hingga suatu malam, pria tua itu akhirnya berkata dengan suara lembut.
“Tuan Komisaris…”
“Bola lampu listrik hanya bernilai ketika ia masih menyala. Setelah padam, tidak peduli apakah ia 10 watt atau 100 watt. Semua bola lampu yang padam pada akhirnya sama: tidak lagi bercahaya, sunyi, dan perlahan dilupakan.”
Ia kemudian melanjutkan, “Saya sudah tinggal di sini selama lima tahun. Selama itu pula, saya tidak pernah merasa perlu memberi tahu siapa pun bahwa saya pernah menjabat sebagai anggota parlemen selama dua periode.”
Ekspresi wajah sang Komisaris Besar Polisi seketika berubah. Pria tua itu kemudian menunjuk beberapa orang yang berada di taman.
“Anda lihat pria yang duduk di bangku sebelah sana? Itu Tuan Bima. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT KAI.”
“Pria yang sedang berbincang dengannya adalah Tuan Laksamana Rio, seorang pensiunan TNI Angkatan Laut.”
“Pria yang berjalan dengan tenang mengenakan pakaian putih itu adalah Tuan Shiva. Beliau seorang profesor dan pernah menjabat sebagai Komisaris Utama di LAPAN.”
Pria tua itu tersenyum.
“Tak satu pun dari mereka sibuk membicarakan jabatan yang pernah mereka sandang. Mereka merasa tidak perlu melakukannya.”
“Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya ketahui,” katanya, sebelum berhenti sejenak.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah bola lampu yang akan padam. Entah kita 40 watt, 60 watt, atau 100 watt. Entah kita LED, CFL, halogen, ataupun lampu dekoratif. Ketika waktunya tiba dan kita padam, kita semua sama.
Setelah pensiun, entah Anda seorang Komisaris Besar Polisi, jenderal, direktur utama, profesor, anggota parlemen, atau pejabat apa pun, jabatan itu tidak lagi menjadi ukuran utama diri kita.
Ia kembali menatap sang Komisaris Besar Polisi dengan penuh pertimbangan.
“Matahari terbit dan matahari terbenam sama-sama indah. Namun, matahari hanya memberikan cahaya sejak terbit hingga petang. Begitulah kodrat kehidupan. Ada waktunya kita bersinar, dan ada waktunya kita harus menerima bahwa cahaya itu perlahan meredup.”
“Jabatan dan posisi kita semuanya sementara. Jika kita membiarkan jabatan mendefinisikan siapa diri kita, kita akan mudah tersesat ketika jabatan itu akhirnya meninggalkan kita.”
Ia kemudian mengibaratkan kehidupan seperti permainan catur.
“Dalam permainan catur, setiap buah memiliki peran dan nilai masing-masing—raja, ratu, gajah, kuda, benteng, hingga pion. Namun, ketika permainan selesai, semuanya kembali ke dalam kotak yang sama. Tidak ada lagi raja, tidak ada lagi pion. Semuanya berada dalam tempat yang sama.”
Pria tua itu tersenyum sambil memandang orang-orang yang berada di taman.
Karena itu, berbahagialah dengan apa yang kita miliki hari ini. Berharaplah akan kebahagiaan di masa depan. Namun, jangan pernah menggantungkan harga diri pada sesuatu yang pada hakikatnya hanya sementara.
Sebanyak apa pun medali yang kita kumpulkan, sebanyak apa pun sertifikat yang kita miliki, setinggi apa pun jabatan yang pernah kita duduki, pada akhirnya semuanya akan kita tinggalkan.
Sebab, pada waktunya, setiap manusia harus bersiap membawa satu ‘paspor’ terakhir dan melewati satu ‘visa’ yang tidak bisa ditolak siapa pun: perjalanan menuju kehidupan setelah dunia. Waktunya telah ditentukan: ketika hari kematian tiba.
Jabatan adalah amanah, bukan identitas abadi.
Pangkat bisa berakhir. Kekuasaan bisa berakhir. Kekayaan bisa ditinggalkan. Tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, itulah yang akan dikenang.
Maka, selagi masih diberi kesempatan untuk bersinar, jadilah cahaya bagi orang lain. Ketika waktunya tiba untuk padam, semoga kita meninggalkan dunia dengan hati yang tenang, rendah hati, dan penuh kebaikan.[]













Comment