Jangan Merasa Sendiri di Jalan Kebenaran

Motivasi188 Views

Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, PhD | Direktur Jamaica Muslim  Center, Presiden Nusantara Foundation, New York

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  — Apapun cara mereka berusaha membungkam atau mengancammu, persoalan apa pun yang mereka lemparkan kepadamu, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia akan muncul pada waktunya sendiri. Kebenaran suatu hal tidak diukur dari berapa banyak orang yang mempercayainya.

Kebohongan yang bercampur setengah kebenaran adalah tipu daya yang paling gelap. Bisa jadi kita terlalu pandai berpura-pura, hingga lupa bahwa kitalah yang sedang berpura-pura, dan akhirnya mengira topeng itu sebagai kenyataan.

Kejahatan hanya akan menang ketika orang-orang baik memilih diam dan tidak berbuat apa-apa. Sebesar apa pun kebohongan, ia tak akan mampu menutupi kebenaran; kebohongan hanya menunda, bukan menghapusnya.

Sering kali sesuatu terasa benar pada pandangan pertama, padahal “kebenaran” itu selalu dibatasi oleh sudut pandang masing-masing.
Pada kenyataannya, kebanyakan orang tidak menyukai kebenaran karena kerap terasa pahit dan menyakitkan.

Kebohongan tidak akan pernah menjadi kebenaran, betapapun seringnya disebarluaskan. Sebaliknya, kebenaran tidak akan pernah berubah menjadi kebohongan, meskipun tidak pernah diumumkan.

Rasulullah SAW bersabda: “Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga hatinya lurus, dan hatinya tidak akan lurus hingga lisannya lurus.”

Waspadalah terhadap para pendusta—mereka terus-menerus mengingkari kebenaran. Kita harus berjuang mengikuti kebenaran dan menjauhi para pembohong serta orang-orang yang menipu, dalam keadaan apa pun.
Ibnu Mu‘taz berkata:

“Hindarilah bergaul dengan para pendusta. Jika engkau terpaksa bersama salah seorang dari mereka, jangan mempercayainya, dan jangan pula menunjukkan bahwa engkau meragukannya, agar ia tidak menjauh dari persahabatanmu dan tetap pada tabiatnya.”

Al-Hasan bin Sahl berkata: “Pendusta itu seperti pencuri; pencuri mencuri hartamu, sedangkan pendusta mencuri akalmu. Jangan pernah mempercayai pendusta, karena ia bisa berdusta kepadamu. Dan siapa pun yang menggunjing orang lain di hadapanmu, bisa jadi akan menggunjingmu di tempat lain.”

Kebenaran selalu menemukan jalannya untuk menampakkan diri. Keadilan, kebenaran, dan kebebasan adalah akar kebahagiaan. Dalam setiap kebenaran selalu ada telinga yang mau mendengarkan. Kebaikan menuntun kepada kebenaran, dan kebenaran menuntun seseorang menuju puncak ilmu dan kerendahan hati.

Teruslah melangkah mengikuti suara nurani selama engkau berada di jalan yang benar (kebenaran). Ketulusan hati adalah sumber dari kebenaran itu sendiri. Amalkanlah apa yang benar, bukan sekadar apa yang sudah menjadi kebiasaan. Menemukan kebenaran itu mudah; menghadapinya itu sulit; mengikutinya jauh lebih sulit lagi.

Tidak perlu mempertanyakan kebenaran; berilah ia kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri. Ingatlah, sahabat atau teman terbaik adalah mereka yang dengan berani mengkritik kita demi kebenaran, bukan mereka yang selalu membenarkan apa pun yang kita lakukan.

Jangan merasa kesepian di jalan kebenaran hanya karena sedikit orang yang menapakinya. Ketika iman menjadi kenyataan, kejujuran menjadi fondasi kebenaran. Menelan pembenaran sepihak secara membabi buta bukanlah sikap yang benar. Kebenaran tidak membutuhkan pembenaran manusia; ia berdiri tegak dan bermartabat.

Sekalipun tertutup, suatu hari ia akan kembali menampakkan diri.
Semoga Allah menganugerahi kita petunjuk, meneguhkan kita dalam menegakkan kebenaran, dan melindungi kita dari tipu daya orang-orang yang curang. Aamiin.[]

Comment