by

Hidayah, Belajar Dari Kisah Abdullah Ibn Ali An Nadji Al Qasimi

 

 

Oleh: Fury Qonzano, Jurnalis

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perjalanan hidup manusia benar benar sebuah misteri yang tidak dapat diduga duga. Mereka yang selama hidupnya kita lihat baik, bukan tidak mungkin di babak akhir kehidupannya justru membuat suatu hal yang tidak kita sangka dan berlawanan dengan kenyataan.

Sebuah pelajaran berharga ini terjadi kurang dari seabad yang lalu dan akan terus menjadi pengingat bagi siapapun di masa depan.

Tokoh yang akan kita bahas ini adalah Abdullah bin Ali An Nadji Al Qasimi, yang lahir pada 1907 di Bandar Buraydah, wilayah Qassim, Arab Saudi. Ia sendiri berasal dari keturunan Mesir yang pindah ke daerah Qassim

Pada masa mudanya, Abdullah Qasimi merupakan seorang mahasiswa Yang sangat teladan lagi cerdas. Ia merupakan orang pertama di era modern yg menulis kritikan ilmiah terhadap Universitas Al Azhar. Kecerdasannya nampak dengan banyaknya buku yang ia baca dan tulis.

Abdullah Qasimi dikenal sebagai pendebat hebat yang mampu mematahkan argumen para atheis yg mencoba menyerang Islam dan meragukan keberadaan Allah. Dirinya kemudian masuk sebagai salah satu ulama kibar (besar) yang cukup dikenal dan direkomendasikan para ulama lain.

Bukunya banyak berfokus pada pembelaan terhadap Islam, dan ia menguasai banyak bidang keilmuan lain. Sampai sampai sebagian orang menggelarinya Ibnu Taimiyah kedua, karena begitu luas keilmuan yang ia miliki.

Puncak perjalanan hidup Abdullah Al Qasimi adalah saat ia menulis sebuah buku yang sangat indah dan dipuji oleh guru guru Al Qasimi sendiri. Buku tersebut berjudul As-Shira’ baini al-Islam wa al-Watsaniyya, Peperangan Antara Islam dan pemuja berhala.

Sebuah buku yang berisi pembelaan terhadap islam, argumen argumen ilmiah yang membantah kepada selain dari Islam. Sebuah buku yang menjadi rujukan banyak pendakwah dan kaum muslimin di eranya.

Pada kata pengantar buku ini, terdapat kutipan kutipan ucapan ulama lain yang ditujukan kepada penulis.

Salah satu guru Al Qasimi, Syakih Shalih Al Munajid, salah satu imam mesjidil haram, menulis pujian tertinggi baginya.

Syaikh Munajid mengatakan, “Al Qasimi telah membayar mahar surga untuknya dengan tulisannya ini”. Maknanya, Al Qassimi sudah layak masuk surga karena telah menulis buku tersebut, dikarenakan buku yang ia tulis begitu bermanfaat dan bernilai.

Namun pujian pujian yang ia terima kemudian menghadirkan rasa sombong yang perlahan mulai nampak pada dirinya. Qasimi sering memasukkan puisi dan syair berisi pujian untuk dirinya sendiri di sampul buku buku karyanya.

Ia merasa cukup dengan keilmuan yang sudah ia miliki  dan mulai merambah membaca buku buku filsafat. Ia menikahi seorang wanita asal Beirut yang menurut sebagian literatur ikut mempengaruhi pemikiran Abdullah Al Qasimi. Sejak itu, pemikiran Al Qasimi mulai berubah.

Ia diketahui mulai meninggalkan sholat, meragukan kenabian Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan menganggap Islam adalah sebuah agama yang mengekang.

Ia bahkan membuat sebuah tulisan yang  isinya justru berbalik 180 derajat dari buku yang selama ini ia tulis. Buku itu berjudul Yakzibuna likai Yarallah Jamilaan, Kebohongan Kita Melihat Allah yang Penuh Keindahan – sebagai bantahannya terhadap keberadaan Allah.

Inilah yang membuat kita terbelenggu –  sebagai bentuk bantahannya terhadap ajaran Islam yang ia anggap mengekang manusia. Hingga akhirnya Abdullah al Qasimi yang dikenal sebagai ulama cerdas itu, kehilangan keimanan di hatinya memutuskan jadi atheis.

Beberapa ulama lain sudah mencoba mengajak Al Qasimi untuk berdialog, namun Al Qasimi masih begitu keras atas apa yang ia yakini. Ia telah melemparkan Islam yang selama ini ia bela dan teguh pada pendiriannya sebagai atheis.

Keyakinan ini juga yang ia bawa hingga ia meninggal karena kanker di rumah sakit ‘Ain Syams Kairo-Mesir pada tanggal 1 September 1996.

Hidayah itu mahal, dan keistiqomahan lebih mahal lagi harganya. Jika seorang ulama seperti Abdullah Al Qasim saja tergelincir di akhir kehidupannya, apa yang membuat kita merasa aman dan yakin bahwa kita adalah golongan orang yang selamat?

Kehidupan terus berjalan. Orang yang mungkin kamu kenal buruk, tidak mungkin di akhir hidupnya nanti jadi orang baik yang diridhoi Allah Dan masuk surga, sedangkan kita yang merasa lebih baik, ternyata Allah  takdirkan akhir hidup kita dalam keburukan (syuu ul khatimah). Naudzubillah.

Semoga kita selalu istiqomah dan menjaga hati kita dari hal-hal yang tidak baik yang akan merugikan diri kita sendiri atau orang lain.

Maka selalu berkomunikasi melalui doa kepada pemilik hidayah itu merupakan cara yang patut kita jalani setiap saat agar kita tetap Dalam hidayahNya.

“Robbanaa laa tujig quluubana ba’da idz hadaytanaa wa hablanaa min laadunKa rahmah wa hayyi’ lanaa min amrinaa rosayadaa. Aamiin Allahuma Aamiin.[]

*Sumber WAG dengan sedikit penambahan.

Comment

Rekomendasi Berita