by

Jartika: Politik Uang Dan Politik Takwa

Jartika
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Laboraturium Big Data Analytics dan PolGov Research Center DPP Fisipol UGM merilis hasil pemetaan potensi politik uang di Pemilu 2019. Percakapan politik uang ternyata banyak terjadi di Jawa.
Masa Tenang, Bawaslu Jabar Temukan Tiga Kasus Politik UangBawaslu Ciamis Ingatkan Kembali Larangan Politik UangDugaan Praktik Politik Uang Terjadi di Ciamis
Hal ini bukan rahasia lagi bagi publik dan masyarakat, sekalipun banyak yang menyebutkan harus disembunyikan atau disebut dengan serangan pajar. Tapi nampaknya hari ini namanyapun sudah berganti dengan serangan siang, malam dan kapan saja mereka mau. Kecurangan dan politik uang tidak pernah berhenti tahun demi tahun selama pemilu, pilkada, pileg dan perebutan kursi jabatan, dilaksanakan maka selama itu pula akan selalu ada dan senantiasa tumbuh subur menjamur.
Sejatinya politik uang atau money politics sangat berbahaya jika ada dalam sebuah negara jangankan karna islam meralarang keras, untuk keberlanjutan demokrasi juga tidak bisa terjamin. Yang bahanya untuk demokrasi itu seperti : pertama, transaksi antara elite pemilik modal dengan pasangan calon. Kedua, transaksi pasangan calon terhadap partai politik. Ketiga, transaksi pasangan calon terhadap penyelenggara-penyelenggara pemilu. Keempat, transaksi pasangan calon dengan pemilih. Kelima, transaksi kepala daerah dengan hakim konstitusi. 
Namun harus mengubur dalam-dalam harapan jika selama sistem pemilu tadi adalah demokrasi, karna bahaya yang ditimbulkan demokrasi tidak akan pernah berhenti karna akarnya itu kapitalisme yang konsepnya akan selalu menstandarkan pada keuntungan dan akan selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan tadi salah satunya berbuat curang. Tak perlu jauh-jauh untuk membuktikannnya, sebagaimana yang terjadi saat ini money politics tak pernah berhenti bahkan kecurangan-kecurangan yang banyak sekali untuk mendapatkan voting suara terbanyak yang akhirnya bisa duduk diatas tahta kekuasaan. Dan ketika berkuasa maka kekuasaan dijadikan sebagai ajang penghimpun harta atau kekayaan. Ini adalah gambaran segelintir dari kecurangan demokrasi dalam membeli kekuasaan. Lebih parahnya mereka bahkan bisa memanipulasi istilah demokrasi itu sendiri agar bisa berkuasa.
Sangat jauh berbeda dengan politik yang dipahami dan yang menjadi dasar dari politik islam dimana menjadikan takwallah sebagai pondasi utama. Politik islam menjadikan kekuasaan untuk mengurusi urusan umat yang sesuai dengan aturan islam. Disamping itu untuk menjadi pemimpin tidak akan pernah terjadi kecurangan karna memang sistem yang diterapkan bukan sistem demokrasi (pemilu)  melainkan sistem syura’ yang tidak perlu membutuhkan dana banyak. Islam sangat menentang keras terhadap politik uang (suap) sebagaimana sabda Rasulullah :
‎ عَنْ عُمَر عَبْدِ اللهِ بْنِ قاَلَ : لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الرَاشِى، وُاْلمُرْتَشَىِ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu , ia berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap”.(HR At-Tirmidzi).
Maka dari itu tidak akan mungkin money pilitics ini terjadi dalam islam. 
Sikap takwallah akan selalu menjadi topang kendali dalam menetapkan hukum sehingga hukum yang diterapkan akan selalu sesuai dengan hukum Allah. Dan sangat dipahami bahwa jabatan adalah tanggungjawab besar yang nantinya akan dipersaksikan dihadapan sang khaliq. 
Disini nampak sekali bedanya dengan filosopi demokrasi yang menetapkan kedaulatan ditangan rakyat dengan konsep dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat yang sebenarnya konsep ini juga adalah pembohongan hakiki karna sebenarnya adalah dari rakyat oleh rakyat untuk penguasa dan pengusaha. 
Oleh karena itu selama kita menerapkan konsep dan paradigma yang salah maka selama itu pula kita tidak akan menemui kejujuran dan ke riilan dari penguasa, yang nantinya  juga akan melahirkan pemimpin yang mudah berdusta. 
Islam dan politik islam adalah solusi komprehensif dalam mengangkat pemimpin yang bertanggungjawab dan menjadikan takwallah sebagai setandar kepemimpinan. Wallahu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita