by

Lulu Nugroho*: Coba Kita Tanya Kartini

Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum lama setelah gerakan “Indonesia Tanpa Pacaran menggegerkan  media sosial”, umat kembali digemparkan oleh gerakan “Indonesia Tanpa Feminis”. Gerakan ini bermula dari munculnya akun dengan nama yang serupa yaitu @indonesiatanpafeminis di Instagram. #UninstallFeminism. (Opini.id, 5/4/2019).
Benarkah Indonesia Tak Butuh Feminisme? Jelas sekali maksud dari tagar beserta akun tersebut mendeklarasikan keinginannya membuat Indonesia tidak memiliki feminis. Akun ini pertama kali menunggah foto pada 17 Maret 2019. Hingga 13 April 2019, pengikut akun @indonesiatanpafeminis sudah mencapai 3.546 orang. 
“Tubuhku bukan milikku,” kata mereka. Mereka menyatakan bahwa tubuh kita bukan otoritas pribadi, melainkan milik Allah. Sebab feminisme seakan-akan menuhankan manusia. Miskonsepsi feminisme ini merupakan kesalahan fatal yang parahnya disetujui oleh ribuan orang. Maka muncullah “Indonesia tak butuh feminisme,” kata akun tersebut. 
Sebelumnya, terdapat akun dengan latar belakang penghapusan feminis yang sama, yaitu akun @thisisgender. Akun ini aktif beroperasi sejak November 2017 namun baru muncul di permukaan sejak sensasi yang dibuat oleh @indonesiatanpafeminis terkenal. Satu kesamaan dari kedua akun ini adalah mereka mengkaji feminis dari sudut pandang satu agama, yaitu Islam.
    
Hanya saja, ketika dihubungi oleh berbagai awak media, tidak ada yang bersedia memberikan konfirmasi terkait kampanye ini. Maka jika yang terjadi demikian, wajar muncul keraguan di kalangan umat. Filosofi tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan, akan mudah hilang dan berpeluang untuk terbawa arus. 
Gerakan feminisme itu sendiri beranggapan bahwa mereka berkomitmen untuk mengatasi masalah sehari-hari seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, objektifikasi seksual. Dengan feminisme, laki-laki diajarkan juga untuk menghormati perempuan, suami berbagi peran di rumah, seorang ayah ikut terlibat dalam membesarkan-anak-anak, kata Woro Seto.
Woro Seto, pendiri organisasi Gerakan Ramah Perempuan mengkritik gerakan Indonesia Tanpa Feminis yang menganggap Indonesia tidak butuh feminis. Seperti dikutip dari tulisannya, ia berpendapat, mereka yang menggagas gerakan Indonesia Tanpa Feminis tak mengerti konsep feminisme yang sebenarnya.(opini.id,5/4/2019)
Tak jauh berbeda dengan Woro Seto, hal yang sama juga dikatakan oleh pegiat feminisme lainnya. Mereka bersikeras menyatakan bahwasanya feminisme bukan berarti ingin mengalahkan laki-laki. Tapi mereka ingin setara. Memiliki posisi yang sama dengan laki-laki. Mendapat hak yang sama dan kewajiban yang sama. 
Kartini pun digadang-gadang sebagai sosok yang dapat dikatakan sebagai pelopor Gerakan Feminisme, yaitu sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan anak-anak perempuan untuk mendapat pendidikan yang sama seperti laki-laki. Sebab pada masanya, Kartini melihat perempuan bodoh dan terbelakang.
Kampanye ini sekalipun menyatakan perlawanan terhadap ide feminisme, akan tetapi belum menyelesaikan semua permasalahan perempuan. Gerakan dengan tanda pagar “Uninstall feminisme” tidak berarti apa-apa tanpa menyelesaikan persoalan perempuan melalui sistem. Sebab sumber permasalahannya, justru ada pada sistem pengurusan umat.
Ketika umat dibiarkan mendapat pengurusan yang salah, maka yang terjadi adalah kerusakan. Perempuanpun tidak dijaga dengan Islam, pengurus yang hakiki. Dipastikan sistem penjaganya akan diambil alih oleh sekularisme, yaitu sistem yang mengesampingkan peran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah seperti itu, hak dan kewajiban perempuan akan ditarik ke sana ke mari oleh sistem tadi. Bisa menjadi terlalu bebas atau bahkan terlalu ditekan.
Dalam Islam, tugas utama perempuan adalah sebagai ummu wa robbatul baiyt. Menjadi ibu dan pengatur rumah tangga bukanlah peran yang hina. Allah, Tuhan semesta alamlah yang memberi tanggung jawab untuk memuliakan perempuan. Bukan manusia. Agar optimal dalam pengurusan generasi dan mencetak generasi emas. 
Inilah yang diperlukan sebuah negara. Jatuh dan bangunnya sebuah peradaban tergantung pada generasi penerusnya. Di tangan para ibu tugas ini diamanahkan. Oleh sebab itu, bisa dipastikan laki-laki tidak akan merendahkan perempuan. Islam menjaga interaksi laki-laki dan perempuan dalam sebuah hubungan yang berlandaskan keimanan.
Maka pada akhirnya, kita tidak perlu Kartini untuk kembali pada peran yang mulia. Islam sudah mengaturnya dengan baik. Tanpa Kartini, hak dan kewajiban perempuan terpelihara. Melalui penjagaan yang paripurna dalam sebuah pengurusan kehidupan bernegara. 
Bahkan ketika kita melihat surat-surat Kartini, tak terbaca landasan apa yang menggerakkan dirinya sehingga dikatakan bahwa ia pengusung emansipasi perempuan. Coba kita tanya Kartini. Apakah betul karena proses hijrahnya hingga ia menginginkan hak perempuan terjaga, atau sekadar setara sebagaimana disampaikan pegiat jender.
Negeri ini perlu sosok perempuan berani yang lebih baik dari Kartini, yang beraktivitas nyata menegakkan agama Allah. Serta yang memperjuangkan Islam agar bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hingga pada akhirnya tidak hanya perempuan yang terlindungi, tapi juga seluruh lapisan masyarakat terjaga hak-haknya. Wallahu ‘alam
*Muslimah Revowriter Cirebon

Comment

Rekomendasi Berita