Refleksi Hari Bangkit PII, Ganjar Kurnia Soroti Ancaman Algoritma dan Krisis Intelektual 

Nasional361 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Akademisi dan budayawan Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, mengingatkan pentingnya refleksi mendalam dalam momentum Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII).

Mantan Rektor Universitas Padjadjaran periode 2007–2015 itu menilai, tantangan pelajar saat ini tidak lagi bersifat fisik seperti masa kolonial, melainkan lebih subtil melalui dominasi teknologi dan algoritma digital.

Dalam pandangannya yang dikutip dari WAG KBPII, kehidupan generasi muda kini semakin terikat pada gawai dan notifikasi, yang secara perlahan menggeser orientasi pencarian ilmu dan makna.

“Hari ini, banyak orang lebih gelisah ketika baterai ponsel tinggal tiga persen dibanding ketika kualitas iman dan kedalaman berpikirnya menurun,” ujar Ganjar dalam refleksinya, Senin (4/5/2026).

Ia menyebut, kondisi tersebut menunjukkan adanya krisis bukan pada kecerdasan semata, melainkan pada kejernihan berpikir. Menurutnya, di tengah melimpahnya orang pintar, justru semakin langka individu yang mampu berpikir mendalam tanpa dorongan viralitas.

“Banyak yang fasih berbicara moral, tetapi praktik etikanya lemah. Ini paradoks yang harus disadari,” ujar mantan Rektor Padjadjaran 2007.

Ganjar juga menyoroti perubahan bentuk “penjajahan” di era digital. Jika dahulu ancaman datang dalam bentuk kekuatan militer, kini hadir dalam bentuk algoritma yang membentuk preferensi, perilaku, hingga cara pandang generasi muda.

“Notifikasi dan konten yang dipersonalisasi bisa lebih efektif melumpuhkan daya kritis dibanding tekanan fisik di masa lalu,” ujarnya.

Dalam konteks organisasi, ia menilai Hari Bangkit PII tidak boleh berhenti pada seremoni. Momentum tersebut harus menjadi sarana evaluasi internal bagi pelajar Islam agar tidak sekadar menampilkan identitas organisasi, tetapi juga menguatkan kapasitas intelektual dan integritas moral.

“Jangan hanya bangga memakai atribut, tetapi lupa mengisi kepala dan membersihkan hati,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ganjar mengaitkan peran pelajar dengan kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai persoalan struktural, mulai dari korupsi, ketimpangan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan.

Ia menilai, pelajar Islam harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat.

“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan mereka yang mau berpikir jernih dan bertindak jujur,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya pembenahan internal umat. Menurutnya, ekspresi keagamaan yang mudah tersulut emosi namun minim empati justru memperlemah wajah Islam di ruang publik.

“PII idealnya menghadirkan wajah Islam yang cerdas, ramah, adil, dan menggembirakan,” ujarnya.

Ganjar menegaskan, kebangkitan pelajar harus dimaknai sebagai kebangkitan intelektual. Ia mengkritik kecenderungan generasi muda yang lebih akrab dengan hiburan dibanding literasi dan realitas sosial.

“Jangan sampai lebih hafal jadwal hiburan daripada sejarah perjuangan, lebih paham promo daripada peta kemiskinan,” katanya.

Menurut dia, dalam situasi seperti ini, pelajar justru perlu berani tampil berbeda. “Berani membaca ketika yang lain sibuk scroll, berani berkata ‘saya belum tahu’ ketika semua orang merasa paling tahu, itu bagian dari integritas intelektual,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya menyatukan iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi kebangkitan. Tanpa keseimbangan ketiganya, menurut Ganjar, gerakan pelajar berisiko kehilangan arah.

“Iman tanpa ilmu bisa salah arah, ilmu tanpa iman kehilangan kompas, dan amal tanpa keduanya menjadi aktivitas tanpa makna,” jelasnya.

Menutup refleksinya, Ganjar mengingatkan bahwa kebangkitan tidak boleh bersifat seremonial atau musiman.

“Bangkitlah ketika melihat ketidakadilan, ketika pendidikan kehilangan ruhnya, ketika agama diperalat, dan ketika lingkungan dirusak,” ujarnya.

Ia pun melontarkan pertanyaan reflektif atas perjalanan panjang organisasi pelajar Islam di Indonesia.

“Setelah puluhan tahun memperingati hari kebangkitan, pertanyaannya sederhana: apa yang benar-benar sudah bangkit?” pungkasnya.[]

Comment