by

Rheiva Putri R Sanusi : Suksesi Pemilihan Dalam Islam

  Rheiva Putri R Sanusi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pesta pemilu sudah terlaksana pada 17 April 2019 kemarin, persaingan diantar para calon pemimpin begitu sengit. Namun di pemilu kali ini banyak peristiwa yang memberikan bukti bahwa penguasa dan sistem saat ini telah gagal mengurusi rakyatnya, bahkan kegagalan itu mereka tampakkan sendiri.
Beberapa kejadian tersebut adalah; petama perdebatan terkait kotak suara yang terbuat dari dus, kedua 90 petugas KPPS meninggal dan 374 lainnya menderita sakit, ketiga adanya isu kecurangan yang terjadi di pemilihan yang banyak menimbulkan kericuhan diantara masyarakat, dan masih banyak lagi hal-hal yang ketika pemilu 2019 ini. 
Permasalahan yang terjadi saat pemilu 2019 ini membuktikan rakyat tidak dapat berharap bahwa pemilu benar-benar menjadi sarana untuk melakukan perubahan, sekalipun hanya merubah rezim. Karena solusi yang diberikan oleh sistem demokrasi ini hanya bersifat sementara tak hingga ke akar. 
Terbukti sekali pemilihan pemilihan demokrasi ini berbiaya sangat mahal, rentan kecurangan di mana segala cara dihalalkan  bahkan menimbulkan korban. Semua itu dikarenakan dalam demokrasi aturan yang diterapkan adalah aturan yang dibuat manusia, salah satunya memimpin secara berkala yaitu 5 tahun maksimal 2 periode. 
Adanya penerapan trias politica produk  Montesque yang sangat bertentangan dengan islam. Dalam trias politica ini kekuasaan dibagi tiga, yaitu kekuasaan legislatif (kekuasan untuk membuat undang-undang), kekuasaan eksekutif (kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang), dan kekuasaan yudikatif (kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang). 
Hal yang bertentangan dalam islam adalah; pertama sumber konsep ini adalah manusia,  di mana manusia memberikan penilaian baik buruk menurut akal belaka, padahal dalam Islam yang berhak memberikan penilaian adalah Allah SWT yang menciptakan manusia dan yang paling mengetahui segala kekurangan manusia seperti dalam firman Allah Swt: 
”Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”.(QS Al-An’am [6]: 57) 
Kedua, konsep ini merupakan salah satu ide pokok demokrasi kufur dimana demokrasi menyebutkan bahwa kedaulatan di tangan rakyat, sedangkan dalam Islam telah menetapkan bahwa kedaulatan adalah milik syariat bukan milik rakyat. Syariatlah yang menjadi rujukan tertinggi bagi segala sesuatu. Firman Allah Swt: 
“Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, Rasul, Dan Ulil Amri dari kalangan kalian. Kemudian, jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah masalah itu kepada Allah (Al-qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (QS An-Nisa’ [4]: 59) 
Dalam hal kekuasaan, islam memberikan ketetapan kekuasaan legislatif hanya milik Allah semata, bukan milik manusia. Kekuasaan eksekutif adalah bersumber dari rakyat. Sedangkan kekuasaan yudikatif hanyalah dipegang oleh Khalifah atau orang yang mewakilinya untuk menjalankan kekuasaan tersebut. 
Untuk itu seharusnya kita menjalankan peraturan yang telah dibuat oleh Allah Swt karena hanya Allahlah yang memiliki hak legislatif, termasuk daalam pemilihan pemimpin maka solusinya adalam aturan yang Allah telah tetapkan dalam Islam yaitu Khilafah. 
Dimana dalam Islam tidak mengenal pembagian kekuasaan (sparating of power), sebagaimana diperkenalkan oleh Montesque dalam sistem negara Demokrasi. Dimana pemimpin hanya dapat berkuasa jika mendapat bai’at dari umat. Dan segala proses yang dijalankan adalah dari aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. 
Ketika pemilihan dalam islam pun tak akan ada isu-isu terkait kecurangan karena rakyat percaya terhadap Allah Swt. dan juga penguasa. Rakyat akan yakin mereka akan memberikan bai’at hanya pada pemimpin yang akan menerapkan aturan Islam. 
Hanya saja pemilihan dalam Islam ini hanya dapat kita dapati kektika Khilafah tegak. Tapi untuk saat ini Khilafah belum tegak untuk menerapkan semua atura Islam ini, maka tugas kita sebagai muslim yang harus memperjuangkan tegaknya Khilafah. Agar semua umat tak lagi terdzalimi oleh sistem kufur dan rezim saat ini. Wallahu’alam Bi Shawwab.[] 
Rheiva Putri R Sanusi
Alumni SMAN 1 Rancaekek
Rancaekek-Bandung

Comment

Rekomendasi Berita