by

Jason Cruz, Mantan Pastor: Saya Beruntung Memeluk Islam

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Alhamdulillah, saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan masuk Islam sejak tahun 2006,” ujar Jazon Cruz, mengawali pembicaraan.

 “

“Saya
sebenarnya agak ragu, ketika diminta berkisah tentang jalan hidup yang
saya tempuh, dan bagaimana saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” sambungnya.
Wajar
saja. Sebab, Cruz tak mau terjebak pada ketenaran semu sebagaimana yang
terjadi pada sebagian orang, hanya karena mereka masuk Islam. Ia juga
sadar, dirinya memiliki tantangan yang serupa. Apalagi mengingat
statusnya sebagai seorang pendeta cukup kenamaan di kotanya.
“Namun, sekali lagi saya katakan, semoga saya tidak terjebak pada sikap riya karena memeluk agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjauhkan sifat itu dari diri saya,” harapnya.
Oleh sebab itu, ketika dimintai laman www.islamreligion.com untuk menuturkan perjalanan hidupnya. Cruz meminta agar penekanan kisah hidupnya fokus pada ‘kerja’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberinya sejumput hidayah. “Sebab, siapa pun takkan mungkin masuk Islam dan tulus mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, jika ia tidak mendapat hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.
Jason
Cruz lahir dalam keluarga Katolik Roma yang secara resmi tinggal di New
York, AS. Sebenarnya, sang ibulah yang murni Katolik Roma. Sedangkan
ayahnya seorang Presbiterian yang ‘terpaksa’ masuk Katolik hanya agar
dapat menikahi sang bunda. “Kami selalu ke gereja tiap hari Minggu. Saya
juga menjalani katekismus, komuni pertama, dan konfirmasi di Gereja
Katolik Roma,” tuturnya.
Ketika masih belia, Cruz sudah merasa
mendapat panggilan Tuhan. Panggilan ini ia tafsirkan sebagai panggilan
imamat Katolik Roma. Ia pun mengungkapkannya pada sang bunda, “Ibu
sangat bahagia mendengarnya, dan langsung mengajak saya untuk bertemu
pastor di paroki setempat,” ungkapnya.
Sayangnya, si pastor tak
terlalu senang diusik oleh kedatangan mereka. Ia bahkan menyarankan agar
si bocah tidak terjun ke dunia imamat. Hal itu membuat Cruz sangat
sedih. “Kejadian itu sangat menjengkelkan saya, bahkan hingga hari ini.
Saya tak tahu bagaimana kondisinya akan berbeda, jika saja responsnya
sedikit positif,” kata dia.
Sejak ditolak memenuhi seruan Tuhan di
paroki tersebut, Cruz menjalani kehidupan yang lain; tenggelam dalam
dunia malam. Apalagi, tak lama setelah kejadian di paroki, kedua orang
tuanya bercerai. Cruz sangat kehilangan sosok ayah yang tak lagi hadir
di dekatnya.

Sejak usia 15 tahunan, Cruz mulai lebih tertarik dengan klub malam ketimbang Tuhan.
Usai
lulus SMA dengan nilai yang memuaskan, ia pun masuk universitas dengan
mudah. Namun, karena targetnya hidupnya yang tak jelas dan tak menentu,
Cruz pun drop out (DO) dari bangku kuliah.
Ia kemudian
pindah ke Arizona—tempatnya menetap hingga kini—ketimbang menyelesaikan
kuliah dan meraih gelar sarjana. “Inilah yang saya sesalkan hingga
kini,” ujar Cruz. “Setelah tinggal di Arizona, kehidupannya saya malah
jadi kian parah.”
Ia mulai mengenal narkoba dan kian tenggelam
dalam dunia malam dan pergaulan bebas. Demi mendapatkan obat-obat
terlarang—dengan pendidikan yang pas-pasan, Cruz rela menjalani
pekerjaan kasar dan hina. “Kalau tidak begitu, saya tidak dapat
menikmati narkoba, pergaulan bebas, dan dunia malam,” ujarnya.
Selama
masa-masa kelam ini, Cruz sempat bertemu dan bergaul dengan orang
Muslim. Si Muslim rupanya seorang mahasiswa asing yang kuliah di salah
satu kampus di Arizona. “Dia mengencani salah seorang teman saya, dan
kerap menemani kami ke pesta dan klub-klub malam,” ungkapnya.
Cruz
dan si Muslim memang tidak pernah bicara soal agama, apalagi tentang
Islam. Namun demikian, ia kerap bertanya tentang ajaran dan budaya Islam
kepada si Muslim. Si Muslim dengan senang hati menceramahi Cruz tentang
Islam, walau yang bersangkutan tidak menunjukkan diri sebagai Muslim
sejati. “Apa yang dia katakan, sangat berbeda dengan apa yang ia
lakukan,” kata Cruz.
Gaya hidup Cruz yang buruk berlanjut selama
beberapa tahun. Ia pun sempat trauma, karena beberapa orang yang
dikenalnya meninggal. Ia juga pernah ditikam dalam sebuah tawuran.
“Yang dapat saya katakan adalah walau bagaimana pun buruknya kondisi yang anda alami, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan membalikkan keadaan anda, insya Allah,”
kata dia. Saya segera berubah setelah benar-benar bersih dari narkoba.
Salah satu bagian proses menjauhkan diri dari narkoba adalah dengan
menjalin hubungan dengan yang Mahakuasa.”
Dalam upaya pencarian akan Tuhan ini, Cruz melewati sejumlah tahapan berliku sebelum mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sayang, ia tidak menemukan kebenaran (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pada awalnya. Sebaliknya, ia mencoba mempelajari Hinduisme karena dianggap dapat mengakhiri penderitaan yang ia alami.

Cruz begitu serius mendalami ajaran Hindu. Ia bahkan mengubah namanya dengan nama Hindu.
“Saat itu aku merasa terbebas dari kecanduan obat-obatan. Hidupku lebih positif. Tapi itu tidak bertahan lama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukan padaku bahwa Hindu bukanlah jalan menuju kebenaran hakiki,” kenang dia.
Meninggalkan
ajaran Hindu, Cruz kembali pada agama Katolik Roma. Oleh gereja, ia
ditawarkan untuk menjadi menetap di sebuah gereja di New Mexico.
Bertepatan dengan tawaran itu, keluarganya—Ibu, kakak dan
adiknya—memutuskan untuk pindah ke Arizona. Saat itu, ia mulai memiliki
hubungan dekat dengan orang banyak.
Cruz pun mulai menjalani
program seminari. Bertahun-tahun ia ikuti pogram tersebut sehingga
akhirnya berhasil menjadi pastor. Ia ditugaskan gereja untuk mempelajari
tradisi agama lain di daerah Metro Phoenix. “Peran baru saya adalah
menjalin hubungan antaragama,” kata dia.
Sembari menjalankan
tugasnya itu, Cruz juga menyambi sebagai pekerja di Biro Kesehatan
Perilaku. Ia kunjungi sejumlah tempat ibadah agama lain, termasuk
masjid. Dalam kunjungannya ke masjid, Cruz merasa ada kesempatan emas
untuk belajar tentang Islam. Oleh seorang Muslim, ia diminta untuk
mendatangi Masjid di Tempe, Arizona.
Sesampainya di masjid itu,
Cruz segera membaca buku-buku tentang Islam. Setelah membaca, ia begitu
terkejut. “Saya belum tahu, kalau rasa terkejutku itu merupakan bentuk
hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pun kembali mengunjungi masjid itu dan banyak berdialog dengan Imam Ahmad Al-Akoum,” tuturnya.
Al-Akoum,
adalah Direktur Regional Masyarakat Muslim Amerika. Ia seorang yang
begitu terbuka bagi penganut agama lain untuk berdiskusi tentang Islam.
Banyak warga AS yang mencari informasi tentang Islam dari Al-Akoum.
“Mengikuti kelas bimbingan Akoum, saya melihat Islam adalah kebenaran
hakiki. Beberapa waktu kemudian, saya mengucapkan dua kalimat syahadat
di masjid yang sering saya kunjungi, Alhamdulillah,” kata dia.
Menjadi
Muslim, Cruz banyak mengalami perubahan. Keluarganya sedih, sebab Cruz
memeluk agama yang ditakuti anak-anaknya. Ia pun berusaha memberikan
pemahaman yang baik tentang Islam kepada mereka.
Tidak mudah
memang bagi Cruz untuk menjalani identitas barunya sebagai Muslim. Ia
sempat mengalami stres, lalu memutuskan untuk kembali berdiskusi dengan
Al-Akoum tentang masalah yang dialaminya. “Al-Akoum mengatakan padaku
bahwa tahun pertama sebagai Muslim tentu merupakan masa yang paling
sulit. Ia lalu menyarankan untuk banyak berkomunikasi dengan Muslim
lainnya,” kata dia.
Benar saja, saran Al-Akoum itu membuat iman
Cruz semakin mantap. Ia mulai mendapatkan pekerjaan, yakni sebagai
manajer pada sebuah program pencegahan penyalahgunaan alkohol dan
narkoba, serta HIV dan hepatitis untuk populasi berisiko.
Selama
itu pula, Cruz mulai menikmati identitasnya sebagai Muslim. Ia sangat
aktif menjadi sukarelawan. Bahkan, ia dinominasikan menjadi kepala Dewan
Masjid Tempe. “Insya Allah, jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala
mengizinkan, saya ingin mendalami ilmu fikih guna memajukan kepentingan
Islam dan umat yang saya cintai. Semua ini adalah karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkasnya.[KISAHMUALAF]

Comment

Rekomendasi Berita