by

Kapitalisme Suburkan Budaya Konsumerisme

-Opini-22 views

 

 

 

Oleh: Jihan, Pengiat Literasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Permasalahan sampah di Indonesia seolah belum pernah terlihat ujungnya. Persoalan sampah akan selalu ada selama berlangsungnya kehidupan. Sampah juga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan.

Dikutip dari GenPI.co Kalbar – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak menjalin kerja sama dengan PT Kusuma Jaya Agro untuk pengolahan sampah dan co-firing sebagai bahan bakar energi baru terbarukan.

Kerja sama tersebut dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dan Direktur PT Kusuma Jaya Agro Raden Hidayatullah Kusuma Dilaga, Kamis (28/4).

Menilik Akar Masalah

Telah banyak kebijakan serta peraturan yang telah ditetapkan sebagai upaya pengelolaan persampahan, dan telah banyak pula teknologi yang dikembangkan untuk mengolah sampah. Namun sampah masih menjadi permasalahan pelik di negeri ini, karena sampah sangat berkaitan erat dengan kebiasaan hidup, cara pandang dan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya.

Permasalahan sampah ini muncul dan makin berkembang sebab kadar konsumsi masyarakatnya yang makin tinggi, dikarenakan globalisasi dan kemajuan teknologi mendorong mereka untuk berperilaku konsumerisme.

Konsumerisme sendiri merupakan paham yang menjadikan seseorang atau kelompok menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan, tanpa sadar dan berkelanjutan. Pembelian barang-barang hanya didasari oleh keinginan dan tidak mempertimbangkan kebutuhan dengan gaya hidup yang lebih mengagungkan kepemilikan ekonomi.

Ini semua muncul sebab kita hidup di zaman kapitalisme global, yang masyarakatnya disebut konsumen. Masyarakat seperti demikian sebenarnya adalah masyarakat yang telah menjadi hamba dari ciptaannya sendiri, yaitu kapitalisme global.

Kemajuan yang diusung dalam globalisasi telah membawa masyarakat kita kedalam situasi terkungkung jerat-jerat dan “rayuan” kapitalisme global, tatanan yang menawarkan berbagai kemudahan, keindahan, dan pemenuhan kebutuhan yang serba instan. Dengan budaya konsumsi yang dipegangnya, masyarakat kita yang merupakan konsumen bagi kaum kapitalis sebenarnya merupakan hasil kreasi kapitalisme global.

Perkembangan kapitalisme global membutuhkan adanya masyarakat konsumen (consumer society) yang akan melahap semua produk kapitalisme tersebut. Masyarakat konsumen dengan budaya konsumsi yang dipegangnya melihat tujuan dan totalitas hidupnya dalam kerangka atau logika konsumsi. Eksistensinya dijalankan dan dipertahankan hanya dengan semakin dan terus menerusnya mengkonsumsi berbagai tanda dan status sosial di balik komoditi.

Bukan hanya dirinya saja yang mengaktualisasikan diri lewat tindakan konsumsi, orang lain juga akan dinilai menurut standar yang dipakainya itu. Artinya eksistensi orang lain pun akan dinilai dan diakui sesuai dengan standar status sosial yang dipegangnya. Di sini peran media massa dengan program advertising-nya sangat menonjol.

Gaya konsumsi yang dipandu oleh advertising atau iklan dalam kapitalisme global, ternyata telah menciptakan suatu masyarakat konsumen yang mengkonsumsi, yang seakan-akan menjadi “sapi perahan” kaum kapitalis.

Kapitalisme ini pula muncul membawa kontradiksi dalam diri individualisme baru, di mana kebebasan individu untuk berkonsumsi sekaligus bisa dilihat sebagai keterikatan dan ketergantungan individu terhadap nilai-nilai dan tanda-tanda yang diperkenalkan oleh kaum kapitalis global melalui media massa.

Di satu pihak, individu-individu yang hidup di zaman globalisasi sekarang ini merasa sebagai manusia seutuhnya, karena ia diberi hak untuk merealisasikan segala keinginannya, mempunyai penghasilan yang layak. Namun di pihak lain, pilihan-pilihan yang ada pada dirinya, mulai dari gaya hidup, kebutuhan riil, sampai pada tanda-tanda yang melekat dalam barang-barang dagangan tertentu, semuanya diintrodusir oleh alat-alat kaum kapitalis global.

Justru dengan skema seperti inilah kapitalisme global bisa hidup. Ia membutuhkan para pekerja untuk menghasilkan barang dagangan, para pekerja tersebut diberinya upah sehingga kehidupan mereka menjadi sejahtera. Namun para pekerja ini pula yang kemudian menjadi konsumen setia, yang menjadi konsumen tetap dari kapitalisme global tersebut.

Budaya konsumerisme ini lebih merugikan dibandingkan menguntungkan. Dampak konsumerisme membuat seseorang malas bekerja, kehilangan daya juang, boros, konsumtif, dan kurangnya keinginan untuk maju.

Minimalist Lifestyle Dalam Islam

Dalam memenuhi sebuah kebutuhan hidup, manusia sering kali merasa kurang puas dengan apa yang telah dinikmati (dikonsumsi). Semakin besar materi yang dimiliki seseorang, semakin besar pula gairah konsumsinya.

Tetapi belum tentu sebaliknya. Manusia rajin mengoleksi barang/benda, dengan tujuan ‘kebutuhannya’ bisa terpenuhi. Belanja sekarang ini bukan lagi dimaknai dan didasari pertimbangan kebutuhan, tetapi keinginan nafsu.

Al-Qu’ran membincangkan ‘perilaku konsumtif’ dalam bahasa ‘al isrāf’ (melampaui batas) dan ‘al-tabżīr’ (berlebihan/boros). Berulang-ulang dan seperti tak bosan, al-Qur’an mengangkat tema tersebut sebagai kajian serius. Seperti dalam firman Allah Swt. QS. al-A’rāf [7]:31,

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Begitu pula QS. al-Furqān [25]:67, Allah Swt. berfirman:

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,”

Inti dari kedua ayat tersebut, Allah Swt. benci kepada orang yang berlebih-lebihan (konsumtif). Seperti dalam firmannya, “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” QS. Al-Isra'[17]:26.

Dalam Q.S Al-Isra'[17]:27, Allah Swt. berfirman:”Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” QS. Al-Isra'[17]:27.

Dampak perilaku konsumtif antara lain: dibenci Allah Swt., menjadi sahabat setan, mendapat murka AllahSwt., penyebab malas dalam beribadah, sumber ketidakadilan sosial, merusak lingkungan, serta dapat berpengaruh buruk dalam kesehatan.

Adapun solusi yang dapat diterapkan dalam menanggulangi perilaku konsumtif adalah dengan bersikap proporsional dan penerapan pola hidup yang sederhana.

Dengan konsep hidup Minimalist Lifestyle bila dikaitkan dengan syariat Islam, sangat erat hubungannya dengan rasa syukur yang direalisasikan melalui sikap qonaah dan zuhud.

Qonaah dapat diartikan yaitu sikap merasa cukup dan senantiasa bersyukur atas pemberian Allah Swt., sedangkan zuhud adalah upaya meninggalkan suatu perkara dunia yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa esensi dari konsep minimalis dalam Islam adalah mementingkan akhirat, dan menyederhanakan kehidupan dunia.

Gaya hidup minimalis juga dapat kita teladani pada jati diri Rasulullah saw. dimana beliau memberi contoh kesederhaan dalam realita kehidupannya sehari-hari. Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya” (HR. Muslim).

Kehidupan Rasulullah saw. yang jauh dari kata mewah, tidak lain karena beliau paham bahwa kehidupan dunia ini adalah persinggahan semata. Beliau sebagai suri tauladan mengajarkan kepada umatnya untuk memprioritaskan tujuan akhir manusia, yaitu kehidupan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

“Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan antara aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu ia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di siang hari, kemudian ia istirahat di sana lalu meninggalkannya.” (HR. At Tirmidzi).

Sudah sangat cukup dalil di atas dijadikan sebagai landasan syariat tentang pentingnya bergaya hidup minimalis. Selain bermanfaat bagi religiutas manusia, juga bermanfaat pada bidang kehidupan lainnya. Gaya hidup minimalis bermanfaat dalam menciptakan ketenangan batin dan pikiran, manajemen waktu dan materi yang baik, serta dapat meningkatkan produktifitas.

Islam mendorong produktifitas dan tidak melarang konsumsi namun Islam mendorong manusia memiliki gaya hidup bersahaja, mengkonsumsi sesuai kebutuhan dan melarang menumpuk barang tanpa pemanfaatan.
Wallahu’alam bishawab[]

Comment