Kasus Perselingkuhan Cikal Bakal Kehancuran

Opini286 Views

 

Penulis: Risma Febrianti | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sedang ramai kasus perselingkuhan di media sosial. Bagai air terjun yang deras kasus ini terus bermunculan di tengah carut-marut persoalan. Teknologi canggih saat ini nyatanya tak selalu berdampak positif namun menimbulkan berbagai permasalahan salah satunya kasus perselingkuhan.

Terbaru, hubungan terlarang terjadi antara guru olahraga dan siswi SMA di Subang. Kasus ini menjadi viral di media sosial karena sang guru sudah memiliki istri dan juga seorang anak. Seperti diketahui, oknum guru tersebut berinisial BPP, sedangkan sang murid berinisal DL. (Kilat.com)

Bagaikan fenomena gunung es, ini merupakan salah satu kasus perselingkuhan dari deretan kasus yang sudah terjadi saat ini. Kasus ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena hakikatnya kasus ini dapat merusak kerukunan keluarga yang dapat mengakibatkan perceraian dan pengabaian terhadap pengasuhan anak, hingga mengakibatkan anak-anak yang tumbuh kembang tidak ideal dan di ambang kehancuran karena ketidakharmonisan di dalam keluarga.

Dalam situs Hello Sehat dijelaskan beberapa poin dan dampak pada psikologis anak jika terjadi perselingkuhan yang dilakukan oleh orang tua. Di antaranya adalah, anak akan kehilangan kepercayaan, mrngalami depresi mengembangkan perilaku menyimpang, perubahan pandangan soal pernikahan, menjadi marah, anak memiliki kecenderungan untuk selingkuh.  Inilah efek domino yang akan terjadi dalam perselingkuhan yang dilakukan orangtua.

Perilaku menyimpang ini dapat terjadi di era serba canggih ini dengan tanpa aturan di dalamnya. Dibumbui sekulerisme yang mengakibatkan manusia berbuat semaunya dan menghalalkan segala perbuatan terlarang ini dengan standar nafsu manusia.

Jika ditelisik tentu manusia tidak bisa berbuat semaunya. Manusia yang berbuat semaunya hanya akan menimbulkan kerusakan. Dilansir IDN TIMES menyebutkan setidaknya ada lima kemungkinan yang terjadi jika tidak ada aturan dalam kehidupan seperti konflik bermunculan di mana-mana, kriminalitas adalah hal yang biasa, hidup akan jauh dari kata damai dan dipenuhi ketakutan, hilangnya rasa kasih sayang antar manusia, dan rusaknya peradaban manusia.

Hanya saja, norma dan aturan saat ini tidak menutupi lima kemungkinan yang disebutkan. Faktanya, konflik kian bermunculan, kedamaian tidak terasa di tengah masyarakat disertai ketakutan kelaparan yang merajalela, kasih sayang antar manusia hilang diganti dengan saling menolok-olok sampai tragedi membunuh satu dengan yang lainnya hingga peradaban manusia seolah keniscayaan pada era ini.

Hal ini terjadi karena sistem yang digunakan tak lagi memanusiakan manusia, sistem kapitalis merenggut kesejahteraan masyarakat. Karena asas kapitalis adalah manfaat semata dan menjadikan segala aspek kehidupan sebagai bisnis yang menjanjikan yang mengakibatkan para pemodal terus menghimpun harta sebanyak-banyaknya dan orang-orang kalangan bawah akan terus tertindas karena kerasnya kehidupan mereka.

Seyogyanya ada sistem yang revolusioner, sistem yang tidak menjadikan manfaat sebagai asas dalam bernegara dan kehidupan, sistem yang tidak memiliki kepentingan pribadi dan hanya memikirkan setiap individu-individu saja tetapi yang mampu menerapkan sistem yang menyejahterakan masyarakatnya.

Sistem ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang paham akan atensi kehidupan yaitu memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini ada yang Mahakuasa – yang memberi seperangkat aturan – yang disebut dengan syari’at.  Maka dengan demikian terwujudlah kesejahteraan dan kedamaian, juga tidak ada lagi kasus perselingkuhan yang berujung kehancuran.

Karena manusia yang hidup dalam Islam akan menciptakan manusia yang takut berbuat kemaksiatan atau kerusakan dan berlomba-lomba untuk terus mengerjakan kebaikan. Inilah solusi hakiki, yaitu kembali kepada syariat Islam demi kemaslahatan seluruh manusia di penjuru dunia. Wallahu a’lam.[]

Comment