Penulis: Diah Pipit | Muslimah Pemerhati Umat
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam sejarah umat manusia, pena dan pemikiran sering kali lebih tajam daripada pedang. Sebuah gagasan yang lahir dari pena mampu menggugah kesadaran, menyalakan semangat perubahan, bahkan membangun atau meruntuhkan peradaban. Napoleon Bonaparte pernah berkata, “Ada dua kekuatan di dunia: pedang dan pena. Dan pena lebih kuat.”
Pemikiran bukanlah sekadar abstraksi; ia adalah energi penggerak perubahan sosial, politik, dan budaya. Di era digital saat ini, ketika informasi menyebar secepat cahaya, kekuatan itu menjadi semakin nyata. Namun, sebagaimana api yang dapat menghangatkan sekaligus membakar, pena pun dapat menjadi sumber pencerahan atau alat penghancur melalui propaganda dan manipulasi.
Mari kita telusuri bagaimana pena dan pemikiran membangun kejayaan peradaban Islam, sekaligus bagaimana keduanya bisa diperalat untuk meruntuhkannya melalui perang ideologis dan disinformasi.
Pena yang Membangun: Zaman Keemasan Islam
Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-13 M) adalah bukti nyata bagaimana pemikiran yang dilandasi iman dan ilmu mampu melahirkan peradaban yang agung. Pendirian Kota Baghdad oleh Khalifah Abbasiyah pada tahun 762 M menjadi tonggak sejarah lahirnya pusat ilmu pengetahuan dunia, dengan Baitul Hikmah (House of Wisdom) sebagai mercusuar peradaban.
Di lembaga itu, karya-karya besar dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan dan dikembangkan oleh para ulama dan cendekiawan Muslim. Filsuf seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina (Avicenna) berhasil memadukan Aristotelianisme dan Neoplatonisme dengan nilai-nilai Islam, melahirkan filsafat yang rasional sekaligus spiritual.
Al-Khwarizmi memperkenalkan sistem bilangan Hindu-Arab dan algoritma—pondasi matematika modern. Ibnu Sina menulis Canon of Medicine, rujukan kedokteran dunia hingga abad ke-17. Al-Razi memajukan bidang kimia dan farmasi. Semua itu lahir dari semangat Qur’ani yang memuliakan ilmu, sebagaimana wahyu pertama: “Iqra’” (bacalah).
Ledakan intelektual itu bukan sekadar kemajuan teknis, tetapi juga perwujudan peradaban yang menempatkan ilmu sebagai sarana ibadah dan kemaslahatan. Islam saat itu menjadi jembatan yang mengantarkan Eropa keluar dari Zaman Kegelapan menuju era Renaisans.
Opini saya, inilah bukti bahwa pemikiran yang berakar pada tauhid dan rasa ingin tahu mampu membangun peradaban yang gemilang—peradaban yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan alat dominasi.
Pena yang Menghancurkan: Propaganda dan Perang Pemikiran
Namun, pena juga bisa menjadi senjata yang mematikan. Sejarah mencatat bagaimana ghazwul fikr—perang pemikiran—dilancarkan oleh para orientalis Barat untuk mendistorsi citra Islam dan melemahkan kesatuan umat.
Edward Said dalam karya monumental Orientalism (1978) menjelaskan bahwa orientalisme bukanlah sekadar studi akademis tentang Timur, melainkan konstruksi intelektual yang menempatkan Timur sebagai inferior, barbar, dan stagnan—sebuah legitimasi bagi kolonialisme.
Tokoh-tokoh seperti Ernest Renan dan Gustave Le Bon mempropagandakan bahwa Islam adalah agama kekerasan dan anti-kemajuan. Narasi ini menafikan kontribusi ilmuwan Muslim pada masa keemasan dan menggiring opini bahwa dunia Islam tidak memiliki kapasitas peradaban.
Dampaknya terasa panjang: propaganda ini bukan hanya menumbuhkan islamofobia di Barat, tetapi juga menggerus kepercayaan diri umat Islam sendiri. Banyak yang mulai memandang warisan intelektual Islam dengan kacamata Barat, menolak jati diri peradaban sendiri.
Hasilnya adalah fragmentasi dan keterasingan kultural. Sekulerisasi paksa, pembagian wilayah politik, hingga penguasaan narasi melalui media modern terus memperlemah solidaritas umat. Di sinilah pena yang salah arah menjadi alat penghancur peradaban—bukan dengan bom dan peluru, melainkan melalui ide dan wacana.
Ilmu dan Tulisan: Ikatan Peradaban
Dalam Islam, ilmu adalah amanah yang harus dijaga dan diwariskan. Cara paling utama untuk menjaga ilmu agar tidak hilang adalah dengan menulisnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 4–5: “Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa qalam (pena) adalah simbol peradaban—alat yang menjaga ilmu dari kepunahan dan menjadi jembatan antar-generasi.
Demikian pula dalam Surah Al-Qalam ayat 1:
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” Sumpah Allah dengan pena menandakan kemuliaannya sebagai sarana pengikat ilmu dan kebenaran.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Ikatlah ilmu.” Ketika para sahabat bertanya bagaimana caranya, beliau menjawab: “Dengan tulisan.” (HR. Thabarani).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Ilmu itu buruan dan tulisan adalah tali pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan jika engkau memburu kijang lalu membiarkannya lepas.”
Ungkapan ini menegaskan pentingnya mencatat setiap ilmu agar tidak hilang tertelan waktu. Bahkan Imam Asy-Sya’bi berpesan, “Jika engkau mendengar sesuatu, tulislah, sekalipun di tembok.”
Penutup: Pena Sebagai Jalan Kebangkitan
Kekuatan pena dan pemikiran mengingatkan kita bahwa setiap kata yang ditulis adalah amanah dan tanggung jawab. Jika ingin membangun kembali kejayaan peradaban Islam, umat harus kembali kepada tradisi keilmuan yang autentik—seperti para ulama terdahulu yang mengintegrasikan iman dan ilmu.
Sebaliknya, untuk menghindari kehancuran, umat Islam perlu melawan propaganda dengan narasi sendiri: melalui pendidikan, dakwah, dan produksi pengetahuan yang mencerahkan.
Pena bisa menjadi sumber kebangkitan atau penyebab kehancuran—tergantung siapa yang menggenggamnya dan untuk tujuan apa ia digunakan. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]










Comment