Kerusakan Moral Generasi Semakin Menjadi, Sistem Pendidikan Belum Mampu Menjadi Solusi?

Opini146 Views

 

Penulis: Normah Rosman |Pemerhati Masalah Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–“Beri aku 1000 orang tua , niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncang dunia”. (Bung Karno)

Jargon mantan Presiden Soekarno di atas memang sangat melegenda. Jargon tersebut menunjukkan kekuatan para pemuda kala itu. Namun apa jadinya jika kondisi generasi muda masa kini sangat memprihatinkan. Masihkah para kawula muda sehebat dahulu?

Pasalnya seperti yang dikutip dari CNN Indonesia (16/3/2024), Perang sarung yang terjadi di Bekasi, memakan korban. Seorang remaja tewas dalam tawuran perang sarung yang terjadi di Jalan Arteri Tol Cibitung, Cikarang Jawa Barat, Kabupaten Bekasi. Tawuran itu terjadi sekitar pukul 00.30 WIB.

Salah satu korban tewas merupakan pelajar yang berusia 17 tahun. Perang sarung terjadi berawal dari ajakan korban terhadap terhadap AA melalui Whatsapp. Sehingga terjadilah perang sarung antar kelompok, dan memakan korban.

Mirisnya lagi, seorang siswi SMP berusia 15 tahun di Kabupaten Lampung Utara, diperkosa oleh 10 pria. Korban ditemukan dalam keadaan mengenaskan di sebuah gubuk wilayah Lampung Utara pada Sabtu (17/2/2024).

Polisi yang turun tangan telah mengamankan enam orang pelaku, sementara empat pelaku lainnya masih menjadi buron. Awalnya korban dijemput oleh salah satu pelaku untuk diajak nonton pertandingan futsal. Namun saat di perjalanan, pelaku membawa korban ke arah perkebunan yang terletak di Desa Tanjung Baru.

Kemudian pelaku memaksa korban untuk masuk ke dalam gubuk, yang di dalamnya ada sembilan pelaku lainnya. Korban disekap tanpa diberikan makan selama tiga hari. Korban juga mengalami kekerasan seksual dari kesepuluh pelaku (Kompas, 15/3/2024).

Kerusakan Moral Generasi Semakin Mengerikan

Dari dua cuplikan berita di atas, tentu sudah bisa ditebak ke mana arah generasi kita akan berlabuh. Alih-alih menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang selalu digembar-gemborkan, namun yang ada generasi semakin cacat moral.

Tentu saja kualitas generasi saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang mengiringi perjalanan hidup seorang anak. Sebelum menghasilkan generasi yang berkualitas tentunya pendidikan dan lingkungan harus selaras dengan apa yang dicita-citakan.

Maraknya pelajar dan anak di bawah umur yang menjadi pelaku kejahatan adalah cerminan dari kerusakan generasi itu sendiri. Di sisi lain menjadi bukti bahwa kurikulum pendidikan gagal mencetak generasi yang berkualitas.

Di mana kurikulum pendidikan saat ini hanya fokus pada nilai akademik, dan mengabaikan bagaimana membentuk akhlak anak didik agar menjadi generasi yang berkualitas dan tangguh.

Bukan hanya kurikulumnya yang gagal membentuk generasi berkualitas dan tangguh, tapi juga gagal dalam menghadirkan pendidik yang berkualitas. Pendidik diberikan beban administrasi yang banyak, sehingga membuat waktunya tersita pada penyelesaian administrasi dan mengabaikan anak didiknya.

Tidak hanya kurikulum yang menjadi masalah dalam pembentukan generasi, tapi lingkungan juga turut berperan besar dalam membentuk karakter generasi, termasuk maraknya konten kekerasan fisik dan seksual yang sangat mudah diakses oleh siapapun tak terkecuali anak-anak.

Hal ini sudah sering menjadi keluhan para orang tua, tapi tak ada yang bisa dilakukan karena sejatinya memang sistem di negara inilah yang berasas pada kapitalis, sehingga segala sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi kelompok tertentu, akan dianggap sah-sah saja. Na’uzu billah.

Sistem Pendidikan Dalam Islam

Islam memiliki sistem pendidikan tersendiri dengan kurikulum yang bersandar pada akidah. Dengan menggunakan metode pembelajaran tashfiyah yaitu penyelesaian dan penjernihan ajaran Islam dari segala hal yang mengotori kesucian dan keutuhan Islam, dan tarbiyah yaitu pendidikan dan pembinaan kaum Muslim.

Kedua metode ini merupakan proses kegiatan pendidikan menyeluruh yang strategis dalam rangka membangun umat. Adapun prosedur yang dapat dilakukan dengan beberapa prinsip dalam tashfiyah dan tarbiyah, yaitu, asas ilmiah, dan Tazkiyatun Nufus atau pembersihan jiwa.

Ketentuan tarbiyah islamiyah merupakan salah satu unsur strategis dalam masalah pendidikan Adapun ketentuan-ketentuannya adalah sebagai berikut:

Pertama, penyatuan sumber penggalian ilmu, yang hanya bersumber dari Al-Quran dan sunah. Karena dengan bersandar pada Al-Quran dan sunah maka akan terpelihara dari kesesatan dan penyimpangan.

Kedua, tashfiyah (penjernihan) merupakan sumber penggalian ilmu dari pemahaman yang keliru serta hal-hal yang mengotorinya. Penjernihan dan penyaringan ini perlu dilakukan karena sangat berkaitan erat dengan tarbiyah. Pembersihan jiwa (tazkiyatun nufus) tidak akan terlaksana tanpa adanya tarbiyah, sedangkan tashfiyah tidak akan terwujud tanpa ilmu.

Ketiga, penggalian ilmu tersebut selanjutnya dimaksud untuk dilaksanakan dan diterapkan. Keempat, pelaku pendidikan Islam harusnya memahami ilmu syariat. Kelima, bertahap dalam melakukan proses tarbiyah. Keenam, pendidik dan anak didik harus mengikat diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tujuan pendidikan Islam selaras dengan tujuan manusia diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah. Ibadah sendiri haruslah dilaksanakan dengan benar, sehingga kurikulum pendidikan Islam harus mengarah pada pembentukan pribadi yang pemahamannya benar, berjiwa bersih, tidak bersikap ifrath (berlebih-lebihan) tan tafrith (mengabaikan). Kurikulum pendidikan Islam meliputi:

Pertama, kurikulum akidah. Tahapan dalam masalah akidah adalah menerangkan serta menanamkan rukun iman, kemudian dilanjutkan dengan pokok-pokok akidah lainnya seperti pengertian tentang iman yang benar, penanaman pemahaman tentang pelaku dosa besar, akidah terkait menyikapi sahabat dan ahlul bait, dan menanamkan manhaj beragama yang benar.

Kedua, kurikulum ibadah dan fiqih. Materi tentang ibadah dan fiqih diberikan agar generasi berikutnya tidak lagi jumud (apatis) yang bersikap taklid.

Ketiga, kurikulum akhlak. Dengan kurikulum akhlak maka anak didik akan dipelihara dan dididik agar mengutamakan kebenaran, kemuliaan, kecintaan terhadap kebaikan, dan membenci keburukan. Sehingga akan memunculkan akhlak sabar, tidak terburu nafsu, sanggup berkorban untuk kepentingan orang banyak, pemurah, adil, amanah dan sifat-sifat baik lainnya.

Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan jika strategi pendidikan dan pengajaran Islam dapat diterapkan dengan baik sesuai tuntunan murabbi terbaik, yakni Rasulullah saw., dan mengikuti jejak para salafus shalih, sehingga akan terbentuk individu-individu yang memahami dan mengamalkan Islam dengan benar, baik ketika berhubungan dengan Allah maupun ketika bermuamalah dengan sesama manusia, bahkan dengan hewan dan tumbuhan. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment