Kiamat Pasti Datang Sebagai Peringatan Untuk Semua Manusia

Motivasi453 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari-hari kita sering berlalu begitu saja. Kita sibuk mengejar dunia, sibuk menumpuk kesenangan, sibuk memoles citra diri—sampai lupa bahwa semuanya akan berhenti pada satu titik: Hari Kiamat.

Gambaran hari yang menakutkan itu dijelaskan begitu detail dalam Surah Al-Qiyāmah. Surah ini hadir bukan sekadar rangkaian ayat, tetapi tamparan keras bagi siapa pun yang masih terlena.

“Lā uqsimu bi-yawmil-qiyāmah…”
Allah bersumpah dengan Hari Kiamat—hari yang begitu dahsyat hingga sumpah itu menjadi pengingat bahwa peristiwa itu pasti datang. Bukan mungkin, bukan sekadar ancaman, tetapi pasti terjadi.

Saat Mata Membelalak dan Napas Terhenti

Allah menggambarkan bagaimana manusia pada hari itu kehilangan arah:

Mata terbelalak. Seluruh kebenaran yang selama ini disangkal muncul sejelas matahari.

Bulan menggelap, matahari dan bulan disatukan. Alam semesta, yang selama puluhan ribu tahun berjalan dengan keteraturan, mendadak runtuh.

Di saat itu, manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Tidak ada jalan keluar. Tidak ada tempat sembunyi. Tidak ada lagi status, gelar, jabatan, harta, atau popularitas untuk disombongkan. Yang ada hanya amal, yang dulu sering kita abaikan.

Ketika Dalih Sudah Tak Berguna

Di dunia, kita ahli membuat alasan.
Capek, nanti saja, masih muda, masih banyak waktu, besok tobat. Namun Allah menegaskan:“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meski ia mengumbar-umbar alasan.”

Semua dalih akan gugur. Semua pembenaran diri akan runtuh. Bahkan hati kecil yang selama ini kita bungkam akan bersaksi bahwa kita tahu apa yang salah—tapi kita terus melakukannya.

Detik-Detik Kematian yang Tidak Bisa Ditolak

Surah ini menggambarkan saat ruh sampai ke tenggorokan.
Dokter, keluarga, dan siapapun yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa.
Semua menjadi penonton, sementara kita sendirilah yang menghadapi detik pamungkas menuju alam akhirat.

Allah mengingatkan: “Saat itu dikatakan: siapa yang bisa mengobati?” Namun kita tahu itu akhir. Kita tahu itu perpisahan.
Tidak ada yang bisa menunda.

Mengapa Kita Masih Memilih Dunia yang Fana?

Allah bertanya pada manusia dengan teguran yang menghancurkan hati: “Apakah manusia mengira ia akan dibiarkan begitu saja?”

Lihat tubuh kita. Kita dulu hanya setetes air hina, lalu Allah membentuk, menyempurnakan, dan memberi akal.
Lalu mengapa akal itu justru digunakan untuk membangkang?

Mengapa kita begitu serius mengejar dunia, tetapi begitu santai meninggalkan akhirat?

Surah ini tidak hanya menggambarkan kedahsyatan kiamat, tetapi juga menghibur, memberi peringatan, sekaligus membuka pintu taubat.

Ia mengguncang jiwa, memaksa kita bertanya:

Sudahkah aku siap pulang? Amal apa yang benar-benar kubawa? Berapa banyak dosa yang kubiarkan tanpa taubat?

Untuk siapa sebenarnya hidup ini kuhabiskan?

Jika kita jujur, kita tahu jawabannya. Kita banyak menghabiskan waktu untuk dunia, sedikit untuk akhirat. Banyak mengeluh, sedikit bersyukur. Banyak melanggar, sedikit memohon ampun.

Taubat: Sekarang atau Tidak Pernah

Selama jantung ini masih berdetak, selama mata masih bisa terbuka, selama lisan masih bisa berucap, selama Allah masih memberi kesempatan—kita masih bisa kembali.

Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah. Tetapi jangan menunggu sampai ruh berada di tenggorokan. Jangan menunggu sampai hari yang dijanjikan itu datang dengan segala kengerian.

Karena saat itu tiba, pintu ampunan tertutup dan kita tidak diberi kesempatan kedua.

Waktunya Bangun dari Kelalaian

Surah Al-Qiyāmah bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah ajakan lembut sekaligus tegas: Sadar. Kembali. Bersihkan diri.

Hidup ini singkat. Dunia ini fana.
Akhirat tidak akan pernah berakhir.

Semoga setiap ayat dari Surah Al-Qiyāmah mengetuk hati, menggetarkan jiwa, dan menjadi sebab bagi kita untuk berubah sebelum terlambat.[]

Comment