by

Kim Dae Yong, Mualaf Korea yang Fasih Bahasa Arab

Prof. Kim Dae Yong
RADARINDONESIANEWS.COM, SEOUL — Kim Dae Yong, warga Korea Selatan pernah bepergian di Timur
Tengah pada tahun 1980. Pengalamannya di negara-negara mayoritas Muslim
tersebut membuatnya tergugah untuk menghidupkan kembali kehangatan
sambutan sesama Muslim yang dirasakannya.
 
Dilansir dari Korea Times, Rabu (30/3), Kim yang kemudian
mendirikan Pusat Budaya Islam Jeju tersebut membekas sangat dalam di
hidupnya sebagai seorang mualaf.

Pada tahun 1980-an, Kim
mengadakan perjalanan di Timur Tengah. Perjalanannya itu membentuk
kembali pandangannya terhadap dunia dan semakin memperdalam ikatannya
dengan sesama Muslim.


Apa yang dilihatnya sangat berbeda dengan yang diketahuinya dari
kelas sejarah. Namun keramahan masyarakat Muslim lokal adalah hal yang
paling tidak bisa dilupakannya. Pada musim panas 1983 di Jerash,
Yordania, Kim menerima sambutan sangat hangat.

“Saat itu saya sangat lelah dan sama sekali tidak memiliki tempat untuk bermalam,” cerita Kim.


Dalam pengalamannya itu, ia baru selesai menjalankan shalat Maghrib
di sebuah masjid di Jerash. Kemudian ia menghampiri imam yang tak
dikenalnya, dan meminta bantuan untuk mencarikan tempat menginap.


Awalnya imam tersebut terkejut karena tak pernah bertemu dengan
Muslim dari Korea, terlebih yang fasih berbahasa Arab. Kim kemudian
menjelaskan ia pernah mempelajari hukum syariah di Universitas Qatar.
Kemudian imam tersebut memanggil beberapa orang di masjid, menanyakan
apakah ada yang mau menampung Kim barang semalam.

“Saya melihat
beberapa orang mengangkat tangan, dan seorang tetua membawa saya ke
rumahnya. Ia menyajikan ayam untuk makan malam, dan menyediakan kamar
putranya untuk saya tempati,” kenang Kim.


“Esoknya, setelah saya pamit, ia mengeluarkan selembar uang dari
sakunya dan memberikannya pada saya. Ia menyuruh saya untuk membeli
minuman ketika saya haus. Kemurahannya hampir membuat saya
menangis,”tambahnya.

Beberapa kali selama perjalanannya, Kim
bertemu dengan orang-orang yang menyambutnya seperti keluarga sendiri.
Mereka, menurut Kim, memiliki perasaan untuk membantu seorang pemuda
yang bepergian sendirian. Pengalaman itu sangat berbekas di hati Kim
bahkan setelah ia menyelesaikan studinya di Qatar. Pada tahun 1992, ia
pun mendirikan Pusat Kebudayaan Islam Jeju.

“Setelah meninggalkan
Qatar, saya merasa berhutang karena orang-orang di Timur Tengah sangat
baik pada saya dan memperlakukan saya seperti keluarga mereka. Maka saya
berpikir, saya harus membantu para pengunjung Muslim di Jeju,” jelas
Kim.

Pusat kebudayaan tersebut, selama dua dekade terakhir,
digunakan sebagai fasilitas ibadah bagi pelancong Muslim. Kim juga
menyediakan pemandu bagi wisatawan Muslim yang membutuhkan.[rol]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 10 =

Rekomendasi Berita