Kopdes Dinilai Berpotensi Menjadi Pionir Ekonomi Hijau Berbasis Desa

Ekonomi, Nasional29 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JEMBER  – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP) dinilai memiliki peluang besar menjadi motor penggerak ekonomi hijau (green economy) di tingkat desa. Selain memperkuat ekonomi masyarakat, koperasi juga dinilai dapat berperan dalam pengelolaan limbah rumah tangga dan industri yang bernilai ekonomi.

Pandangan tersebut disampaikan Instruktur KDKMP Kementerian Koperasi, As Khabul Mukminin kepada Radar Indonesia News, Senin (22/6)2026) menyoroti potensi pengelolaan minyak jelantah dan oli bekas sebagai bagian dari gerakan ekonomi hijau berbasis desa.

Menurut As Khabul, langkah Kementerian Koperasi yang mendorong KDKMP menjadi pembeli minyak jelantah merupakan terobosan yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.

“KDKMP siap menjadi pembeli minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa isu ekonomi hijau tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi mulai diwujudkan melalui langkah nyata,” ujar As Khabul.

Ia menjelaskan, minyak jelantah memiliki nilai ekonomi yang cukup besar karena dapat diolah menjadi bahan baku bioavtur atau bahan bakar pesawat. Ia menyebut potensi minyak jelantah nasional mencapai sekitar 168 juta liter per bulan.

Untuk wilayah Jawa Timur yang berpenduduk sekitar 41,8 juta jiwa, potensi minyak jelantah diperkirakan mencapai 25,08 juta liter per bulan. Sementara di Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sekitar 2,6 juta jiwa, potensi minyak jelantah diperkirakan mencapai 1,56 juta liter per bulan.

Selain minyak jelantah, alumni Profesional Training In Went, Maghdeburgh-Germany ini juga menyoroti potensi pengelolaan oli bekas dari sektor otomotif dan industri. Menurutnya, limbah oli memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikelola dan didaur ulang secara tepat.

“Potensi oli bekas tidak kalah besar dibanding minyak jelantah. Volume limbahnya diperkirakan mencapai 520 hingga 650 juta liter per tahun dari sektor otomotif dan industri,” katanya.

Ekonomi Hijau Berbasis Desa

As Khabul mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep ekonomi hijau yang diperkenalkan ekonom Inggris, David Pearce melalui buku Blueprint for a Green Economy pada 1989.

Menurutnya, ekonomi hijau menempatkan alam sebagai modal pembangunan yang harus dijaga keberlanjutannya.

“Gerakan ekonomi hijau di tingkat desa dengan melibatkan KDKMP secara nasional dapat menjadi langkah strategis yang memberi dampak nyata bagi masyarakat pedesaan sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan koperasi dalam pengumpulan limbah rumah tangga dan industri berpotensi memperkuat gotong royong serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.

Pembekalan Manajer Kopdes

As Khabul juga menyoroti program pembekalan bagi calon manajer Kopdes yang saat ini tengah dipersiapkan pemerintah.

Menurut dia, pembekalan tersebut tidak hanya menanamkan disiplin dan integritas, tetapi juga keberanian mengambil keputusan sebagai bekal kewirausahaan.

“Sikap berani, disiplin, dan integritas merupakan modal penting bagi seorang pengusaha maupun manajer koperasi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa para calon manajer juga mendapatkan pelatihan kepemimpinan, manajerial, hard skill, dan soft skill yang melibatkan akademisi, praktisi, motivator, serta pelatih profesional.

Menyongsong Bonus Demografi

As Khabul menilai penguatan desa menjadi strategi penting dalam menghadapi bonus demografi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 284,67 juta jiwa, dengan hampir separuhnya berasal dari generasi Z dan milenial.

Menurut dia, sebagian besar kelompok usia produktif tersebut tersebar di berbagai wilayah pedesaan dan memiliki potensi besar untuk menggerakkan pembangunan ekonomi lokal.

“Dari tangan generasi unggul diharapkan lahir desa-desa yang sejahtera, mandiri secara energi, pangan, dan ekonomi,” ujar As Khabul.

Ia berharap keberadaan sekitar 30.000 calon manajer Kopdes yang tengah dipersiapkan dapat menjadi penggerak pembangunan desa sekaligus memperkuat transformasi desa menuju komunitas yang lebih modern dan berdaya saing global.[]

Comment