by

 Lebih Percaya Penjajah Ketimbang Penceramah?

-Opini-63 views

 

 

 

Oleh:  SW Retnani S.Pd, Pendidik Generasi dan Aktivis Dakwah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Mereka yang menabur angin akan menuai badai menjadi sebuah  peribahasa yang tepat bagi mereka pembuat makar dan stigma jahat untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim melalui labelisasi penceramah dengan kata radikal.

Mereka para pembenci Islam itu lupa bahwa di atas langit masih ada langit, seberapapun kuat keinginan mereka untuk meredusir Islam pasti hanya  menuai kegagalan.

Mereka memberi label para ustadz dengan kata radikal lalu melarang umat mendengarkan atau mengundang para ustad ini. Untuk hal ini mereka tanpa malu menyebarkan daftar nama-nama ustadz yang telah di stigma negatifkan. Di antara para ustad yang mereka anggap radikal adalah Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, Ustadz Fatih Karim, Ustadz Hafidz Abdurrahman, dll.

Padahal para ustadz ini merupakan ulama populer yang memiliki ratusan bahkan ribuan umat baik di dunia maya maupun di alam nyata.

Para pembenci Islam juga menfitnah generasi Islam, mereka tiupkan aroma kebencian pada para hafiz Qur’an, generasi Islam yang good looking yang mengikuti sunnah Rasulullah saw., pandai berbahasa Arab serta rajin beribadah di masjid dan ain-lain.

Sebagaimana dikutip dari www.suara.com, bahwa Presiden Joko Widodo mengingatkan TNI dan polri agar jangan sampai disusupi penceramah radikal dalam kegiatan beragama. Menurut Jokowi jangan sampai dengan mengatasnamakan demokrasi lantas mengundang penceramah radikal. (Minggu, 6/3/2022)

Sungguh sangat disayangkan, kalimat ini keluar dari pemimpin negeri kaum muslim. Seharusnya beliau tidak melupakan sejarah negeri ini, di mana bangsa ini merdeka dengan semangat jihad para pejuang Islam. Pejuang Islam yang tidak mau tunduk pada kebiadaban dan kezaliman para penjajah.

Bahkan seantero Indonesia mengetahui pekikan takbir dari Bung Tomo mampu menyemangati para pejuang di Surabaya hingga kita dapat merebut tanah air kita dari cengkraman para penjajah. Begitu pula para pahlawan yang lainnya, sebut saja Tuanku Imam Bonjol, pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, RA Kartini dan ain-lain.

Saat ini negeri kita membutuhkan ekstra persatuan dan kesatuan bangsa untuk menghadapi wabah pandemi Covid- 19, untuk dapat bangkit dari keterpurukan perekonomian dan untuk menghalau rongrongan bangsa lain yang selalu mengincar sumber daya alam negeri kita tercinta.

Persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia juga sangat diperlukan guna menyelesaikan problematika yang ditimbulkan akibat sistem kapitalisme demokrasi. Mulai dari masalah dampak liberalisasi migas, berulangnya kasus tawuran, investasi bodong, perjudian, rusaknya mental generasi muda, maraknya perekonomian berbasis ribawi, dan adanya intervensi asing serta menjamurnya kelompok separatis dll.

Semua problematika ini muncul akibat sekularisme. Paham yang menjauhkan umat Islam dari syariat Islam. Paham yang telah menyeret kaum muslim ke dalam lembah hitam kemaksiatan dan kezaliman.

Sayangnya, pemerintah lebih percaya para penjajah ketimbang para penceramah. Mereka lebih memilih hukum-hukum asing dari pada hukum-hukum Sang Mahapencipta.

Mereka lebih mengutamakan kepentingan penjajah dari pada kepentingan rakyat. Semua itu hanya demi memuaskan nafsu duniawi mereka. Mereka lupa hidup di dunia hanyalah sementara. Mereka lupa setiap tindakan perbuatan di dunia akan di mintai pertanggung-jawaban.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya :  Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga ditanya dengan empat macam yaitu :

1. Tentang umurnya habis digunakan untuk apa
2. Jasadnya rusak digunakan untuk apa
3. Ilmunya, bagaimana mengamalkannya
4. Hartanya, darimana mencari dan kemana membelanjakannya.
(HR. Ibnu Hibban dan At Tirmidzi).

Seyogyanya para penguasa negeri ini berterima kasih pada para penceramah, ulama-ulama, ustad-ustad, yang berperan aktif di masyarakat. Negeri ini sangat membutuhkan para ulama yang taat kepada Allah dan rasul-Nya.

Sebab semua perjuangan di dunia ini, sangat membutuhkan peran aktif para ulama, agar seluruh tindakan kita sesuai dengan tujuan Sang Khaliq yang menciptakan manusia beserta alam sekitarnya. Ingat, ikhtiar tanpa di iringi doa akan menjadikan kesombongan, begitu pula ilmu tanpa di iringi dengan iman pasti akan pincang serta jauh dari kesempurnaan.

Maka pemerintah yang kini berkuasa, seharusnya tidak memprovokasi publik agar waspada apalagi menjauhi kelompok atau ulama yang mereka anggap radikal, hanya karena penguasa tidak mau dikritik.

Para Penceramah memberikan nasihat berdasarkan kitabullah dan As Sunah yang pastinya, sesuai dengan fitrah manusia dan apabila kita melaksanakannya akan mendatangkan keberkahan juga rahmat dari Allah azza wa jalla. Dengan penerapan syariat- Nya, Islam rahmatan lil ‘alamin akan dapat terwujud.

Tidak seperti sekarang ini, Islam dan kaum muslim terpuruk, tertindas dan terzalimi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, rakyat yang mengalami banyak masalah ditambah harus dipusingkan dengan statmen yang meresahkan. Akhirnya kenyamanan hilang, persatuan goyah, sirna kepercayaan pada para penguasa dll.

Sebenarnya, hal ini takkan terjadi apabila para penguasa tidak menzalimi rakyat dan mampu meriayah umat dengan sebaik-baiknya serta dapat mewujudkan solusi bagi perbaikan kondisi di negeri ini.

Herannya, kata radikal selalu dikaitkan dengan Islam dan kaum muslim.

Apakah stigma negatif ustadz radikal ini hanya diperuntukkan bagi penceramah yang dianggap mengganggu stabilitas kursi kekuasaannya ?

Fitnah ini mengingatkan kita pada situasi dan kondisi saat Rasulullah saw. berdakwah. Stigma negatif pun disematkan para kaum kafir Quraisy kepada nabi Muhammad saw. Mereka memfitnah beliau saw., menyiksa, bahkan merencanakan membunuh beliau.

Namun, makar jahat mereka selalu gagal sebab Allah Swt. telah membalikkan makar jahat itu, pada diri mereka sendiri. Hingga kemenangan Islam dapat dinikmati kaum muslim. Kejayaan serta kemuliaan kaum muslim bahkan hingga belasan abad lamanya. Peradaban Islam telah mewarnai dan menghiasi dunia. Tinta emas sejarah telah menuliskan kegemilangan Daulah Islam.

Sekarang, para pembenci Islam mulai berulah lagi. Mereka tak pandai dalam mengambil hikmah dari sejarah para pendahulunya. Mereka ingin memadamkan cahaya Islam.

Hal ini sudah dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab suci Al Qur’an. Sebagaimana Firman-Nya yang artinya :

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka tetapi Allah menolaknya bahkan berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukainya”. (QS At-Taubah ayat 32 ). Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita