Ledakan Amarah Remaja: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan

Opini331 Views

Penulis: Nabila Maulidina Widyarahmah | Akademisi dan Panelis

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kasus santri yang membakar asrama karena sakit hati menjadi korban bullying, atau siswa SMA yang melakukan aksi ledakan di sekolah akibat tekanan sosial, bukan lagi peristiwa tunggal. Ia adalah potret luka sosial yang semakin dalam di tubuh generasi muda Indonesia.

Di balik dinding sekolah dan seragam rapi para pelajar, sedang tumbuh benih-benih kemarahan, keputusasaan, dan dendam yang dipupuk oleh lingkungan yang gagal memberi makna pada pendidikan.

Fenomena ini menandakan bahwa bullying bukan sekadar perilaku menyimpang individual, tetapi telah menjadi gejala sistemik dari krisis adab di dunia pendidikan kita.

Setiap tahun, kasus serupa muncul dengan pola yang sama: ada korban yang dipermalukan, dilecehkan, dikucilkan, hingga akhirnya kehilangan kontrol dan memilih jalan ekstrem untuk melampiaskan luka.

Ketika kita telusuri akar persoalannya, semua mengarah pada satu hal — kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membentuk kepribadian dan akhlak.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan karakter, kini berubah menjadi ruang kompetisi dan tekanan sosial. Nilai akademik dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan, sementara pendidikan moral hanya menjadi pelengkap kurikulum.

Di sinilah lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara emosional; tahu cara berkompetisi, tapi tidak tahu cara menghormati; terbiasa mengomentari, tapi tidak terbiasa menghargai.

Ketika nilai agama dan adab dipinggirkan, maka ruang sosial anak dipenuhi oleh ejekan, candaan merendahkan, dan perilaku agresif yang dianggap “biasa”.

Media sosial turut memperparah keadaan. Dunia maya kini menjadi panggung bagi para pelaku bullying mencari perhatian dan pengakuan. Video penghinaan, kekerasan verbal, dan tindakan mempermalukan teman dianggap hiburan, ditonton, disebarkan, dan ditertawakan berjamaah.

Ini menunjukkan betapa dalam krisis moral yang kita alami — di mana penderitaan orang lain menjadi konten, dan empati berganti sensasi. Parahnya, korban yang merasa tertekan sering kali mencari “inspirasi” untuk membalas melalui media yang sama, meniru perilaku ekstrem yang mereka lihat, hingga melahirkan tragedi baru yang memakan korban jiwa.

Semua ini tidak bisa dilepaskan dari akar yang lebih dalam: sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang menafsirkan belajar hanya sebagai jalan menuju pekerjaan dan penghasilan. Ia menyingkirkan ruh pembentukan manusia seutuhnya — yaitu pembinaan akal dan hati berdasarkan nilai ketuhanan.

Pendidikan dalam sistem ini gagal membentuk pola pikir dan pola sikap yang kokoh, karena terlepas dari sumber maknanya: aqidah Islam. Maka, tak heran jika generasi yang lahir dari sistem semacam ini menjadi cerdas tanpa arah, bebas tanpa batas, dan kuat secara teknis tapi lemah secara moral.

Sekolah saat ini telah kehilangan jiwanya. Orientasi pendidikan beralih dari membentuk manusia menjadi sekadar mencetak tenaga kerja. Guru tidak lagi berfungsi sebagai pembimbing ruhani, melainkan operator kurikulum.

Nilai-nilai spiritual dan moral terpinggirkan, tergantikan oleh jargon prestasi dan kesuksesan duniawi. Akibatnya, kita melihat generasi yang mahir berpikir logis tapi miskin rasa; cepat menyerap pengetahuan tapi lambat memahami makna hidup; unggul dalam teknologi tapi kalah dalam empati.

Islam menawarkan pandangan yang berbeda dan menyeluruh tentang pendidikan. Tujuan utama pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) — pribadi yang berpikir dan bersikap berdasarkan aqidah.

Proses pendidikan dalam Islam bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membina jiwa dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Di sinilah adab menjadi dasar dari segala ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Maka, pendidikan Islam sejatinya adalah upaya menyempurnakan manusia, bukan hanya mencerdaskannya.

Dalam kerangka Islam, sekolah bukan sekadar institusi akademik, tetapi tempat pembentukan ruh, akal, dan karakter. Kurikulumnya berpijak pada aqidah Islam, mengajarkan adab sebelum ilmu, makna sebelum rumus, dan tanggung jawab sebelum kebebasan.

Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing. Dan setiap interaksi di ruang pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan cinta kepada Allah, hormat kepada sesama, serta tanggung jawab sosial yang berlandaskan iman.

Namun, semua itu tidak akan berjalan dalam sistem yang sekuler dan individualistik. Dibutuhkan peran negara yang sungguh-sungguh menjadikan pendidikan sebagai proyek peradaban, bukan komoditas ekonomi.

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk menjamin pendidikan yang menumbuhkan iman dan akhlak, melindungi anak dari kekerasan sosial, dan memastikan lingkungan belajar yang aman dan manusiawi. Negara adalah rā‘in — pelindung dan pengatur urusan rakyat — yang wajib menjaga generasi dari kehancuran moral dan sosial.

Tragedi demi tragedi yang menimpa generasi muda kita seharusnya menjadi alarm keras. Bahwa selama sistem pendidikan masih mengabaikan adab dan aqidah, selama keberhasilan masih diukur dari nilai rapor dan ranking, selama ruang sosial masih diwarnai ejekan dan perundungan, maka setiap anak berpotensi menjadi korban — atau pelaku.

Kini saatnya kita jujur bertanya: pendidikan macam apa yang sedang kita bangun, dan manusia macam apa yang sedang kita hasilkan?

Islam tidak datang untuk menambal luka, tetapi untuk menyembuhkannya dari akar. Ia mengembalikan makna pendidikan sebagai proses membentuk manusia yang beriman, beradab, dan bertanggung jawab — bukan sekadar individu yang kompeten.

Hanya dengan kembalinya nilai-nilai Islam ke dalam sistem pendidikan dan kehidupan sosial, kita bisa berharap generasi ini tumbuh dengan hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan jiwa yang beradab. Sebab, tanpa adab, semua ilmu akan kehilangan cahaya.[]

Comment