Liberalisme Mengancam Generasi Masa Depan

Opini291 Views

 

 

Oleh: OKI Ummu Kinan, AM.d, Komunitas menulis WCWH

_________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Liberalisme merupakan paham mainstream yang memprioritaskan kebebasan individu dalam segala aspek kehidupan. Meskipun tidak dengan fisik,  sekulerisme menjajah alam pemikiran umat.

Produk pemikiran barat ini tanpa di sadari telah merasuki jiwa-jiwa pemuda di negeri ini. Dampaknya, mereka menjalani kehidupan tetapi tidak mau diatur dengan aturan Sang Pencipta, karena agama dianggap terlalu banyak aturan.

Pemuda adalah aset bangsa, maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh pemuda di masa datang. Jika kini pemuda salah arah, maka bisa hancurnya suatu bangsa di masa yang akan datang menjadi sebuah kepastian.

Inilah yang sedang melanda negeri ini, mayoritas muslim dan para pemuda bertingkah laku begitu bebas tanpa kendali, mulai dari pergaulan antara laki-laki dan perempuan dengan status pacaran yang kemudian berujung pada perzinahan.

Hamil di luar nikah pun terjadi meski status Mereka masih pelajar. Di sini, dispensasi nikah kemudian dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah. Apa lacur? Masalah ini justru semakin dan terus meningkat. Kasus di Ponorogo adalah secuil dari gundukan persoalan terkait karena masih banyak kasus yang tidak terlaporkan. Kompasiana.com (31/1/2023) bahkan menulis bahwa dispensasi nikah di Ponorogo ternyata juga marak di daerah-daerah lain.

Hal tragis adalah dengan status pacaran, mereka menjalin hubungan saling mencinta namun berujung sakit hati dan tega melakukan pembunuhan.

Kebebasan dan salah pergaulan ini juga berakhir di ruang jeruji tahanan. Berawal coba-coba dan ketagihan, berujung menjadi pengedar barang haram. Kebanyakan pelaku dan korbannya juga pemuda. Tergiur hasil penjualan yang menyilaukan. Ingin kesenangan, mencari keuntungan tanpa skil dan minim keringat bercucuran.

Belum lagi tawuran, pemuda dan para pelajar yang tak berkesudahan. Para pelajar yang didominasi remaja kini begitu mudahnya tersulut emosi dan adu domba. Mereka membawa senjata tajam dan melakukan tawuran yang meresahkan para warga. Mereka bertindak saling menyakiti hingga pada akhirnya memakan korban.

Dengan alasan kebebasan berekspresi, aksi remaja dan pemuda justru salah arah. Mereka ingin menunjukkan eksistensi diri,  ketenaran dan kepopuleran instan untuk meraup pundi-pundi rupiah demi kekayaan.  Namun sangat disayangkan bahwa ketenaran dan kekayaan yang ingin mereka raih itu sejatinya hanya bersifat temporal.

Sebut saja bonge dari citayem, beberapa youteber tertarik membuat konten untuk bisa menambah jumlah views dan viewer tapi kini sepi pundi-pundi. Akankah generasi seperti ini kelak mampu menjadi pemimpin masa depan?

Banyak contoh kasus ril yang membuat kaum muda kehilangan arah dan tujuan hidup mereka. Hari-hari menghadirkan berbagai sensasi untuk eksistensi diri, demi ketenaran dunia, semata hanya untuk kesenangan materi belaka.

Kurangnya empati, tak bermoral dan bersikap arogan. Pemuda yang tak sehat jiwa dan raganya. Hal ini terjadi tidak hanya di kota-kota besar metropolitan, rusaknya kepribadian juga menjalar di daerah-daerah dan pelosok bak cendawan.

Tidak ada habisnya jika merunut bobroknya generasi muda harapan bangsa. Sekulerisme dan liberalisme telah berhasil merusak generasi hingga ke akarnya. Mereka kini disibukkan mencari kesenangan dunia tanpa bersandar pada pemahaman agama yang tepat.

Islam Solusi bagi Generasi

Belajar dari pemuda ashabul Kahfi, pemuda beriman yang menjaga kemuliaan di mata Allah. Dengan keyakinan dan keimanan, Mereka takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT ketika melakukan dosa kemaksiatan.

Generasi gemilang dari masa Nabi Muhammad SAW, Salahudin Al Ayubi dan Generasi Muhammad Al Fatih. Generasi emas, tangguh dan luar biasa di sepanjang sejarah peradaban Islam.

Di usia muda berpikir politik membuat strategi jitu dan menggentarkan musuh, merebut kekuasaan dan menaklukan negeri-negeri lain demi kemuliaan Islam.

Generasi yang tidak hanya kuat fisik semata, tapi kekuatan yang lahir dari keimanan. Inilah yang terpenting, dorongan ketakwaan yang mampu menggerakkan sikap rela berkorban demi mengharap keridhoan Allah semata.

Al-Qur’an benar-benar dijadikan rujukan dalam menjalani kehidupan. Maka wajar bahwa apa yang terjadi saat ini tidak lain karena mereka jauh dari aturan Ilahi. Hal ini tentu juga didukung oleh sistem kapitalis sekuler yang memang memiliki goal menjauhkan sejauh – jauhnya agama dari kehidupan.

Sekulerisme membentang dan menjauhkan generasi ini dari jati diri sebagai muslim. Di samping itu, isu terorisme dan radikalisme menjadi hantu yang menakutkan bagi sebagian orang tua dan para pemuda ketika ingin belajar dan mengimplementasikan  Islam.

Jika hal ini dibiarkan dengan tidak ada kepedulian orang tua, masyarakat bahkan negara bisa berakibat perilaku kemaksiatan para pemuda semakin memuncak ke depan.

Melihat hal ini, kita hanya bisa merasa pedih bak teriris sembilu namun tidak  berdaya dan tak bisa apa-apa.

Belajar dari sejarah, setidaknya ada beberapa poin yang bisa kita ambil untuk menyelamatkan para generasi ini.

Pertama, tetaplah dan terus menyeru dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan dakwah. Mengubah pemahaman yang salah, untuk kembali pada ajaran Islam kaffah yang benar.

Kedua, melakukan pembinaan terhadap pemuda seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW. Dengan  pembinaan ini kelak dapat memahamkan mereka tentang kewajiban syariat, mencari amal di dunia sebanyak-banyaknya, menjadi anak sholeh dan sholeha yang in syaa Allah di akhirat kelak membawa syafa’at.

Ketiga, doa yang tak putus-putus, agar Allah kuatkan kita agar tidak pernah lelah menebar dan mengajak pada kebaikan. Agar Allah bukakan pintu hati para pemuda untuk menjadi pemuda istimewa yang beriman, bertakwa, semangat membara, berjuang dan berkontribusi melakukan perubahan yang gemilang.

Jika hari ini kita peduli akan nasib pemimpin negeri ini, In syaa Allah ke depan, bangsa ini tak akan mengalami krisis kepemimpinan lagi.Wallahu’alam bishawab.[]

Comment