Lima Dekade Yayasan Permata Sari, Jejak Sembilan Srikandi Pendidikan

Pendidikan387 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  — Yayasan Permata Sari (YPS) menandai usia 50 tahun dengan menggelar peringatan milad di The Sanctuary Auditorium, Menara Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Yayasan yang dirintis sembilan aktivis perempuan itu kini mengelola 11 lembaga pendidikan yang tersebar di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Acara peringatan setengah abad YPS dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 Anies Baswedan, penyair senior Taufiq Ismail, pemerhati pendidikan anak Seto Mulyadi, serta diplomat senior Nazaruddin Nasution. Anies hadir mendampingi ibundanya dengan kursi roda.

Peringatan milad diawali pemutaran video dan slide perjalanan YPS sejak berdiri pada pertengahan 1970-an. Dokumentasi tersebut menampilkan jejak perjuangan para pendiri dalam membangun pendidikan anak berbasis nilai Islam dan kemanusiaan. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni dari siswa Cikal Harapan serta testimoni para pengelola yayasan.

Ketua Umum YPS periode 2024–2029, Fardiah Fahmid, mengatakan peringatan 50 tahun ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sepanjang tahun. Menurut dia, YPS telah meluluskan puluhan ribu alumni dari berbagai jenjang pendidikan.

“Milad ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali cita-cita para pendiri sekaligus merumuskan visi 50 tahun ke depan, yakni terwujudnya pendidikan Islam yang berwawasan global,” kata Fardiah dalam sambutannya.

Ketua Pembina YPS sekaligus salah seorang pendiri, Ida Ismail Nasution, mengenang masa awal pendirian yayasan yang diwarnai keterbatasan dan keberanian mengambil risiko. Ia menyebut para pendiri YPS merupakan aktivis perempuan Korps HMI-Wati (KOHATI) yang berangkat dari semangat pengabdian.

Ida juga menceritakan kisah tentang almarhum Mar’ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan yang dikenal dengan julukan Mr. Clean dan merupakan suami salah satu pendiri YPS, Etty Mar’ie Muhammad.

Menurut Ida, Mar’ie pernah meminta istrinya mengembalikan cek sumbangan dari seorang donatur karena mencurigai niat yang tidak tulus.

“Padahal saat itu kami sedang sangat membutuhkan dana,” ujar Ida mengenang peristiwa tersebut.

Momentum penting datang, kata Ida, ketika Mar’ie Muhammad dipercaya Presiden Soeharto menjadi Ketua Festival Istiqlal. YPS diberi tanggung jawab mengelola divisi bazar dalam acara yang berlangsung selama dua bulan itu.

“Divisi bazar yang kami kelola justru menjadi satu-satunya yang memperoleh keuntungan, sekitar Rp 1,5 miliar. Setelah dibagi dengan panitia, sisanya menjadi modal awal kami membangun sekolah Cikal Harapan,” tuturnya.

Dari titik itulah, YPS berkembang hingga kini menjadi salah satu yayasan pendidikan yang konsisten mengelola lembaga pendidikan lintas provinsi, dengan tetap membawa semangat para pendiri yang mereka sebut sebagai sembilan srikandi pendidikan.[]

Comment