by

Listening Or Hearing?

 

Oleh: Galatia Chandra, Author of Hacking Your Mind Book

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Terjemahan kata listening kadang rancu dengan hearing. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai kata “Mendengar” padahal kedua kata ini memiliki arti yang jauh berbeda.

Manusia mempunyai dua telinga dan juga tidak tuli tapi kadang aneh.  Kita pasti pernah mendengar ungkapan, “Sorry tadi aku melamun dan tidak mendengarkan.”

Padahal menurut teori, 50% keberhasilan seorang pimpinan didapatkan dengan cara mendengar, mengamati dan menginterpretasikannya.

“Most of the successful people I’ve known are the ones who do more listening than talking. Sebagian besar orang sukses yang saya kenal, mereka lebih banyak mendengar daripada bicara.”

Bernard M. Baruch, seorang pemimpin politik dan finansial terkenal di Amerika, bertutur tentang pengalaman pahit yang dialami Amerika.

Belajarlah dari pengalaman pahit yang dialami Amerika saat pemimpinnya tidak mau mendengar. Waktu itu Amerika akan memulai perang dengan Vietnam, agen CIA sesungguhnya memberi peringatan pada para petinggi di Gedung Putih bahwa kemungkinan besar mereka akan gagal karena musuh yang dihadapi berbeda,  tidak bisa dikalahkan dengan bom.

Tapi Gedung Putih tidak mendengarkan saran penting dari Agen CIA tersebut. Perangpun terjadi dan sejarah kemudian mencatat sebanyak 58.000 tentara Amerika mati sia sia serta hilang di Vietnam. Sebuah kekalahan yang sangat tragis yang pernah terjadi di dunia akibat tidak mau mendengarkan.

Berikut ini adalah kebiasaan mendengar yang buruk:

(1) MENGHAKIMI, sudah mengambil kesimpulan padahal orang yang berbicara belum selesai.

(2) SELEKTIF, hanya mendengar apa yg mau didengar saja.

(3) TIDAK SABAR, menunggu hingga kalimat orang lain selesai, senang interupsi

(4) EGOSENTRIS, berpikir tentang apa yang akan dikatakan selagi mereka masih berbicara

(5) PARTONIZING, pura-pura mendengarkan, padahal pikiran melayang-layang entah kemana.

(6) KERAS KEPALA – mendengar tapi tidak terbuka & sudah mengambil keputusan.

Ternyata untuk mendengarkan tidak hanya dibutuhkan telinga, tapi juga HATI.

Maka terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang tepat pada kata Bahasa Inggris “Listen” sesungguhnya adalah bukan mendengar tapi MENYIMAK.

Tahukah bahwa ketika kita berbicara, sesungguhnya kita hanya mengulangi apa yang sudah kita ketahui. Namun ketika kita MENYIMAK atau MENDENGARKAN maka kemungkinan besar kita bisa belajar sesuatu yang baru. Ini sangat penting.

Tuhan memberi kita 1 mulut dengan 2 telinga, dengan maksud agar kita lebih sering mendengar daripada berbicara. Demikian juga bentuknya. Tuhan memberi kita mulut yang selalu tertutup sedang telinga yang selalu terbuka untuk mendengar.

Pada saat meeting face to face atau rapat secara langsung kita digantikan dengan zoom, kemampuan menyimak ini jauh lebih dibutuhkan. Karena pada saat zoom meeting apalagi jika kamera dimatikan dan kita mendengarkan sambil mengerjakan yang lainnya,  sesungguhnya kita hanya mendengar tapi tidak menyimak.

Apakah ketika meeting F2F kita digantikan dengan zoom ini akan meningkatkan produktivitas kerja kita? Saya katakan bahwa jika kita tidak meningkatkan kemampuan menyimak,  produktivitas kita justru makin menurun.

Kemarin adalah perayaan yang dinamakan the World Listening Day. Marilah kita syukuri kemampuan mendengar yang Tuhan berikan pada kita. Gunakanlah seoptimal mungkin, Jadilah manusia yang peka terhadap lingkungan sekitar kita dengan kemampuan mendengarkan dan menyimak yang makin baik dari hari kehari.

“Listen to many, speak to a few. Dengarkan banyak orang, bicaralah pada sedikit orang” (William Shakespeare).

_____

Tulisan ini bersumber dari WAG Rumah Auliya Inspirasi dengan adaptasi kalimat oleh redaksi

Comment

Rekomendasi Berita