by

Lulu Nugroho: Umat Yang Pelupa

  Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ormas-ormas Islam bersepakat untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan mengedepankan dialog dalam segala hal, pasca kasus pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Dialog Kebangsaan bersama Tokoh-tokoh Ormas Islam di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (09/11/2018).
Pada dialog bertema “Dengan Semangat Ukhuwah Islamiyah, Kita Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa” ini, pihak yang bertemu dari pemerintah antara lain Menko Polhukam Wiranto dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta dari tokoh-tokoh agama Islam, para ulama, para habaib, dan pimpinan ormas Islam di antaranya dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan PBNU.
Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI) Habib Hanif Alatas sebagai salah satu peserta menyatakan, “Artinya, ke depan bendera tauhid yang seperti ini dan dengan warna apapun tidak boleh di-sweeping lagi, tidak boleh dilarang lagi, tidak boleh dikucilkan lagi. Ini sudah menjadi kesepakatan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Hidayatullah.com (9/11).
Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)
Dialog ini membawa angin segar bagi perjalanan dakwah. Hal inilah yang selalu ingin ditegakkan di kalangan umat, yaitu adanya persatuan. Ashobiyah harus dicampakkan. Ummatan wahidatan, adalah sebuah keniscayaan. Karena memang pada dasarnya hanya umat Islam yang mampu bersatu dengan ikatan yang sangat kuat hingga sulit dilepaskan. Ikatan akidah melampaui ikatan nasab.
Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. QS. Ash Shaff:4).
Persatuan umat, membuat musuh-musuh Islam ketakutan. Mereka akan selalu mencari strategi baru untuk memecah belah umat. Karena umat yang menjadi serpihan kecil, mudah untuk dikendalikan. Mudah dijajah. Seperti saat ini, terjadi di seluruh negeri. Penjajahan secara fisik dan pemikiran. Akibat umat berpaling dari ke-Islamannya.
Berbagai cara dibuat oleh musuh Islam untuk merusak ikatan. Menjauhkan umat dari akidahnya. Membuat umat lupa akan syariat Allah. Bahkan seluruh simbol-simbol Islam pun hilang dari benak umat. Sekularisme yang ditancapkan ke tubuh kaum muslim, meracuni pemikiran umat. Lupa, bahwa dulu Islam adalah sebuah negara adi daya yang sangat ditakuti. Lupa bahwa dengan syariat Allah, umat mampu mengguncang dunia.
Bendera sebagai salah satu simbol tauhid yang ada di tengah-tengah umat, adalah salah 1 hal yang terlupakan. Peristiwa pembakaran bendera tauhid, yang di awal bertujuan menghancurkan kelompok dakwah tertentu, malah berbuah manis. Dengan peristiwa itu, bendera tauhid seolah berlari kencang memperkenalkan kembali dirinya sendiri langsung ke dalam hati kaum muslim.
Hingga akhirnya seluruh umat, terutama di Indonesia, mengenal bendera Rasulullah. Dalam sekejap, bendera tauhid menancap di hati umat. Kini bukan hanya ingin memegangnya. Seluruh kaum muslim bahkan rindu ingin memilikinya. Hal seperti itu, dahulu memakan waktu yang lama untuk membawanya di tengah umat.
Kini satu persatu simbol-simbol Islam telah kembali. Sekarang bendera. Sesaat lagi, qiyadah fikriyah atau kepemimpinan berpikir Islam, akan tiba di tengah-tengah umat. Maka dengan sendirinya umat akan menanggalkan seluruh aturan kufur yang membuat hidup mereka menjadi sempit. Umat yang nantinya akan mengupayakan tegaknya syariat Allah di muka bumi.
Allah SWT berfirman:
وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَالُوْا بَلٰى ۛ شَهِدْنَا ۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ 
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 172).
Di alam ruh, sungguh kita pernah berdialog dengan Allah, bahwa kita mengakui Allah adalah Al Khalik, Al Mudabbir. Allah adalah Sang Pencipta dan Pengatur. Maka jika sekarang kita lupa dengan ke-Islaman kita. Melalaikan tauhid. Lalu meninggalkan aturanNya dan senang membuat aturan sendiri, maka sungguh kita berada dalam keadaan sesat yang amat dalam.
Oleh sebab itu diperlukan dakwah yang terus menerus. Menyadarkan umat. Membina dan mengembalikan ingatan umat yang hilang. Bahwa pada hakikatnya kaum muslim adalah umat terbaik yang pernah ada di antara manusia. Umat istimewa yang selalu menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Mengembalikan Islam, mengembalikan kemuliaan umat. Kuntum khoiru ummah, ukhrijat linnasi.

Lulu Nugroho, Muslimah Revowriter, Cirebon

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 7 =

Rekomendasi Berita