by

Mamik Laelatul Istianah, S.Pd: Menyikapi Ketatnya Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Mamik Laelatul Istianah, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Masa-masa ini, adalah masa anak-anak kelas dua belas menyiapkan diri untuk masuk PTN melalui SNMPTN, SPAN PTKIN, maupun PMDKPN. Disela-sela waktu itu pun, mereka juga menyiapkan USBN serta gongnya di UN.
Keketatan masuk perguruan tinggi negeri memberi perhatian tersendiri bagi semua kalangan, mereka seolah semakin menunjukkan prestice kampus. Keinginan untuk menjadi kampus terbaik semakin kentara. Taruhlah UNAIR, dalam sosialisasi SNMPTN & SBMPTN tanggal 11 Februari 2019 beberapa waktu lalu. Prof Moh Nasih mengungkap pihaknya akan memakai acuan nilai ranking dari hasil PDSS yang dimiliki Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Beliaupun menekankan hanya mengambil ranking terbaik di tiap sekolah berdasarkan kuota indeks sekolah. www.surya.co.id
“Ini kebijakan yang membingungkan,” kata Kurnia Agustini guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 2 Surabaya, Jumat (15/2/2019). Pasalnya kriteria murid yg diterima itu adalah murid yang memiliki ranking tinggi. Ini berbeda dengan kriteria tahun-tahun sebelumnya. Kriteria sebelum-sebelumnya yaitu kredibilitas sekolah, akreditasi, alumni, dan lain-lain. “Kalau misalnya pakai patokan itu, berarti mengesampingkan dua aturan yang dipakai secara nasional. Dan itu mendadak lho pemberitahuannya, baru Senin kemarin,” ujarnya. www.surabaya.tribunnews.com
Masuk perguruan tinggi bergengsi pasti menjadi idaman bagi setiap calon mahasiswa. Namun sebenarnya masuk pada perguruan tinggi bergengsi tidaklah menjamin mahasiswanya akan sukses, alih-alih dapat pekerjaan. Mereka semakin masuk dalam persaingan pencari kerja yang sangat ketat. Taruhlah akhir-akhir kemarin perihal lowongan CPNS 2019. Betapa ketatnya seleksi yang dilakukan. Sekalipun masih terjadi penimbunan pada kuota yang dibutuhkan.
Pada dasarnya masuk perguruan tinggi yang bonafit tidak hanya soal prestice, tetapi lebih disandarkan pada kualitas pendidikannya. Banyak yang berharap siswa-siswi nya masuk perguruan terbaik yang diidamkan. Namun terkadang harapan hanyalah tinggal harapan. Nah bagaimana menyikapi ketatnya masuk perguruan tinggi bonafit?
1. Yakinlah bahwa melanjutkan studi bukan hanya untuk prestice maupun biar mudah mencari pekerjaan. Namun, masuk perguruan tinggi adalah semata-mata mencari ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)
2. Masuk Perguruan tinggi favorit jangan ikut-ikutan. Kalau hanya ikut-ikutan sama saja kita masuk ke dalam jurang petaka. Kita tidak akan punya masa depan, kita tidak akan bisa survive. Artinya pilihan prodi dan kampus harus diperhatikan sedemikian rupa.
3. Pilihlah prodi, program pendidikan sesuai dengan passion. Namun passion saja tidak cukup, perlu elemen yang lain. Yaitu perlu memperhatikan talenta serta mental peduli terhadap orang lain. Atau istilah nya kecerdasan emosional kita perlu selalu dikembangkan.
4. Saat terjadi kegagalan pada planing pertama, jadikan itu acuan untuk segera bangkit dan segera ambil langkah pada planing ke dua dan selanjutnya.
5. Pikirkan apa yang menjadi goal setting kehidupan kalian. Karena dengan tujuan yang jelas, maka kita akan lebih terarah. Tentunya menjadi jelas bahwa Aqidah akan menjadi sandaran goal setting kehidupan kita. 
Penyikapan demikian akan menjadikan kita siap dalam memasuki era milenial sekarang ini. Dan kita tidak akan tergerus oleh arus kehidupan yang serba bebas. Wallahua’lam.[]

Penulis adalah seorang guru yang telah menulis sebuah buku  Coretan Indonesiaku

Comment

Rekomendasi Berita