by

Afika khairunnisa: Penjajahan Palestina Oleh Israel di Depan Mata, Dunia Bungkam

Afika khairunnisa
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bertahun-tahun lamanya penjajahan secara terang-terangan di lakukan oleh pemukim Yahudi di Tanah Palestina namun tak kunjung menemukan penyelesaiannya. Apa yang salah dari hukum di dunia ini? Mengapa kedamaian dunia tak kunjung datang? Bagaimana dengan konsep keadilannya?
Bahkan baru-baru ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji, dirinya akan mencaplok permukiman Israel di Tepi Barat jika menang dalam pemilihan umum (pemilu) yang diilangsungkan pada 9 April 2019. Banyak yang mengecam pernyataan dari Perdana Mentri Israel tersebut. Namun, reaksi keras ini seakan-akan tak membuat gentar para pelaku penjajahan terkejam tersebut. Betapa tidak, dunia Islam yang saat ini dalam kondisi terpuruk memang seperti makanan yang di hidangkan di atas meja hidangan. Yang dimana, kapan saja bisa di santap, di robek dan di habisi secara rakus oleh penjajah. Bahkan Israel tidak akan berhenti melanggar hukum internasional selama mendapatkan dukungan terutama dari Amerika Serikat (AS).
https://m.republika.co.id/amp/ppl0kq368?__twitter_impression=true
Israel akan terus melanggar hukum internasional selama masyarakat internasional terus memberikan penghargaan kepada Israel, terutama dengan dukungan Administrasi Trump dan dukungan pelanggaran Israel terhadap hak nasional dan hak asasi manusia rakyat Palestina.
Dunia Bungkam
Mengingat kondisi Dunia Islam yang tak lagi dalam kondisi baik-baik saja serta keterpihakan Negara Adidaya saat ini cendrung kepada para penjajah berdarah dingin, ini sangat membuktikan bahwa yang menguasai dunia saat ini bukanlah orang yang adil. Meski pemukiman Yahudi tersebut dianggap ilegal oleh hukum internasional, namun Israel terus saja membantah. Disana hidup sekitar 400 ribu warga Yahudi, dan 200 ribu lainnya di Yerussalem Timur. Di sisi lain, Palestina juga berniat mendirikan negara di Tepi Barat yang memang ditinggali sekitar 2,5 juta warga Palestina.
Pemukiman di Tepi Barat memang menjadi persoalan yang paling diperdebatkan Israel dan Palestina. Palestina beranggapan kehadiran pemukiman tersebut membuat impian Palestina untuk merdeka semakin sulit terwujud. Sedangkan Israel mengatakan alasan yang digunakan Palestina hanya alibi untuk menghindari negosiasi langsung. Israel juga beranggapan, pemukiman bukanlah hambatan yang sebenarnya terjadi. Saat menghadiri wawancara di TV Israel, Netanyahu ditanya mengenai rencana perluasan kedaulatan Israel di Tepi Barat, dia menjawab dengan tegas bahwa rencana tersebut pasti akan dia laksanakan.
Mengingat rencana para kafir penjajah yang sangat serius tersebut ternyata tak membuat para penguasa di negri-negri muslim tergugah hatinya untuk menghentikan rencana bejat tersebut. Sebab dunia Islam sekarang terbungkam dengan permainan sistem hari ini. Dunia bungkam tanda tak tau dan tanda tak mau tau. 
Mengapa Hal ini Bisa Terjadi?
Hal ini bisa terjadi karena umat Islam sekarang tak lagi memiliki Junnah (perisai) yang akan melindunginya. Semenjak runtuhnya Khilafah pada tahun 1924M umat Islam sudah tak lagi memiliki kekuatam untuk melawan kemungkaran dan kekejian yang selalu di tujukan kepada umat Islam. Ditambah lagi umat sudah lupa dengan identitas kemuslimannya sendiri akibat propaganda dan tsaqofah asing yang mulai menguasai pemikiran muslim. Sehingga banyak pemikiran para cendekiawan muslim yang sudah mengadopsi pemikiran-pemikiran liberal (bebas tanpa ada batasan). Dengan hal ini maka berhasillah kafir penjajah membuat para generasi Islam lupa dengan jati diri. Umat mulai terpecah belah, tak ada lagi Khilafah yang mampumenyatukan umat kembali, tak ada lagi sang Kholifah yang mampu mengurusi umat dengan sebaik mungkin. 
Sebagaimana dahulu pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II dipenuhi dengan berbagai macam konspirasi, intrik, dan fitnah dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah upaya-upaya sistematis yang dilakukan kaum Yahudi untuk mendapatkan tempat tinggal permanen di tanah Palestina, yang pada masa dirinya berkuasa, wilayah itu merupakan bagian dari wilayah kekhalifahan Turki Utsmani.
Sebagaimana dikisahkan dalam buku “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” karya Muhammad Harb, berbagai langkah dan strategi dilancarkan kaum Yahudi untuk menembus dinding Kesultanan Turki Utsmani, agar mereka dapat memasuki Palestina. Pertama, pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab sultan dengan tegas.
Pemerintah Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.
Kedua, Theodor Hertzl, si Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, pada 1896 memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu dijawab Sultan dengan penolakan.
“Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” tegas Sultan.
Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah Utsmaniyyah.
Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina. Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut.
Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; memberi pinjaman lima juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.
Namun, semuanya ditolak Sultan. Bahkan, Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam.”
Begituah dahulu penguasa Islam menjaga Palestina agar tidak terhinakan seperti yang terjadi pada saat ini. Sungguh hanya dengan adanya Khilafahlah Islam akan kembali mulia, dan dunia akan kembali memperoleh kedamaian. Sebab Islam adalah ajaran Rahmatan lil’alamin (Rahmat bagi seluruh alam). Sungguh kita sangat merindukan Kekhilafahan yang sesuai dengan manhaj kenabian. Saatnya umat bangkit dan sadar bahwa hanya dengan sistem Islamlah kemuliaan akan memuliaakan hak-hak kemanusiaan. Dan khilafah sesuai dengan manhaj kenabian adalah suatu kepastian kehadirannya.
تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih). Wallahu’alam bi shawwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita