by

Aisyah, S.H: Audrey 14 Tak Seindah Dilan 1991

 Aisyah, S.H
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Media sosial diramaikan dengan tagar #JusticeForAudrey. Kasus ini terkuak setelah salah satu akun Twitter membagikan sebuah thread dengan menambahkan tagar tersebut. Tagar ini menjadi viral dan menduduki peringkat nomor satu. Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar menggelar konferensi pers terkait persoalan yang tengah menjadi perbincangan khalayak ramai tentang penganiyaan yang dilakukan oleh 12 remaja dari berbagai SMA terhadap AU (14) seorang siswi SMP 17 Pontianak. Akibat penganiayaan tersebut, korban mendapat benturan di bagian kepala, luka pada wajah karena tendangan dan trauma pada bagian dada.
Kejadian ini telah berlangsung dua pekan lalu yaitu pada Jumat 29 Maret 2019 namun baru dilaporkan pada orang tuanya sepekan kemudian. Pada hari Jumat 5 April 2019 baru ada pengaduan ke Polsek Pontianak Selatan. Korban tidak melapor karena mendapat ancaman dari pelaku. Kronologi awal terjadinya pengeroyokan secara brutal dari 12 siswa SMA terhadap siswi SMP tersebut dari penjemputan yang dilakukan para pelaku terhadap korban di rumahnya. Korban dijemput dengan alasan ada yang hendak disampaikan, dengan alasan demikian korban bersedia ikut bersama pelaku. Korban dianiaya di dua lokasi yaitu di Jalan Sulawesi dan di Taman Akcaya.
Target awal pelaku bukanlah korban namun kakak sepupu korban. Permasalahan awal karena masalah lelaki, dimana lelaki tersebut adalah mantan kekasih pelaku penganiayaan ini. Di media sosial mereka saling berkomentar sehingga pelaku menjemput korban karena kesal terhadap komentar tersebut. Korban saat ini menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan trauma fisik dan psikologis.
KPPAD Kalbar menyatakan tak ingin kasus penganiayaan tersebut masuk ke ranah hukum pada Senin, 8 April 2019. Esoknya lembaga tersebut meralat pernyataannya pada Selasa, 9 April 2019 dalam konferensi persnya, Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada Kepolisian. KPPAD beralasan mengingat bahwa anak-anak ini masih dibawah umur, sama-sama memperoleh hak yang sama yaitu berhak dilindungi oleh Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014. Setelah dilaporkan ke pihak Kepolisian, langsung dilaksanakan proses mediasi namun tidak ada itikad baik dari para pelaku seperti meminta maaf. Bahkan viral dan beredar foto-foto swagaya para pelaku yang cengengesan selama berada di kantor Kepolisian.
Kasus Audrey adalah tamparan keras untuk kita semua. Mengapa perempuan yang lekat dengan sifat lemah lembut dan kasih sayang mampu tampil brutal tanpa penyesalan setelah melakukan penganiayaan layaknya gerombolan iblis betina. Di usia remaja mereka tidak hadir sebagai generasi yang sedang berjuang untuk meneruskan estafet bangsa yang sedang carut marut. Mereka bahkan telah gagal merintis diri sebagai pribadi yang layak diapresiasi. Inilah salah satu icon generasi sampah yang dihasilkan sekularisme yang diterapkan di negara ini.
Basis pendidikan sekular yang membonsai agama sebagai pilar terpenting dan terkokoh dalam penanaman pendidikan menghantarkan generasi yang tumbuh dan belajar hanya untuk mengejar materi dan kesenangan jasadiah. Akrab dengan kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, penyakit menular seksual, aborsi, tawuran, narkoba, bunuh diri, hedonis dan individualis. Tak cukup itu, bahkan kriminalitas telah demikian dekat dengan remaja, tak sedikit ditemukan kasus mereka terlibat prostitusi, memperkosa, membegal, merampok bahkan membunuh. 
Data UNICEF tahun 2016 menunjukkan bahwa kekerasan pada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen. Angka Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) semakin mengkhawatirkan. Baik dari segi angka maupun kualitas perbuatan. Jumlahnya terus meningkat, perbuatannya kejam, dan modusnya menyerupai orang dewasa. Tingginya angka kriminalitas yang melibatkan ABH terlihat dari data Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya. Lembaga di bawah Kementerian Hukum dan HAM itulah yang selama ini melakukan assessment terhadap anak-anak yang terjerat kasus pidana. Selama 2017 tercatat ada 365 anak yang berhadapan dengan hukum. Terdapat lonjakan yang signifikan dibandingkan tahun 2016 dimana terdapat 291 anak tersangkut kasus pidana. 
Apakah fenomena ini hanya terjadi di negeri kita ? tentu saja tidak. Seluruh dunia yang saat ini berkiblat pada sekulerisme mengalami hal yang sama. Pun menimpa Amerika yang menganggap dirinya sebagai negara teladan di planet ini. Amerika menghadapi sebuah dekadensi atau bahkan mengarah pada kehancuran tata nilai dan moral yang menggerogoti sendi-sendi dasar kehidupan masyarakat Amerika layaknya sebuah kanker. Amerika dan dunia Barat pada umumnya telah mengembangkan sejumlah piranti untuk menahan lajunya kehancuran melalui sejumlah nilai yang dipaksakan untuk di ekspor ke seluruh dunia yaitu sekularisme kapitalis beserta seluruh ide derivat dan turunannya. Di negara kita telah mewujud salah satunya melalui Undang-undang  Perlindungan Anak yang saat ini justru menjadi pintu pelindung bagi pelaku penyerang Audrey untuk bernapas lega, setidaknya status mereka sebagai anak dibawah umur akan meringankan sanksi yang diterima. 
Sebelumnya sistem Hukum Pidana Indonesia dianggap memasuki babak baru dalam perkembangannya. Salah satu bentuk pembaharuan yang ada dalam Hukum Pidana Indonesia adalah pengaturan tentang hukum pidana dalam perspektif dan pencapaian keadilan kepada perbaikan maupun pemulihan keadaan setelah peristiwa dan proses peradilan pidana yang dikenal dengan keadilan restoratif (restoratif justice) yang berbeda dengan keadilan retributif (menekankan keadilan pada pembalasan) dan keadilan restitutif (menekankan keadilan pada ganti rugi). 
Sesuai dengan ketentuan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, kemudian juga dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak dan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang kesemuanya mengemukakan prinsip-prinsip umum perlindungan anak, yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang dan menghargai partisipasi anak.
Rangkaian undang-undang  yang beraroma liberal tersebut terbukti gagal mengatasi kerusakan, justru semakin menumbuh suburkan kerusakan lainnya. Faktanya mengatasi kerusakan dan dekadensi moral memang  jauh lebih sulit dari sekedar melengserkan kekuasaan sebuah partai politik, karena kerusakan itu becokol didalam pemikiran masyarakat. Dari sisi penegakan hukum pun tak kalah mirisnya, ketika keadilan menjadi barang yang sangat mahal bagi masyarakat. Tumpang tindih perundangan hanya mengisi forum-forum debat  sedangkan keadilan nyaris menjadi sebuah mitos saja.
Telah lama ditanamkan kedalam benak kita tentang teori masa remaja. Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Masa remaja adalah peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa (Monks 2002). Sedangkan Santrock (2003) mengungkapkan bahwa remaja (adolescence) sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Batasan usia remaja antara 12 hingga 21 tahun. Didalam masa itu manusia sedang berproses menuju kehidupan sosial, sehingga dianggap wajar jika mereka melakukan sejumlah tindakan yang melangar norma sebagai pembenaran dalam upaya mencari jati dirinya. Pembenaran itulah simpul kenakalan remaja yang berujung pada kriminalitas remaja dan berhadapan dengan hukum. 
Islam tidak mengenal teori masa remaja. Hanya ada fase anak dan dewasa, yang dibatasi oleh masa baligh. Baligh adalah penanda beralihnya masa anak-anak yang  nihil hisab ke masa dewasa yang telah siap dibebankan padanya hukum-hukum Syariah, seluruh amal perbuatannya dihisab Allah. Dengan penetapan ini tidak akan ada kebingungan dalam hal penetapan sanksi, meski ia masih berumur belasan tahun, ketika ia telah baligh maka sanksi berlaku padanya. 
Penyiapan generasi Islam dimulai dari Pemilihan pasangan hidup, membekali dengan menanamkan nilai Illahiah sejak dalam kandungan,  mencelup masa kanak-kanak dengan pemikiran Islam, menyiapkan mereka untuk siap mengemban hukum ketika tanda baligh hadir. Diusia belasan mereka telah berdiri tegak menatap dunia, memberikan kontribusi terbaik untuk kemashlahatan umat dan menjadi teladan berabad-abad bagi generasi sesudahnya. Nama mereka dicatat dengan tinta emas, dikenang dengan sejuta harapan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk meraih kembali kebangkitan Islam.
Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyahyang mantap, kehidupan pemuda di era khilafah jauh dari aktivitas pacaran, narkoba, dan aktivitas rusak lainnya. Ketika mereka menemukan kendala dalam hidupnya maka Allah menjadi sasaran tujuannya. Mereka memiliki keyakinan yang luar biasa kepada Allah. Setiap masalah mereka pecahkan dengan penyelesaian Islam. Merekapun mendapatkan ketenangan yang luar biasa, senantiasa menjalani hidup dengan optimis dan berbaik sangka kepada Allah, baik masalah rizki, jodoh, qadha` dan qadar bahkan ajal sekalipun.
Kehidupan laki-laki dan perempuanpun terpisah. Tidak ada khlawat, ikhtilath, menarik perhatian lawan jenis dengan tabaruj, apalagi pacaran hingga perzinaan. Semua pintu menuju perzinaan ditutup dan di jaga bersama melalui ketakwaan individu, kontrol sosial dan penjagaan oleh negara melalui penerapan sistem Islam secara praktis. Kehidupan sosial yang dijalani benar-benar bersih dan terjaga. Kehormatan laki-laki dan perempuan serta kesucian hati merekapun terjaga dengan baik. 
Karena kehidupan mereka seperti itu, maka produktivitas generasi muda di era khilafah ini pun luar biasa. Banyak karya ilmiah yang mereka hasilkan saat usia mereka masih muda. Begitu juga riset dan penemuan juga bisa mereka hasilkan ketika usia mereka masih sangat belia. Semuanya itu merupakan dampak dari kondusivitas kehidupan masyarakat di zamannya.
Ada ungkapan bijak, “Jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, pasti sibuk dalam kebatilan.” Karena itu, selain kehidupan masyarakat yang bersih, berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukkan masyarakat dalam kebatilan harus dihentikan. Termasuk tidak bijak dan jauh dari kebaikan ketika pejabat negara mempromosikan tayangan seumpama film Dilan dan berbagai genre tayangan sejenis lainnya. Tayangan seperti ini justru menambah referensi para pemuda yang menyiakan-nyiakan masa mudanya. Bukan tidak mungkin tayangan-tayangan seperti inilah yang menginspirasi para pelaku dalam kasus Audrey. Audrey (14) tak seindah Dilan 1991. Audrey harus berjuang untuk menyembuhkan dirinya dan mendapat keadilan. Hanya saja, ini merupakan hal yang tidak mudah yang tentu akan berbeda jika sistem Islam diterapkan. Sanksi Islam akan membungkam kesombongan pelaku, memberikan efek jera tidak hanya bagi para pelaku tetapi bagi siapa saja yang berani  menganiaya orang lain.[]

Penulis adalah salah seorang ASN Aceh

Comment

Rekomendasi Berita