by

Mangir Windi Antika: Ada Apa Dengan Bumi,Tempat Kita Berpijak?

 Mangir Windi Antika

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sedih, pedih, dan perih. Mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka dan nestapa akibat musibah demi musibah telah melanda berbagai daerah di tanah air. Gempa bumi kembali terjadi di Indonesia, belum usai duka Lombok yang menelan banyak korban beserta harta benda. Muncul bencana baru yang lebih dahsyat terjadi di Sulawesi Tengah. Gempa bumi bermagnitudo 7,4 skala Richter terjadi pada Jumat 28 September 2018 pukul 18.02 WITA. 
Saat itu tanah yang mereka injak tiba-tiba berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan bangunan-bangunan ambruk. Lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan. Namun, jumlah pasti korban meninggal dunia amat mungkin tidak akan diketahui mengingat sejumlah daerah permukiman tersapu tsunami dan likuifaksi sehingga mengubur banyak orang. (www.bbc.com 12/10/2018) 
Belum berakhir duka Palu yang membawa pilu, muncul tsunami Banten yang juga memakan banyak korban. Kali ini lebih dari 200 orang meninggal, ratusan terluka, ratusan lainnya lagi hilang. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho angkat bicara terkait bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 21.27 WIB. Sutopo Purwo Nugroho dalam press relase membenarkan bahwa bencana yang melanda wilayah pantai di Selat Sunda merupakan tsunami. Tsunami tersebut bukan akibat gempa bumi, melainkan adanya aktivitas tektonik. Tsunami dimungkinkan akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau. (Bangkapos.com 23/12/2019) 
Selain bencana baru yang bermuculan, adapula banjir langanan yang kerap kali melanda ibu kota negeri ini. Sebab, persoalan banjir di Jakarta hingga saat ini tak kunjung usai. Selain Jakarta, banjir juga melanda sebagian wilayah kota Makassar pada Senin, 21 Januari 2019 malam hingga Selasa yang membuat sebagian warga mengungsi. Selain banjir, tanah longsor juga kerap kali terjadi di berbagai wilayah negeri ini. Hujan deras juga mengguyur Maluku Utara pada Minggu 27 Januari 2019 menyebabkan terjadinya tanah longsor di Kecamatan Loloda, Halmahera Barat. Rumah 21 kepala keluarga (KK) dilaporkan mengalami kerusakan bervariasi. Meski tak ada korban jiwa, ratusan warga sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman. (news.malutpost.com 31/01/2019) 
Dari rentetan bencana yang terjadi di negeri tercinta ini yang tiada habisnya menelan korban dan harta benda, pernahkan terbesit dalam benak kita tentang mengapa bencana alam melanda bumi tempat kita perpijak? apakah alam semesta sedang marah? Jika iya. Marah kepada siapa? apakah kepada hewan dibumi yang tidak memiliki akal? ataukah kepada tumbuhan yang tangan saja tidak punya apalagi akal? 
Dalam undang-undang no 27 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dijelaskan bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, biologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor nonalam, maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional. 
Secara geografis, Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang berada di titik pertemuan antara 3 lempeng bumi yaitu lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Gempa bumi yang disebabkan oleh lempeng bumi terjadi jika lempeng ini bergeser, pecah, atau bahkan mencuat ke atas. Selain gempa, adanya tumbukan lempeng juga bisa menyebabkan tsunami setelah gempa. Beberapa daerah di Indonesia yang rawan gempa dan tsunami meliputi Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Banten, Bali, Jawa Timur bagian selatan, daerah Fak-Fak dan Yapen di wilayah Papua, dan masih banyak lagi. (kaltim.tribunnews.com 11/10/2018) 
Selain itu, Indonesia juga berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire dan Alpine Belt atau Sabuk Alpine adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah yang sering mengalami letusan gunung berapi aktif dan gempa bumi. Negara kita ini memimiliki gunung berapi, jumlahnya sekitar 140 gunung yang aktif. Sebuah gunung yang masih aktif akan mengeluarkan magma, baik dalam letusan besar maupun ringan. Daerah gunung berapi rentan terhadap gempa bumi tergantung pada besar letusannya.(kaltim.tribunnews.com 11/10/2018). Iklim negara kita yang tropis juga menyebabkan banyak tanah yang tidak stabil. Iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi dapat menyebabkan longsor. (www.pemburuombak.com
Secara umum musibah ada dua macam. Pertama musibah karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunatullah atau merupakan qadha (ketentuan) dari Allah SWT yang tak mungkin ditolak sebagai ujian bagi manusia. Misalnya gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lain-lain. Kedua musibah yang merupakan akibat dari berbagai maksiat manusia dan pelanggaran manusia terhadap syariah Allah. Dalam hal ini Allah berfirman: 
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS Ar-Rum [30]: 41) 
Musibah banjir, misalnya bisa dikarenakan banyak manusia melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Salah satunya pengundulan hutan dengan cara semena-mena tanpa dilakukan reboisasi atau eksploitasi alam. Hewan yang tidak dibekali akal oleh Allah, tidak pernah terjadi jantan suka dengan jantan atau betina suka dengan betina. Tapi manusia yang diberi akal oleh Allah malah melakukannya bahkan membentuk kelompok LGBT dan bertebaran di bumi Allah. Maraknya perzinaan, LGBT, riba yang dilakukan oleh rakyat maupun penguasa dan lain-lain, boleh jadi menjadi penyebab datanganya azab Allah SWT atas negeri ini. Sebagaimana sabda Nabi SAW: 
“Jika zina dan riba telah marajela disuatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak 2/42) 
Bencana memang bukanlah suatu hal yang dirindukan kehadirannya oleh manusia. Akan tetapi bencana pun sebenarnya tak merindukan manusia. Jadi siapa yang mengundang bencana? 
Benar adanya bencana disebabkan oleh faktor alam, tapi masih ingatkah kita bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada sang pencipta dan pengatur yaitu Allah. Tumbukan lempeng atau pergeseran lempeng tidak akan pernah terjadi tanpa kuasa Allah. Semua bencana ini terjadi atas kehendak Allah. Maka tugas kita dalam melihat kemaksiatan yang semakin menjadi jadi di negeri tercinta ini adalah intropeksi diri, saling menasihati dan menegakkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, sebagai wujud menerapkan seluruh isi Al-Quran. Sebab yang terkena dampak akibat bencana tidak hanya yang maksiat, yang beriman dan taat kepada Allah pun terkena dampaknya.[]

Penulis adalah Mahasiswi Universitas Khairun, Ternate, Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan semester 8

Comment

Rekomendasi Berita