by

Maritim Ala Jokowi -JK Berimplikasi Kepercayaan Investasi Dunia Internasional Meningkat.

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perjalanan sejarah bangsa Indonesia pernah mengalami kejayaan di bidang maritim, yakni Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai bukti kejayaan Nusantara dalam menguasai maritim, dimana ke-2 kerajaan tersebut berhasil kuasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara.
Supiandi, kandidat PhD bidang ekonomi maritim dari Universitas Untwerpen Belgium mengemukakan,”Dalam Nawacita pemerintahan Jokowi-Jk, isu kemaritiman salah satu fokus kebijakan dikerjakan secara serius. Setelah berjalan 3 tahun sektor kemaritiman memiliki dampak yang besar terhadap perekonomian nasional,” demikian kemukanya pada saat diskusi “Potret Kemaritiman Ala Jokowi -Jk”. Yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK) di bilangan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (7/5).
Adapun saat diskusi nampak hadir dalam diskusi tadi, Husni Mubarok dari Pemerhati Kemaritiman PB NU, dan Bahtera Banong dari KAHMIPRENEUR.
Selanjutnya, Supandi mengatakan, sebagai contoh permisalannya saja, salah satu kebijakan maritim populer adalah kebijakan tol laut, secara umum program tol laut mampu menurunkan disparitas harga, mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia bagian Timur dan mewujudkan kedaulatan bangsa,” bebernya.
Berdasarkan data dari PT Pelindo IV, di Wamena harga semen yang semula Rp 500 ribu per sak turun 40 persen menjadi Rp 300 ribu. Di Puncak Jaya harga semen dulunya seharga Rp 2,5 juta turun 28% menjadi Rp 1,8 juta, sedang di Nabire harga semen dahulu Rp 85 ribu turun jadi Rp 75 ribu. 
Ditambah, sambungnya bidang penegakkan kedaulatan maritim, hingga akhir tahun 2017 sudah 317 armada kapal pencuri ikan ditenggelamkan.
“Kebijakan berimplikasi pada meningkatnya jumlah produksi ikan signifikan, tercatat dari tahun 2014 hanya 20,84 juta ton meningkat menjadi 23,26 juta ton pada 2017,” imbuhnya.
“Peningkatan produksi itu salah satunya dipicu bertambahnya jumlah kapal perikanan, pemerintah telah memberikan bantuan kapal perikanan sebanyak 755 unit,” ulasnya.
Di bidang pelabuhan, pemerintah terus fokus membenahi fasilitas kepelabuhanan dengan dukungan teknologi dan sistem manajemen lebih baik, ‘dwelling time’ pelabuhan di Indonesia turun menjadi 3 hari.”Semulanya butuhkan waktu sampai satu minggu. Dalam hal ini berimplikasi meningkatnya kepercayaan dunia Internasional pada Indonesia sebagai negara mitra investasi,” tukasnya.
Supandi menyampaikan bahwa guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi bersumber dari sektor maritim, Pemerintah melakukan beberapa hal seperti :
(1) meningkatkan sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah, sampai saat ini daerah yang menjadi tujuan tol laut belum optimal dalam memanfaatkan tol laut (muatan balik hanya di angka 20%). 
(2) Perbaikan infrastruktur pelabuhan yang dilayani jalur tol laut, sampai saat ini masih ada pelabuhan yang belum memiliki alat bongkar muat yang memadai.  
(3) Terkait dengan galangan kapal, pemerintah perlu membangun galangan kapal di Indonesia bagian timur, karena mayoritas industri galangan kapal saat ini berada di Indonesia bagian barat, padahal 90% kapal tol laut beroperasi di Indonesia bagian Timur.
(4) Untuk meningkatkan efisiensi, pemerintah perlu mengkaji kembali rute yang di lalui oleh tol laut saat ini (opsi pembukaan rute baru) 
(5) dan yang terakhir, perlu peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor maritim melalui penyegaran dan mendesain kembali kurikulum SMK dan Politeknik Kelautan yang berorientasi pada kebutuhan industri maritime, penyediaan beasiswa dan dana riset sektor maritim.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =

Rekomendasi Berita