by

Markas Besar TNI Bantah Isu Keberpihakan TNI kepada Makar

Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Kivlan Zein.[Foto/ant]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Penangkapan Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Kivlan Zein, atas dugaan
makar kepada kepala negara, berbuntut. Markas Besar TNI secara tegas
membantah tentang isu keberpihakan TNI dalam aksi dugaan makar itu.

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Wuryanto, dalam
keterangannya di Jakarta, Selasa, menyatakan, “Ini sangat provokatif dan
meresahkan masyarakat Indonesia. Kami tegaskan bahwa berita tersebut
tidak benar atau hoax.” 

Yang dia komentari adalah peredaran video dari Dragon TV berjudul Perwira Tinggi TNI AD Marah Atas Penangkapan Kivlan Zein, di media sosial yang diunggah Minggu (4/12).

Menurut wuryanto, peredaran video berdurasi 3 menit 30 detik yang
diunggah di YouTube, Dragon TV itu perlu ditelusuri, mengingat saluran
itu tidak menginduk pada Dragon TV di China.

“Pemberitaan itu sepihak dan belum ada konfirmasi kepada pejabat yang berwenang di TNI, khususnya TNI AD,” tuturnya.

Jenderal bintang dua ini menjelaskan, Zein dan Brigadir Jenderal
TNI (Purnawirawan) Adityawarman Thaha, merupakan pensiunan TNI, dan saat
ini statusnya sebagai warga sipil biasa.

“Perlakuan terhadap kedua purnawirawan itu pada hakikatnya sama
dengan warga negara sipil lain, sehingga penangkapan dilakukan
Kepolisian Indonesia itu sudah benar. Sebelum penangkapan, Kepolisian
Indonesia selalu koordinasi dan komunikasi serta saling tukar-menukar
informasi dengan TNI. Pada prinsipnya, TNI mendukung apa yang dilakukan
Kepolisian Indonesia,” papar Wuryanto.

Dalam pemberitaan itu disebutkan, sudah terjadi ketersinggungan
dari perwira tinggi dan menengah TNI atas penangkapan Zein, di rumah
pribadinya, pada Jumat (2/12), sebagaimana dipublikasikan menurut
persepsi Dragon TV.

Penangkapan sesepuh TNI AD ini, dianggap telah menuduh keperpihakan
TNI AD pada rakyat memiliki tujuan makar pada pemerintah.

“Narasi
dalam video itu secara sengaja diunggah untuk menggiring persepsi
masyarakat dengan tujuan membenturkan institusi TNI dan Kepolisian
Indonesia serta lembaga kepresidenan, sekali lagi TNI menegaskan, bahwa
isu berita itu tidak benar atau hoax, hal ini sangat berbahaya karena ada upaya mengadu-domba antara TNI-Polri dan masyarakat lainnya,” kata Wuryanto.

Menanggapi penangkapan dua purnawirawan jenderal TNI yang
seolah-olah mengingatkan peristiwa kelam G30S/PKI, dimana para jenderal
diculik setelah difitnah mendirikan “Dewan Jenderal”, yang akan
melengserkan Presiden Soekarno dalam video itu, kata Wuryanto,
konteksnya sangat jauh berbeda, di mana pada peristiwa G30S/PKI, PKI-lah
yang menculik para jenderal TNI AD dan menjadi pelaku makar.

“Sedangkan penangkapan kedua purnawirawan tersebut, dilakukan
institusi yang sah dan tentu dengan alasan yang kuat sesuai peraturan
perundangan yang berlaku,” jelas dia.

Peristiwa sejarah tentang
upaya makar kepada negara dapat dilakukan oleh siapapun termasuk oknum
TNI, sebagai contoh di antaranya Kolonel Maludin Simbolon pada
pemberontakan PRRI, di Padang, Letnan Kolonel Untung Sutopo, dalam
G30S/PKI di Madiun, Letnan Kolonel Abdul Kahar Muzakkar pada peristiwa
DI/TII di Sulawesi dan Letnan Dua Ibnu Hadjar pada peristiwa DI/TII di
Kalimantan.

Mencermati pemberitaan dan peristiwa sejarah kelam
bangsa Indonesia, dia mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada
dan selektif lagi dalam memilah dan memilih informasi yang disebarkan
oleh oknum yang tidak bertangggung jawab, melalui media massa, khususnya
media sosial. [Ade Marboen/ant]

Comment

Rekomendasi Berita