by

Mati itu Pasti, Kemanakah Tujuan Akhirat Nanti?

-Opini-56 views

 

 

Oleh : Asma Ridha, Pegiat Literasi Aceh Barat

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Kabar kematian tak pernah ada usainya. Saat ini, kisah dua anak manusia sepasang suami istri menjadi buah bibir jagad raya. Bagaimana tidak, betapa banyak jejak-jejak seakan maut itu memanglah akan menyapanya.

Meninggalkan si buah hati seorang diri, tentulah bukan menjadi impian apalagi cita-cita. Namun, ketika takdir telah ditetapkan. Sungguh manusia lemah tidakkan pernah bisa mengelaknya.

Kabar duka ini tidaklah hanya dari kalangan selebriti. Bahkan tetangga, sahabat dan kerabat yang telah Allah SWT panggil terlebih dahulu begitu banyak hikmah yang telah Allah berikan bagi kita yang masih Allah beri umur.

Maka sungguh, bukanlah sakit menjadi sebab datangnya maut dan bukan pula usia senja penyebab utamanya. Akan tetapi, ketika Allah telah menetapkan batas waktu yang tak pernah kita tahu, saat itu pula dan bagaimanapun kondisinya apakah sehat, sedang bahagia, ataupun berduka maka tak bisa dielakkan sama sekali. Siap atau tidak, kematian itu pasti adanya. Sebagaimana Allah SWT berfirman ;

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٍ (26) وَّيَبۡقٰى وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو الۡجَلٰلِ وَالۡاِكۡرَامِ‌ۚ (27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26), tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal (27).” (QS : Ar-Rahman)

Yah, dalam rentang waktu berturut-turut kabar duka silih berganti kita dapati. Kabar duka yang tragis, Fitriani (45) dugaan korban perampokan yang ditemukan tewas pada Kamis (4/11/2021) malam di kediamannya Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat.

Ternyata sebelum dirampok, korban lebih dulu dibunuh dengan hantaman batu koral di kepalanya hingga hancur (ajnn.com, 5/11/21).

Mulai dari sebab lakalantas, tindakan pembunuhan, atau bahkan ada yang sedang tidur, bernyanyi, dan lainnya itu hanya perantara saja. Namun sebab utamanya adalah ketentuan yang telah Allah tetapkan batas akhir kehidupan anak manusia ini.

Sungguh takjub, ada yang menjemput maut dalam sujud, dalam dakwah dan bahkan dalam keadaan jihad seperti saudara kita di Palestina. Sekali lagi, inilah kematian yang sifatnya pasti. Berdoalah agar kematian yang kita alami dalam keadaan Husnul khatimah.

Ungkapan Imam An-Nawawi berikut ini semoga menjadi pemecut diri di saat lengah, lalai dari ketaatan pada Ilahi Rabbi :

“Sungguh di antara sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu. Di anatara sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan menjadi kesibukanmu. Diantara sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian menjadi pelajaran bagimu”

Dunia ini tempat sementara, maka sepatutnya Allah SWT menyuruh kita untuk menjalankan roda kehidupan ini tidak lepas dari aturan-Nya. Mulai dari bangun tidur hingga bernegara, agar kelak di akhirat Allah SWT berikan tempat yang layak bersama bidadari dan bjdadara surga.

Dunia ini tempatnya berlelah-lelah, saat maut tiba, di sanalah istirahatnya. Maka wajar pula Rasulullah Saw memberikan peringatan pada umat muslim khususnya :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392).

Di sisa usia yang kita tidak tahu sampai kapan ini, manfaatkan kesempatan sebelum Allah SWT panggil untuk selamanya. Karena kehidupan di dunia ini, mau tidak mau adalah bekal menuju akhirat selamanya. Jangan menunda-nunda setiap amalan,apalagi taubat kepada Tuhan.

Bisa jadi dan pasti terjadi hari ini, atau esok maut itu benar-benar datang. Hakikatnya, manusia tidak bisa menentukan dari rahim siapa ia dilahirkan, namun kita punya pilihan ingin menjemput kematian bagaimana saat maut itu datang. Kematian Husnul khatimah ataukah suul khatimah?Wallahu A’lambishhawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita